Edisi 30-06-2016
Waspadai Jalur Mudik Gresik-Lamongan


GRESIK – Gresik dan Lamongan masih menjadi kawasan rawan macet dan kecelakaan lalu lintas (laka lantas) pada arus mudik dan balik Lebaran tahun ini.

Namun, pihak kepolisian sudah menyiapkan beberapa alternatif.
Pantauan lapangan, di wilayah Gresik ada beberapa titik rawan kemacetan. Terpantau bila dua jalur mudik Pantai Utara (Pantura), baik jalur Deandles maupun jalur raya Gresik-Lamongan terjadi kepadatan.

Jalur Deandles kemungkinan terjadi kemacetan di kawasan Jalan Raya Manyar, lantaran badan jalan mengalami kerusakan. Kemudian untuk di Gresik Selatan terdapat dua titik rawan macet, di antaranya di Kecamatan Menganti di pertigaan Desa Boboh.

Selain di pertigaan badan jalan mengalami kerusakan, juga di jalurpadatitukerapterjadi crossing antarkendaraan dari tiga arah. Satu lagi kawasan yang rawan macet saat arus mudik maupun balik Lebaran tahun ini.

Dibandingkan di Desa Boboh, kemacetan di kawasan pertigaan Legundi, Kecamatan Driyorejo, lebih parah. Karena arus lalu lintas dari Surabaya, Mojokerto, maupun sebaliknya cukup padat. “Setiap tahun kalau Lebaran pasti macet.

Hanya macetnya tidak seperti hari biasa. Karena saat Lebaran, kendaraan truk dan nontruk dilarang jalan,” ujar Nor Musyaffak, 41, warga Desa Wedoroanom, Driyorejo. Selain itu, jalur Raya Duduksampeyan, tepatnya di perempatan, masih menjadi titik paling rawan kemacetan arus mudik lebaran tahun ini. Sebab, di jalur sepanjang 1 km itu terjadi penyempitan. Proyek pelebaran jalan yang berlangsung sejak 10 tahun lalu itu belum juga tuntas. Selain itu, di perempatan jalan raya Duduksampeyan berdekatan dengan jalur rel kereta Surabaya- Jakarta. Pada saat palang pintu kereta ditutup untuk memberikan kesempatan kereta lewat, harus terjadi penumpukan kendaraan.

Ironisnya, hal itu diperparah hampir lima menit sekali ada penyeberangan pejalan kaki, pesepada motor, maupun mobil dari utara ke selatan. Jika kawasan Duduksampeyan terjadi kemacetan, imbasnya memanjang hingga 2 km.

Bahkan, kemacetan bisa sampai lebih panjang baik dari arah Gresik maupun arah Lamongan. Meski Lebaran kendaraan besar seperti dump truck maupun truk dilarang jalan, Duduksampeyan merupakan jalaur mudik padat hingga tetap ramai. “Ya, jangankan mudik atau arus balik Lebaran, hari biasa kalau Jumat dan Sabtu selalu macet.

Makanya, kami setiap tahun selalu fokus kemacetan di Duduksampeyan,” ujar AKP Darsuki, KapolsekDuduksampeyan. Langganan macet Duduksampeyan memang terjadi setiap akhir pekan. Makanya, tidak heran bila momen mudik dan balik Lebaran juga bakal terjadi macet.

Alternatif pelebaran jalan belum juga dapat maksimal direalisasikan. Dari puluhan persil rumah dan bangunan lain di sepanjang jalur Duduksampeyan, sampai saat ini tersisa sekitar 28 unit rumah.

Pelaksana tugas (Plt) Sekda Gresik Bambang Isdianto mengatakan, bila memang benar ada sekitar 28 unit rumah yang belum tuntas pembebasannya.

Mereka meminta harga yang terlalu tinggi, karena harga penawaran atau appresial dari Panitia Pembebasan Tanah (P2T) Gresik dinilai terlalu rendah.

“Makanya, saat ini masih berlangsung konsinyasi untuk menuntaskan persoalan tersebut. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menuntaskan,” ujarnya.

Kendati begitu, Satlantas Polres Gresik sudah menyiapkan beberapa solusi untuk mengurai penumpukan kendaraan di jalur padat Gresik- Lamongan itu. Dari beberapa titik rawan macet, paling menguras konsentrasi di jalur perempatan Duduksampeyan. Kasatlantas Polres Gresik AKP Anggi Saputra menyebutkan, kemacetan terparah diperkirakan hanya terjadi di Duduksampeyan.

Karena itu menjadi agenda tahunan, solusinya juga sudah terskenario setiap tahun. Hanya, tahun ini ada dua solusi yang disiapkan.

“Ada dua solusi yang kami sudah siapkan untuk mengurai kemacetan di Duduksampeyan, yaitu memberlakukan sistem contraflow dan menutup kemungkinan terjadinya crossing di perempatan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, sistem contraflow itu adalah sistem pengaturan lalu lintas yang mengubah arah normal arus kendaraan pada suatu jalan raya. Sistem itu akan diberlakukan baik dari arah Gresik maupun sebaliknya dari arah Lamongan.

Tujuannya untuk mengurai penumpukan kendaraan saat Lebaran. Hanya, lanjut AKP Anggi, sistem dua alternatif tersebut tidak diberlakukan dalam hitungan hari baik akan lebaran maupun pascanya.

Namun, dua alternatif itu diberlakukan bila di Duduksampeyan terjadi penumpukan kendaraan. Sementara itu, Polres Tuban memetakan titik rawan kemacetan dan kecelakaan di sepanjang jalur pantai utara (pantura) Tuban.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, jalur pantura di Kabupaten Tuban dipastikan akan padat dipenuhi kendaraan roda dua dan roda empat saat arus mudik dan arus balik Lebaran.

Menurut Kasatlantas Polres Tuban Iptu Nungki Sembodo, sejumlah titik di sepanjang jalur pantura Tuban rawan terjadi kemacetan. Di antaranya di depan Pasar Baru Tuban lantaran banyak tukang ojek, becak, dan kendaraan yang parkir di kawasan itu pada pagi, siang, dan sore hari.

Kemudian, titik kemacetan lainnya di kawasan Pasar Ikan Tuban. Di kawasan itu banyak kendaraan dan pedagang ikan yang berkerumun. Selain itu, di kawasan Tambakboyo rawan terjadi pasar tumpah. Sedangkan, di kawasan Kecamatan Palang rawan terjadi abrasi laut.

Pemudik Tanjung Perak Tembus 38.000 Orang

PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo III) mencatat, terdapat sekitar 38.000 penumpang kapal laut yang melalui Pelabuhan Tanjung Perak hingga H-7 Lebaran.

Jumlah itu diprediksi akan terus meningkat menjelang hari H Lebaran. Direktur Operasi dan Pengembangan Bisnis Pelindo III Rahmat Satria menuturkan, jumlah tersebut terdiri dari 32.557 orang yang tiba di Pelabuhan Tanjung Perak dan 5.959 orang yang meninggalkan Pelabuhan Tanjung Perak.

“Pencatatan penumpang naik dan penumpang turun di Pelabuhan Tanjung Perak kami lakukan dari H-15 hingga H+15 Idul Fitri,” ujarnya saat melepas peserta mudikgratisPelindoIIIkemarin.

Ia melanjutkan, para penumpang kapal laut yang tiba di Pelabuhan Tanjung Perak kebanyakan berasal dari wilayah timur Indonesia. Sebagian besar penumpang telah berlayar lebih dari 3 hari dari daerah keberangkatan hingga ke Pelabuhan Tanjung Perak.

“Ada yang dari Papua, Maluku, dan Sulawesi. Mereka tiba di Tanjung Perak untuk kemudian melanjutkan perjalanan mereka hingga ke kampung halaman masing-masing,” tambahnya.

ashadi/ m rokib/ aan haryono

Berita Lainnya...