Edisi 03-07-2016
Memanfaatkan Momentum Libur Lebaran


Menyambut liburan hari raya Lebaran 2016 yang juga bersamaan musim liburan sekolah, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) meluncurkan ”Pesona Lebaran 2016”. Dalam program tersebut Kemenpar membuat panduan paket Pesona Lebaran 2016 di kota-kota di Jawa dan di luar Jawa- Bali.

Masyarakat ketika berlibur ke daerah dapat memanfaatkan secara maksimal dengan mengunjungi destinasi unggulan antara lain berupa objek sejarah, budaya, taman hiburan, maupun kuliner. Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan, momentum orang berwisata di libur Lebaran selalu berulang setiap tahun, tapi selama ini tidak pernah dikemas dengan program yang baik.

”Pesona Lebaran 2016 dapat dimanfaatkan sebagai liburan keluarga agar lebih berkualitas,” kata Arief di Jakarta baru-baru ini. Arief menjelaskan, dalam Pesona Lebaran 2016 terdapat 21 destinasi yang masing-masing memiliki 10 destinasi unggulan atau paling populer yang wajib dikunjungi. ”Kalau kita mengunjungi suatu daerah, sebaiknya satu sampai 10 titik sebagai Pesona Lebaran 2016 ini jangan sampai dilewatkan,” ucapnya.

Arief mencontohkan, kalau ingin Lebaran di Aceh, ada 10 top destinasi yang wajib dikunjungi yaitu Monumen Kilometer Nol RI, Sabang; Pantai Iboih, Sabang; Pantai Anoi Itam, Sabang; Museum Tsunami, Banda Aceh; Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh; PLTD Apung, Banda Aceh; Pantai Lampuuk, Aceh Besar; Danau Laut Tawar, Aceh Tengah; Pacu Kude, Gayo; dan Kompleks Kerajaan Samudera Pasai, Aceh Utara.

Begitu pula kalau Lebaran di Surabaya, Jawa Timur, jangan lewatkan mengunjungi tujuh destinasi unggulan (antara lain House of Sampoerna, Kampung Arab Sunan Ampel, Jembatan Suramadu), mencicipi tujuh kuliner (antara lain rawon, rujak cingur, tahu campur), serta tujuh simbol Kota Pahlawan (antara lain Tugu Pahlawan, Museum WR Soepratman, Monumen Jalesveva Jayamahe).

Dalam pengembangan destinasi wisata, Menpar berpatokan pada rumus 3 A (atraksi, akses, dan amenitas). Tiga A ini digunakan sebagai standar untuk mengukur seberapa besar kemajuan destinasi wisata di masing-masing daerah. Atraksi berupa alam (nature), budaya (culture), dan buatan manusia (manmade); aksesibilitas berupa darat, laut, dan udara; dan amenitas berupa prasarana umum, fasilitas umum, dan fasilitas pariwisata.

Sebagai contoh Aceh memiliki atraksi yang menarik dan punya banyak keunggulan, baik alam, bahari, maupun kuliner. ”Tinggal akses dan amenitas yang harus terus didorong berkembang. Tetapi, atraksi yang hebat sudah menjadi modal yang kuat untuk memajukan pariwisata,” tandasnya. Menpar menilai Aceh tergolong aktif mempromosikan daerah wisata alam dan kulinernya.

Aceh juga rajin menggelar banyak event yang memperkuat pamor daerah. Kini Aceh bersama Lombok dan Sumatera Barat diposisikan sebagai halal destinationdan halal tourism. Langkah yang dilakukan Aceh diharapkan dapat diikuti daerah lain agar destinasi unggulan mereka lebih dikenal dan banyak dikunjungi wisatawan, terutama saat musim liburan hari raya (Lebaran, Imlek, Natal, dan Tahun Baru) serta musim liburan sekolah.

Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah Kemenpar Tazbir menambahkan, Paket Pesona Lebaran 2016jugamencakupbanyakkota-kotalaindi antaranya Banten, Bintan, Cipanas, Cirebon, Geopark Ciletuh, Jakarta, Jatim, Jepara, Yogyakarta, Kudus, Labuhan Bajo, Solo, Sukabumi, Sumbar, Surabaya, Tasik, Tegal, Semarang, Bogor, dan Pekalongan.

Ketua Umum Dewan Pusat Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Prof Azril Azahari menjelaskan, saat ini pemerintah lebih fokus terhadap promosi pemasaran pariwisata saja. Anggaran pemasaran yang dikeluarkan oleh kementerian sebagian besar untuk biaya promosi dan itu sebagiannya dibagi dengan pemasaran luar negeri. Menurut dia, pemerintah seharusnya membuat produknya terlebih dahulu sehingga apabila produknya telah bagus, bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Untuk membuat produk yang unik, setidaknya ada beberapa hal. Pertama, harus unik dan, kedua, otentik khas Indonesia sehingga hal tersebut bisa menjadi daya jual lebih bagi pariwisata dalam negeri. Sementara itu, mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar mengatakan, pengelolaan destinasi di Indonesia, meskipun sudah banyak yang baik, masih perlu ditingkatkan kembali, terutama aksesibilitas dan paket-paket pariwisatanya.

”Seperti Borobudur saja masih banyak yang belum rapi, masih ada disaster management- nya, belumlagi kalaukitakedaerah-daerah lainnya, perlu ada pengaturan yang lebih seksama dalam pengelolaan destinasi, dan packaging-nya sehingga lebih baik,” katanya. Berikutnya pengelolaan wisata harus aman dan nyaman.

Meskipun Indonesia termasuk aman, kenyamanannya yang masih perlu ditingkatkan. Seperti kemudahan akses internet, aksesmenelepon, kebersihannya itu juga termasuk dalam bentuk kenyamanan. Sedangkan, Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey menegaskan, di era kepemimpinannya sektor pariwisata akan digenjot sebagai salah satu sektor untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Prioritas dalam upaya tersebut adalah kembali berusaha mengembalikan kejayaan Taman Laut Bunaken yang sempat menjadi primadona wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Menurut dia, saat ini Taman Laut Bunaken telah mengalami degradasi pamor karena masalah sampah yang belum teratasi. ”Waktu lalu kita telah mencanangkan program Save Bunaken untuk membersihkan tamanlautkebanggaankita, diharapkankedepan nanti kita akan berusaha agar semua pihak ikut terlibat dalam upaya ini,” tuturnya.

Dia mengakui, Taman Laut Bunaken telah terkenal hingga seluruh dunia. Pangeran Bernard dari Belanda dan artis dunia serta para petinggi di republik ini bahkan pernah menikmati indahnya taman laut yang berada di perut Pulau Bunaken ini. ”Untuk itulah kita percaya jika Bunaken bisa kita kembalikan kejayaannya, dunia pariwisata Sulut akan semakin maju,” katanya.

inda susanti/ hermansah/ robi ardianto/ asrul rahmawati