Edisi 30-06-2016
Bank Sampah Picu Gangguan Kesehatan


YOGYAKARTA– Program pemberdayaan masyarakat dengan 3R (reuse, reduce, dan recycle) sampah di Kota Yogyakarta hingga kini masih belum memberlakukan prinsip kesehatan masyarakat.

Hal ini tampak dari program Bank Sampah karena pengelolanya justru berisiko lebih tinggi terjangkit penyakit. “Ternyata dari hasil penelitian kami terhadap sampai di Kota Yogyakarta, program yang diluncurkan baru sebatas teknik pengelolaan sampah.

Program tersebut belum berwawasan kesehatan masyarakat karena selama ini belum ada perhatian ke arah sana,” kata Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Surahma Asti Mulasari SSi, MKes, kepada wartawan, kemarin.

Menurut Rahma, banyak bahaya dan faktor risiko bisa mengancam masyarakat yang diberdayakan dalam program 3R dari sisi kesehatan. Tak hanya gangguan kenyamanan lingkungan tempat tinggal, penyakit menular akibat sampah menjadi semakin mudah terjadi.

“Dari hasil penelitian kami, vektor penyakit, seperti lalat, tikus, dam kecoa, menjadi banyak di tempat pengelolaan ataupun pemilahan sampah. Padahal dari pengamatan kami, lokasi tempat pengolahan atau pemilahan biasanya berada dekat rumah.

Jika begitu, tentu penyakit, seperti diare, cacingan, ISPA, mata, dan iritasi kulit lebih mudah terjadi,” kata Rahma. Penelitian dilakukan Rahma di Kelurahan Bener, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta.

Lokasi penelitian ditetapkan atas saran dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta karena program Bank Sampah di lokasi itu yang bisa dikatakan baik dan masih bertahan sampai saat ini.

Terkait dengan semakin berisikonya masyarakat pengelola sampah mengalami masalah kesehatan, Rahma pun menegaskan, jika masyarakat seharusnya lebih berdaya tersebut justru mengalami kerugian.

Bahkan, dia memperkirakan tiap keluarga yang aktif mengelola sampah bisa merugi hingga Rp3 juta. “Biaya tersebut kami hitung dengan memperkirakan biaya pengobatan anggota keluarga yang sakit, ganti rugi kenyamanan lingkungan, dan potensi peningkatan tanah,” kata Rahma.

Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Rosydah SE, MKes juga mengatakan, selama ini FKM UAD terus mengadvokasi masyarakat dalam hal pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Karena ternyata jumlah masyarakat Yogyakarta yang menjalankan PHBS masih rendah. “PHBS ini harus didorong dan disosialisasikan terus agar generasi Indonesia semakin baik kesehatannya,” kata Rosydah.

ratih keswara

Berita Lainnya...