Edisi 30-06-2016
Dibutuhkan Kecepatan dan Fokus


Profesi yang dilakoni Nur Sahid, 38, warga Dongkelan, Sewon, tergolong unik.

Bapak satu anak itu mencari penghasilan dengan menjadi fotografer dan selalu mendatangi acara-acara kedinasan seperti kunjungan kerja (kunker) DPRD. Namun, pekerjaan yang dilakoni Nur Sahid berisiko karena bekerja tanpa ada pesanan sebelumnya.

Tak jarang tiap foto yang dia ambil dan sudah dicetak hanya menjadi tumpukan di rumah karena tidak dibeli. Nur Sahid yang biasa datang ke DPRD Bantul itu dalam bekerja tak sendiri. Setidaknya ada dua orang teman seprofesi yang selalu mengejar acara kunjungan kedinasan seperti dirinya.

Cara kerja mereka, begitu para anggota dewan yang melakukan kunker berjalan untuk masuk ke Gedung DPRD Bantul, Nur Sahid dan temannya yang sebelumnya bersiap dengan kamera DSLR langsung membidik kamera ke tiap wakil rakyat itu.

Mereka harus bergerak cepat agar banyak yang bisa terbidik, di sisi lain mereka juga dituntut bisa fokus. Kemudian begitu para wakil rakyat itu melakukan pertemuan di dalam, Nur Sahid berbagi tugas dengan temannya, yaitu satu orang pergi mencetak foto dan seorang lainnya berjaga di DPRD Bantul.

Waktu mereka pun tak banyak. Nur Sahid mengatakan, biasanya pertemuan wakil rakyat itu hanya sekitar setengah sampai satu jam. “Kami harus bergerak cepat begitu wakil rakyat itu keluar, foto sudah harus siap untuk kami tawarkan kepada orang yang ada difoto,” katanya ditemui di DPRD Bantul. Untuk tiap foto ditawarkan antara Rp15.000-20.000. Karena tak ada pesanan, untuk mendapat hasil tentu mereka harus pintar menawarkan. Namun, yang terjadi kemarin di luar perkiraan.

Saat rombongan wakil rakyat yang melakukan kunker keluar dari ruang pertemuan, teman Nur Sahid yang bertugas mencetak foto belum datang. Begitu datang, sebagian besar wakil rakyat itu pun sudah pergi. Alhasil banyak foto tak terjual.

Menurut Nur Sahid, sebelum terjun menjadi juru foto seperti yang telah dilakoni, dia sudah memperhitungkan risikonya. Selain acara di DPRD Bantul, dia pun kadang ke DPRD Sleman.

Sama hal seperti wartawan, setiap hari dia juga berburu informasi agenda kedinasan maupun kegiatan lain di antaranya acara wisuda. “Tiap hari saya muter cari acara, yang membedakan wartawan cari foto untuk dipublikasikan, kalau saya untuk dijual,” katanya.

Perhitungan Nur Sahid, saat bulan puasa ini tidak banyak acara kegiatan yang bisa didatangi. Bila tidak ada acara didatangi, dia pun bekerja bengkel motor di rumahnya. Pekerjaan itu diakui tak sulit karena sebelum menjadi fotografer, dia awal bekerja bengkel.

Justru pekerjaan fotografer itu baru dilakoni beberapa tahun terakhir ini. “Awalnya cuma bantu orang, makin lama bisa terus foto sendiri, tapi di rumah saya tidak buka jasa foto, hanya khusus di acara-acara saja,” katanya.

Bagi yang sering melihat pekerjaan dilakoni Nur Sahid dan teman-temannya pun banyak mengaku heran dari mana para fotografer itu mendapatkan informasi acara.

Riza, seorang yang beberapa kali melihat mengatakan, bila ada acara kunker biasa tak hanya fotografer, ada pula yang menjual kacamata. “Mereka itu seperti memiliki jaringan dan saling berbagi informasi,” ucapnya.

Muji Barnugroho

Berita Lainnya...