Edisi 03-07-2016
Menggapai Malam Seribu Bulan di Masjidilharam


Tak ada yang lebih indah daripada merengkuh lailatulqadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Night of power, begitu Hameed menyebutnya. Karyawan perusahaan di provinsi barat Arab Saudi itu mengajak istri dan anakanaknya untuk umrah, kemudian membawa mereka kembali ke rumah.

Setelah itu ia kembali ke Masjidilharam untuk beriktikaf. ”Selama 20 tahun terakhir saya menghabiskan sekitar 15 hari libur tahunan saya di Masjidilharam mencurahkan waktu dalam ibadah dan doa,” katanya. ”Saya tidak akan pergi keluar kecuali untuk halhal penting. Saya akan meninggalkan masjid hanya pada malam sebelum Idul Fitri,” ungkapnya.

Hameed hanya membawa tas untuk menyimpan pakaiannya selain Alquran. Hameed tak sendiri. Kenikmatan spiritual di 10 hari terakhir Ramadan juga dirasakan Ahmad, seorang pemuda yang juga sedang khusyuk iktikaf di Masjidilharam. Ada juga Ahmed Saleem yang mengaku sengaja tinggal di Masjidilharam sejak 15 Ramadan. ”Selama 25 tahun terakhir saya telah melakukan iktikaf di masjid,” ujarnya. Ahmed datang bersama dengan kedua putranya.

Saudi Gazette melaporkan tak kurang dari 50.000 muslim dari berbagai belahan dunia datang ke Masjidilharam untuk melakukan iktikaf di 10 malam terakhir Ramadan. Adapun Business Recorde rmenyatakan jutaan umat Islam datang di hari-hari terakhir untuk melaksanakan umrah di Tanah Suci.

Mereka di antaranya memfokuskan diri untuk melaksanakan ibadah wajib, salat tarawih serta iktikaf, antara lain demi mendapatkan malam lailatulqadar . Pihak masjid juga menyediakan tempat khusus untuk iktikaf keluarga kerajaan. Menurut Saudi Gazette, Ketua Imam Besar Masjdilharam Syaikh Abdul Rahman As-Sudais telah menginstruksikan kepada seluruh petugas masjid untuk memberikan pelayanan bagi jamaah yang iktikaf di masjid dan memastikan mereka dalam suasana khusyuk.

Tahun ini pengurus masjid setidaknya mengalokasikan lebih dari 2.000 loker untuk jamaah. ”Kami menyediakan bimbingan bagi jamaah melalui tausiah-tausiah agar mereka menghabiskan waktu ibadah tanpa gangguan. Kami juga mendistribusikan pamflet tentang cara melakukan iktikaf yang sempurna,” tutur Syaikh As-Sudais.

ANANDA NARARYA
Jakarta