Edisi 03-07-2016
Daniel Kahneman


Daniel Kahneman adalah seorang psikolog, Guru Besar Emiritus dari Universitas Princeton, AS, yang mendapat hadiah Nobel Ekonomi pada 2002. Suatu hal yang tidak terpikir oleh saya sebelumnya.

Setahu saya ketika belajar ekonomi di SMA (saya dulu berasal dari SMA Bagian C atau yang sekarang lebih dikenal sebagai jurusan IPS/Ilmu Pengetahuan Sosial), hukum ekonomi identik dengan hukum permintaanpenawaran, artinya makin banyak permintaan (demand), dan makin kurang ketersediaan (supply), maka makin mahal harga benda atau jasa yang diminta itu. Sebaliknya, makin banyak supply, sedangkan demand menurun atau biasa-biasa saja, maka harga pun merosot dengan sendirinya.

Dengan perkataanlain, ekonomimenurut ilmu SMA yang saya miliki adalah sederhana saja, yaitu keseimbangan antara supply dan demand. Untuk menyejahterakan rakyat, tugas pemerintah juga sederhana saja, yaitu perbanyak supply kalau dirasakan kurang untuk masyarakat, atau dikurangi kalau rasanya sudah terlalu banyak.

Namun, nyatanya dalam kehidupan sehari-hari tidak seperti itu. Bukti yang nyata adalah bahwa setiap menjelang puasa harga-harga otomatisnaikdanmenjelangLebaran harga akan naik sekali lagi, sementara selepasLebaranhargatidakturun lagi. Ini terjadi setiap tahun. Tidak peduli sedang musim hujan atau musim kering, panen atau paceklik, musim anak-anak masuk sekolah atau liburan. Pokoknya begitu Lebaran, harga naik.

Padahal, tidak adayangberubahdalammekanisme pasar. Proses produksi maupun distribusi barang dan jasa tetap berjalan seperti biasa, permintaan juga biasa-biasa saja sebetulnya. Tetapi, ada perasaan masyarakat bahwa kalau Lebaran harus ada yang luar biasa, yaitu misalnya dalam makanan. Harusadarendang, opor, atau gulai untuk menemani ketupat, padahal tidak ada keharusan apaapa dalam agama perihal kuliner khusus untuk Lebaran.

Tetapi, harga jadi naik. Gara-gara perasaan. Gara-gara psikologi. Atau, contohlain. KasusBritex (British exit), yaitu peristiwa pada Juni 2016 ini, ketika melalui referendum, Inggris memutuskan untuk exit dari Uni Eropa. Belum apa-apa, nilai mata uang Inggris (poundsterling) merosot ke posisi yang terburuk atau paling terpuruk dalam 30 tahun terakhir.

Semuanya karena para pedagang uang merasa cemas bahwa uang mereka (yang poundsterling) akan tidak ada harganya lagi sehingga mereka ramai-ramai menukarkannya dengan valuta asing lainnya, yang membuat supply poundsterling terlalu banyak, dan akhirnya nilai poundsterling merosot. Satu lagi contoh yang lebih mikro.

Ibu-ibu arisan, atau ibuibu majelis taklim sama saja, sering bertukar dagangan. Di lingkungan arisan, ibu-ibu biasa menawarkan tas, sepatu, atau perhiasan, sedangkan di lingkungan majelis taklim tawarannya adalah mukena. Apa pun yang ditawarkan, komentar ibuibu biasanya, “Aduh... yang ini lucu...”,

“Yang itu lucu bangeeet ...”, “Aku mau doong , yang ijoo, persis seperti yang sering dipakai oleh bintang sinetron favoritku”, dan seterusnya, tetapi yang penting adalah banyak yang beli barang dagangan itu, walaupun sebetulnya tidak perlu-perlu amat, sih, dan kalau mau jalan ke Pasar Tanah Abang sebentar, pasti dapat yang lebih murah, padahal lebih bagus.

Kahneman sendiri menamakan gejala-gejala tersebut di atas sebagai perilaku ekonomi, yang dasarnya bukan faktor-faktor di luar individu, melainkan di dalam diri individu sendiri, yaitu yang terkait dengan pembuatan keputusan, dan ternyata pembuatan keputusan itu sering tidak terduga-duga. Daniel Kahneman sendiri, sebagai seorang anak Yahudi Prancis, pernah pulang kemalaman dan ketahuan oleh seorang serdadu Jerman dari kesatuan SS yang paling kejam dan berseragam hitam-hitam.

Ketika Kahneman sudah ketakutan setengah mati ketika dipeluk oleh serdadu itu, tiba-tiba serdadu itu meluapkan emosinya dalam bahasa Jerman, membuka dompetnya untuk menunjukkan foto anaknya yang seusia Kahneman, bahkan memberinya uang. Aneehh... manusia memang suka membuat keputusan yang aneh, pikir Kahneman, dan sejak itu ia pun memilih untuk belajar psikologi.

Sebagai peneliti psikologi ekonomi, Kahneman bersama mitranya, Amos Tversky, sejak 1974 meneliti tentang pembuatan putusan jalan pintas (heuristic), yaitu ketika orang membuat keputusan secara cepat, tanpa pikir berlamalama. Lama-lama mereka tahu bahwa berpikir heuristic itu pada dasarnya hanya memilih yang dirasa paling menguntungkan (walaupun pilihan yang paling menguntungkan itu belum tentu benar).

Ini namanya psikologi prospek. Misalnya, kalau Anda adalah menteri kesehatan dan disuruh memilih antara obat vaksinasi merek “A” yang bisa menyelamatkan jiwa 20% dan obat lain yaitu merek “B” yang tidak bermanfaat untuk sebagian besar (80%) masyarakat, maka sangat boleh jadi Anda akan memilih merek “A”, padahal manfaatnya sama saja dengan obat merek “B”. Karena itu, sejak 1990-an Kahneman memilih untuk menggunakan istilah hedonic psychology.

Hasil penelitian Kahneman saya kira sangat sejalan dengan ajaran Islam yang tidak pernah berbicara tentang kebendaan, demand dan supply dalam berekonomi. Islam lebih banyak mengatur tata cara berniaga, kejujuran dalam berdagang, menahan diri untuk tidak serakah, dilarang makan riba, dan sebagainya.

Maksudnya adalah untuk menekan hasrat-hasrat manusia yang mendorong heuristic thinking yang pasti berujung hedonic psychology. Tinggalkan hedonic psychology, kembali saja kepada kebutuhan dasar, bukan keinginan berhura-hura. Termasuk dalam ber-Lebaran. Insya Allah, kita akan selalu di jalan yang benar, aman, dan sejahtera, tanpa merisaukan harga daging yang selalu melonjak setiap menjelang Lebaran. Selamat Lebaran! Maaf lahir dan batin.

SARLITO WIRAWAN SARWONO
Guru Besar Psikologi UI dan Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Persada Indonesia YAI