Edisi 30-06-2016
Prostitusi di Dolly-Jarak Masih Berlangsung


SURABAYA – Pemkot Surabaya sah-sah saja mengklaim berhasil menutup Lokalisasi Dolly dan Jarak.

Namun, sejak penutupan per 18 Juni 2014, ternyata hingga kini masih ada praktik transaksional seks secara sembunyi-sembunyi. Fakta ini diakui Kepala Satpol PP Surabaya Irvan Widyanto. ”Praktik prostitusi masih ada dan sembunyi-sembunyi.

Razia terus kami lakukan secara terbuka dan tertutup,” kata Irvan kemarin. Menurut dia, razia terbuka dilakukan pihak Kecamatan Sawahan yang membawahi wilayah Dolly serta Jarak. ”Razia tertutup dilakukan Satpol PP Pemkot, Reskrim, dan PPA (Unit Perlindungan Perempuan dan Anak) Polrestabes,” sambungnya.

Pekerja seks komersial (PSK) maupun lelaki hidung belang langsung diproses hukum. Tidak disidangkan dalam kasus tindak pidana ringan (tipiring), tapi tindak pidana murni.

Hal ini diatur dalam Perda 7/1999 tentang Larangan Menggunakan Bangunan atau Tempat untuk Perbuatan Asusila serta Pemikatan untuk Melakukan Perbuatan Asusila di Surabaya.

Menurut Irvan, setiap pasangan yang tertangkap selalu dipidanakan. ”Khusus PSK yang masih menetap, mereka memiliki surat keterangan tinggal sementara (SKTS).

Di sisi lain, masih ada rumah yang statusnya dikontrak,” paparnya. Pemkot tidak bisa mengusir karena masa kontrak bangunan belum habis.

Soal tertangkapnya dua PSK yang masih beroperasi di Dolly oleh Unit PPA Polrestabes Surabaya saat melayani pria hidung belang pada bulan Ramadan, Jumat (24/6) lalu, Irvan juga meminta Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) tidak mudah memberikan SKTS.

Menurut Irvan, seharusnya untuk menerbitkan SKTS ini salah satunya harus memiliki pekerjaan yang jelas. Selain itu, pemilik rumah yang disinggahi kaum urban ini juga harus memberikan jaminan.

”SKTS jangan sembarangan dikeluarkan. Kalau asal mengeluarkan, imbasnya seperti di Dolly. Seharusnya kalau betul-betul tidak memiliki pekerjaan yang jelas jangan dikasih,” tandas Irvan. Dia mengkhawatirkan dengan tingginya kaum urban di Kota Surabaya, jika tidak memiliki jaminan pekerjaan justru akan menjadi beban kota.

Menurutnya, di Kota Surabaya persaingan dunia kerja sangatlah ketat. ”Mereka (PSK) ini kan bertransformasi dengan keadaan sehingga kucing-kucingan dengan petugas.

Seharusnya kalau tidak memiliki pekerjaan jelas seperti ini diarahkan ke Dinsos,” ucapnya. Irvan memastikan, dengan rutinnya menggelar yustisi kependudukan di kos-kosan, apartemen, ruko, serta rumah kontrakan ini bisa mendapatkan data kaum urban.

”Karena itu, dengan yustisi ini, kita harus memperoleh data-data yang jelas. Nah , di situ kita akan bisa memetakan sosial ekonominya, mengingat yustisi adalah fungsi kontrol kaum urban karena tren ini naik terus,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Bidang Perencanaan, Pengendalian, dan Perkembangan Penduduk Dispendukcapil Kota Surabaya Arief Boedianto menyebutkan, syarat mengurus SKTS adalah membawa KTP elektronik, surat pernyataan mengenai jaminan tempat tinggal dari keluarga yang akan ditumpangi, dan diketahui RT dan RW setempat.

Selain itu, ada surat pernyataan keterangan jaminan pekerjaan atau belajar. Setelah itu, pemohon akan mengisi formulir di kelurahan dan petugas akan melakukan verifikasi dan validasi data yang nantinya diarahkan ke kecamatan. ”Camat inilah yang akan menandatangani dan menerbitkan SKTS.

Nah , kami juga harus selektif, apalagi menjelang Lebaran itu biasanya mereka mencari kerjaan yang instan. Mengurus SKTS juga tidak sulit kok ,” papar Arief.

Mantan Kasatpol PP Kota Surabaya ini menegaskan, warga tidak tetap yang tidak memiliki SKTS diancam dengan kurungan selama tiga bulan dan denda maksimal Rp50 juta.

Ini mengacu pada Perda Pasal 9. ”Namun, ini semua tergantung Pak Hakim yang memimpin sidang tersebut,” ujarnya.

Kepala Dispendukcapil Kota Surabaya Suharto Wardoyo menambahkan, untuk mendapatkan SKTS harus memiliki KTP elektronik (e-KTP).

” Ini juga bisa secara online . Kalau tidak memiliki e-KTP, mereka (kaum urban) harus mengurusnya dulu di daerah asalnya karena sekarang sudah zamannya e- KTP,” tandasnya.

soperayitno

Berita Lainnya...