Edisi 03-07-2016
Sensasi Mengayuh Sepeda Ratusan Kilometer Menuju Kampung Halaman


Mudik dengan transportasi umum atau mobil serta motor pribadi sudah biasa. Namun, bagaimana jika mudik ke kampung halaman dengan menggunakan sepeda.

Itulah yang dilakukan 11 orang yang ikut dalam program #GOWESMUDIK2016saat ditemui KORAN SINDOketika melintas di salah satu jalur mudik, Nagreg, Kabupaten Bandung, kemarin. Sebelas pemudik asal Kota Bandung itu mengambil start dari bundaran Cibiru kemarin pagi. Mereka mengayuh sepedanya dengan berbagai tujuan kampung halaman seperti Banjarnegara, Yogyakarta, Solo, hingga Madiun.

Ratusan kilometer mereka lalui dengan mengayuh sepeda hanya untuk bertemu keluarga. Yudi Juliana, 30, salah satu peserta mudik dengan sepeda, mengungkapkan, yang berangkat dari Cibiru hanya 11 orang. Namun, berdasarkan data, ada 32 orang pesepeda yang mengambil jalur selatan dan 80 orang di jalur utara.

Mudik menggunakan sepeda bukan tanpa alasan atau kondisi ekonomi. Mereka ratarata sudah bertahun-tahun menggunakan sepeda untuk perjalanan mudik ke kampung halamannya. ”Bukan kami tidak mampu beli tiket bus atau kereta api, tetapi lebih pada asyik dan suasananya bagi kami,” ungkapnya. Selain itu, menurut dia, dengan mengayuh sepeda bisa lebih mengakrabkan dengan sesama.

”Ada sisi solidaritas juga di dalamnya karena kita harus saling mengerti dan membantu dalam perjalanan,” paparnya. Dengan mudik bersama menggunakan sepeda, lanjutnya, perjalanan menuju kampung halaman bisa lebih dinikmati. ”Sebetulnya capai juga mudik menggunakan sepeda, tetapi ada tantangan dan keasyikan tersendiri,” ungkapnya. Yudi mengaku sudah enam kali mudik menggunakan sepeda.

Selama tiga tahun pertama dia merasakan bagaimana mudik menggunakan sepeda sendirian. ”Sudah enam kali mudik pakai sepeda. Tapi, dalam tiga tahun terakhir ada sebuah gerakan mudik menggunakan sepeda. Hasilnya, jumlah peserta terus bertambah dari tahun ke tahun,” paparnya. Saat ditanya soal pengalaman paling mengesankan selama mudik dengan sepeda, Yudi mengaku saat mudik tahun ketiga, dirinya tidak bisa menamatkan perjalanan hingga di Kota Banjar, kampung halamannya.

”Waktu masuk tahun ketiga, jari-jari sepeda saya patah. Waktu itu teman tidak ada, bengkel juga pada tutup. Akhirnya diputuskan sewa mobil untuk membawa sepeda,” ungkapnya. Berbekal pengalaman tersebut, akhirnya Yudi bersama rekan-rekannya terpikir untuk membuat sebuah gerakan mudik bersama menggunakan sepeda.

Antusiasme yang diterima pun cukup baik dan pesertanya bertambah setiap tahun. ”Dengan gerakan tersebut, pemudik bersepeda bisa terkoneksi dengan komunitas sepeda di berbagai kota yang dilalui. Sehingga, ketika melintas di satu daerah, kita tidak akan segan meminta bantuan,” katanya. Melalui gerakan #GOWESMUDIK2016, Yudi mengatakan sebenarnya tidak mengajak siapa pun untuk mudik menggunakan sepeda.

Namun, pihaknya hanya memfasilitasi mereka yang ingin mudik menggunakan sepeda agar lebih terkoordinasi. ”Kita memfasilitasi biar bisa saling bantu dan koordinasi. Peserta juga tidak melakukan pendaftaran, tapi sifatnya hanya pendataan,” katanya. Senada diungkapkan peserta lain, Raharjo. Tahun ini merupakan kali kedua Raharjo mudik dengan sepeda. ”Tahun kemarin sendirian.

Kalau sekarang lebih ramai karena ada yang bisa diajak ngobrol selama perjalanan dan bisa saling menyemangati,” ungkapnya. Raharjo yang merupakan peserta paling jauh kampung halamannya yakni di Madiun, Jawa Timur mengungkapkan, awalnya mudik memakai sepeda hanya bermodalkan nekat. ”Ternyata enak juga. Akhirnya tahun ini saya kembali mudik ke Madiun menggunakan sepeda,” ungkapnya. Dia memprediksi tiba di Madiun tepat H-1 lebaran dengan beberapa kali istirahat dan bermalam di tempat aman.

YUGI PRASETYO
Bandung