Edisi 03-07-2016
Kunci Sukses Revolusi Hallyu


Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menyaksikan salah satu keajaiban perekonomian era modern, yakni gelombang budaya populer Korea yang disebut Hallyu. Buku yang ditulis dengan gaya autobiografis ini menjelaskan bagaimana proses revolusi budaya Korea yang menyebar ke seantero dunia.

Penulisnya, Euny Hong, adalah seorang jurnalis yang menjalani masa kecil di Amerika, lalu dibesarkan bersamaan dengan proses revolusi budaya di Korea, dan kini tinggal di New York sebagai penulis. Seperti apakah gelombang Hallyu Korea Selatan menyerbu dunia? Ada beberapa contoh yang bisa dikemukakan.

Misalnya, pada April 2011, tiket konser bersama berbagai band K-Pop di Paris terjual habis hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit (h 225). Kunci keberhasilan Hallyu Korea Selatan adalah perpaduan dari setidaknya beberapa hal: visi yang kuat, keterbukaan, disiplin, kerja keras, dan juga keterlibatan pengurus publik (pemerintah).

Para pemimpin Korea sadar bahwa penguasaan soft power dapat memberi keuntungan sosial-ekonomi sehingga mereka kemudian menargetkan untuk mengekspor budaya populer mereka, terutama ke negara-negara dunia ketiga (h xvi). Untuk mengarah ke sana, pemerintah Korea sejak awal memperkuat jaringan internet nasional. Mereka percaya bahwa penyebaran budaya populer akan efektif jika dilakukan melalui internet.

Saat ini Korea Selatan tercatat sebagai salah satu negara yang memiliki jaringan internet terbaik di dunia. Kerja keras dan disiplin di antaranya terbangun melalui lingkungan sekolah. Hong menuturkan pengalamannya saat ia mengikuti pendidikan menengah di Korea yang tengah berubah di akhir 1980- an.

Saat itu negara melarang murid di Korea menggunakan peralatan sekolah buatan asing (h 28). Salah satu faktor menarik dalam keberhasilan ekspor budaya populer Korea adalah keterlibatan pemerintah yang kadang terkesan otoriter. Misalnya, untuk memajukan film nasional, presiden pada 1994 mengeluarkan dekrit yang mengatur bioskop bahwa mereka harus memutar film Korea setidaknya 146 hari dalam setahun (h 195).

Dukungan lain berupa penerbitan buku Hallyu Forever (terbit hanya dalam bahasa Korea) oleh Komisi Perdagangan Budaya Korea. Buku yang merupakan hasil riset ini memuat petunjuk praktis untuk mendekati pasar dunia sesuai kondisi khas masingmasing negara (h 212). Selain itu, ada pula faktor historis-kultural yang berperan penting dalam gelombang Hallyu.

Hong menunjukkan bahwa etos kerja keras Korea Selatan di antaranya terbentuk dari situasi mental kolektif masyarakat yang marah atas takdir ribuan tahun menjadi bangsa yang terpojok dan terjajah ini disebut dengan istilah Han. Pengalaman dijajah oleh Jepang selama 35 tahun dan kemiskinan dalam Perang Korea (1950-1953) juga memacu menguatnya harga diri dan motivasi untuk berubah (h 48- 59).

Buku ini berhasil menyingkap kunci penting revolusi sosial-budaya Korea Selatan sehingga mencapai tangga kesuksesannya saat ini. Ditulis dengan gaya bertutur naratif dan kadang jenaka, buku ini juga menyajikan data dan fakta yang kaya. Secara substantif, buku ini memberikan gambaran konkret tentang bagaimana strategi kebudayaan yang visioner dijalankan oleh pengurus publik dan masyarakat yang ingin melakukan revolusi besar-besaran.

Masyarakat dari negara dunia ketiga, seperti Indonesia yang notabene memiliki potensi kultural yang amat kaya, sangat patut untuk belajar dari visi, strategi, dan aksi budaya masyarakat Korea Selatan sebagaimana dipaparkan dalam buku ini.

M Mushthafa,
Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah