Edisi 03-07-2016
Kritik Sosial Sabun Tanah


Seniman Lukomski menghadirkan karya bertajuk Sabun Tanah pada sebuah pameran di Galeri Nasional. Karya tersebut merupakan kritik atas bergesernya identitas kelompok masyarakat Jatiwangi.

Sabun Tanah merupakan sabun yang terbuat dari elemen tanah liat yang berasal dari Jatiwangi. Sabun Tanah merupakan salah satu proyek yang digarap dengan bertujuan untuk memberi peringatan bahwa tanah liat di Jatiwangi mulai memudar akibat datangnya ”modernisasi”. Tanah liat telah menjadi identitas Jatiwangi sejak lama.

Selama 100 tahun lamanya, Jatiwangi merupakan daerah yang telah menggunakan tanah liat, bahkan tanah liat sendiri merupakan unsur paling tua dalam sejarah arsitektural. Kini daerah penghasil tanah liat tersebut seolah tengah menghadapi ”modernisme” yang seolah menggerus identitasnya. Lewat Sabun Tanah, Lukomski mengajak masyarakat Indonesia untuk mengambil bagian dari proses Sabun Tanah yang dijualbelikan ke pasar.

Tak hanya membuat proyek Sabun Tanah, kolaborasi seniman Indonesia dan Polandia tersebut pada pameran bertajuk, Desain Sosial bagi Kehidupan Sosial juga membangun sebuah rumah yang dibangun dengan konsep arsitektural seniman Indonesia-Polandia dan dibangun secara bersamasama dengan masyarakat Jatiwangi.

Pameran yang berlangsung mulai 28 Juni hingga 22 Juli tersebut menghadirkan serangkaian program yang terbuka untuk umum secara bersamaan antara lain: lokakarya, pertemuan, dan diskusi seni. Desain Sosial bagi Kehidupan Sosial adalah proyek jangka panjang yang mulai dikerjakan pada 2014. Proyek ini hasil kerja sama antara komunitas seni Polandia dan Indonesia yang didasarkan pada penelitian dan residensi artistik.

Helatan ini bekerja sama dengan beragam komunitas seni yang berasal dari konteks kebudayaan yang berbeda. Kurator Krzysztof Lukomski menilai, struktur dan materi pameran dan rangkaian aktivitas di Galeri Nasional Indonesia dan daftar peserta serta rekan kerja merupakan hasil dari perbincangan, perjalanan, dan pengakuan bersama atas upaya kolaborasi tim secara intim dalam merespons dunia sosial.

Ia pun menilai, dalam kolaborasi tersebut, terjadi banyak pertemuan dan eksplorasi yang berkontribusi dalam pameran ini. ”Para seniman baik dari Polandia maupun Indonesia saling bertemu dalam konsep maupun terjun langsung ke lapangan,” katanya. Salah satu tempat yang menjadi lokus penelitian adalah daerah Jatiwangi, Jawa Barat.

Jatiwangi dipilih karena merupakan sebuah tempat yang menjadi pusat tanah liat dan komoditas yang dihasilkannya seperti genteng. Namun, pembangunan daerah justru seolah mengubah wajah Jatiwangi yang identik sebagai penghasil tanah liat terbaik dan daerah produsen genteng mulai tergeser. Pembangunan jalan tol dan infrastruktur lain mengharuskan lahan-lahan di wilayah penghasil tanah liat harus lenyap seiring berjalan waktu.

Dari wacana sosial tersebut, Desain Sosial bagi Kehidupan Sosial bergerak. Para seniman baik dari Polandia maupun Indonesia meriset permasalahan di lapangan dan merepresentasikannya ke dalam beberapa karya seni. ”Jatiwangi adalah daerah penghasil genteng yang kini mulai pudar, dari sini kami (para seniman) mencoba mengangkatnya ke dalam desain,” katanya. Sementara itu, Kurator Marianna Dobkowska menjelaskan mengenai karya fotografi yang menampilkan potret masyarakat Jatiwangi perajin genteng.

Dalam foto tersebut objek manusia masyarakat Jatiwangi perajin genteng didandani layaknya patung dan monumen. Pilihan kata monumen pun sengaja dipilih sebagai bentuk yang menggambarkan bagaimana tanah liat kini dipandang. ”Tanah liat bagai monumen, barangkali karya fotografi tersebut coba merepresentasikannya,” katanya.

Dalam posenya, dua objek perajin genteng berdiri tegak membawa pacul dan mengenakan caping yang menutup seluruh wajahnya. Tubuh mereka dilumuri tanah liat agar terlihat semirip mungkin dengan sebuah monumen. Hal itu dinilai Marianna bisa menimbulkan memori bagi para penikmat seni yang melihat, akan langsung teringat pada sebuah monumen.

Secara keseluruhan, menurut Marianna, pameran tersebut menyajikan film-film dokumenter dan video, lokakarya, dan diskusi yang akan dipandu dengan para seniman. Yang paling penting, kunjungan ke Galeri Nasional Indonesia, pengunjung akan dibentuk layaknya tur berdasarkan formula. ”Tidak seperti pameran biasanya, di sini para pengunjung bisa langsung bergabung, melihat, dan berinteraksi dengan para pemandu yang merupakan seniman (Akademi Desain Sosial),” katanya.

Menurutnya, keseluruhan konsep yang menjembatani publik untuk bertemu dengan para seniman, perancang, kurator, dan juga para mahasiswa seni akan berperan sebagai tuan rumah di pameran tersebut. Pengunjung bisa berbincang, bertanya, atau membenarkan selama pameran dan program-program publik yang disajikan.

Sebanyak 11 seniman dari beberapa organisasi Polandia serta tiga organisasi seni Indonesia ikut andil dalam pameran dan rangkaian aktivitas. Termasuk di antaranya seniman Iza Rutkowska (berkolaborasi dengan LBH Jakarta), Razem Pamoja Foundation (berkolaborasi dengan Justyna Gorowska dan Adam Gruba). Seluruh seniman akan didukung oleh komunitas seni Serrum untuk Jakarta, sementara residensi seni dapat terwujud atas kerja sama dengan Jatiwangi Art Factory, Jawa Barat.

imas damayanti