Edisi 03-07-2016
Puasa, Pintu Menjaga Laku Diri


Sebentar lagi berakhir. Ramadan akan berlalu. Bulan yang ditunggutunggu umat Islam dalam satu tahun akan meninggalkan umat Islam yang berpuasa. Umat yang selalu merindukan kehadiran Ramadan sebagai wahana penaklukan diri dalam segala bingkai hawa nafsu.

Persoalannya kemudian, ada dua tipikal manusia, yang merespons perginya Ramadan. Tipikal pertama, manusia yang merasa sedih akan kepergian bulan Ramadan. Mereka inilah, tipikal manusia yang selalu merindukan kehadiran bulan Ramadan. Mereka akan merasa terluka ketika Ramadan akan berlalu. Kenapa terluka? Karena, Ramadan bagi tipikal manusia pertama ini sebagai ajang pertemuan dan ladang pertaubatan, keberkahan, dan rahmat bagi manusia.

Maka, ketika Ramadan akan pergi meninggalkan mereka, rasa terluka karena merasa tak puas berkarib- karib dengan Allah, terasa belum cukup. Pada tahapan ini, puasa diharapkan menjadi pintu menjaga laku diri. Tipikal kedua, manusia yang menanggapi kepergian Ramadan dengan biasa- biasa saja. Tak ada rasa kecewa dan terluka akan kepergian bulan Ramadan yang penuh rahmat, keberkahan, dan ampunan itu.

Pada titik ini tipikal manusia kedua ini hadir atau tak hadirnya Ramadan, mereka merasa tak ada perbedaan sama sekali dengan bulan-bulan lain. Mereka sekadar menjalankan kewajiban puasa. Dua tipikal manusia inilah yang selalu menjadi penghias dalam bulan Ramadan. Bulan Ramadan, jika menilik pendapat Syekh Abdul Qadir al- Jailani dalam kitab Sirr al- Asrar adalah perpaduan antara ruanglahirdanruangbatin.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani menyatakan, bila seseorang berpuasa, hendaknya mampu melakukan harmoni kondisi lahir dan batinnya seperti perutnya yang dikosongkan dari makan dan minum. Jadi harus ada keseimbangan antara puasa dari sisi syariat, dan puasa dari sisi ruhani. Puasa syariat adalah puasa yang menahan rasa dahaga dan lapar.

Sementara puasa dalam terminologi ruhani adalah puasa yang menyertakan sikap batin dalam berpuasa. Sikap batin atau sikap ruhani itu menegaskan bahwa puasa juga menggerakkan alam bawah sadar kita untuk terus-menerus mengingat Allah di setiap jengkal ruang dan waktu. Puasa yang selalu menghadirkan jiwa dalam setiap geraknya.

Pada tepi inilah, momentum ibadah puasa juga menjadi kawah candradimuka perbaikan moralitas atau akhlak setiap pribadi dan akhlak manusia dalam berbangsa. Dalam bermasyarakat. Dua aspek integritas personal dan komitmen sosial. Puasa ibadah selama 14 jam setiap hari, dan sangat personal, integritas individual pelaku ibadah puasa benar-benar dilatih karena di sela-sela 14 jam, pasti mereka akan berhadapan dengan dua hal,

sangat lapar atau sangat haus, dan memiliki peluang untuk minum atau makan tanpa seorang pun tahu, atau ada orang tahu, tapi bisa beralibi sedang musafir, atau kalau perempuan bisa bilang, saya sedang berhalangan. Tetapi, pada setiap orang pasti terjadi dialog dalam hatinya, buka dengan berbohong pada diri sendiri dan pada orang lain,

atau terus berpuasa karena sedang melaksanakan perintah Allah dan Allah tahu apa yang kita kerjakan, termasuk di ruang yang sangat gelap. Jika level ini sudah kita miliki, kita sudah lulus pada traktat keimanan kita dan vibrasi yang tampak akan terasa dalam laku bermasyarakat dan berbangsa.

PROF DR DEDE ROSYADA
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta