Edisi 03-07-2016
Sidang Penetapan Hari Raya Digelar Besok


TANGERANG - Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang isbat penentuan Hari Raya Idul Fitri pada 4 Juli 2016. Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Syaifuddin mengatakan, sidang akan dimulai pada pukul 17.00 WIB untuk melakukan pemaparan posisi hilal.

Setelah magrib, baru akan dilaksanakan sidang isbat dan dilakukan secara tertutup. ”Kalau berdasarkan hitungan hisab yaitu 29 Ramadan, posisi hilal berada di bawah ufuk. Meski demikian, sebagaimana yang selama ini dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, mengikuti Fatwa MUI tahun 2004, dinyatakan penetapan 1 Ramadan dan 1 Syawal dengan menggunakan dua metode yaitu hisab dan rukyat,” tandas Lukman di Tangerang kemarin.

Lukman mengatakan, hisab adalah cara untuk melihat keberadaan posisi hilal dan rukyat untuk mengonfirmasi dan memastikan perhitungan hisab. ”Jadi, Senin (4/7) kami baru akan melakukan sidang isbat,” katanya. MUI telah mengeluarkan Fatwa No 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah yang ditandatangani oleh Ketua Komisi Fatwa MUI KH Maruf Amin dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Hasanudin.

Fatwa ini menyatakan, penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah dilakukan berdasarkan metode rukyat dan hisab. Fatwa tersebut bersifat mengikat bagi seluruh umat Islam di Indonesia. Fatwa ini juga mengatur bahwa dalam menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah, menteri agama wajib berkonsultasi dengan MUI, ormas-ormas Islam, dan instansi terkait.

”Selama ini Pemerintah Indonesia mengikuti Fatwa MUI yang lahir pada 2004. Di situ dinyatakan bahwa pemerintah mendapatkan kewenangan untuk menetapkan dengan dua metode yaitu hisab dan rukyat. Dua duanya digunakan,” ujar Lukman. Proses pemantauan hilal, Kementerian Agama telah mempersiapkan petugas di beberapa titik pemantauan.

Mereka adalah para petugas yang sudah terbiasa dan memiliki kualifikasi atau kriteria tertentu untuk melakukan pekerjaan yang sangat spesial ini. ”Mereka juga disumpah kesaksiannya, apakah melihat atau tidak melihat hilal,” ujarnya. Sementara itu, Ketua umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan, sesuai Maklumat PP Muhammadiyah Nomor: 01/MLM/I.0/E/2016 tanggal 1 April 2016 bahwa Idul Fitri 1 Syawal 1437 H jatuh pada Rabu Pahing, 6 Juli 2016.

Dia pun berpesan dalam pelaksanaan salat Idul Fitri hendaknya berkoordinasi dan bekerja sama dengan pemerintah daerah, pemerintah desa, aparatur keamanan, dan pihak berwenanglain.” Kepadaseluruhwarga Muhammadiyah, untuk melaksanakan ibadah Idul Fitri dengan memperbanyak takbir, tahmid, dan taqdis, membayar zakat fitrah, serta menunaikan salat Idul Fitri di lapangan yang bersih dan representatif sesuai dengan syariat Islam dan sunahNabiMuhammad SAW,” ungkapnya.

Dia juga berpesan agar senantiasa menjaga toleransi dan saling menghormati dengan sesama umat Islam yang menunaikan salat Idul Fitri di tempat yang berbeda dan pemeluk agama lain yang tidak menunaikan ibadah Idul Fitri karena keyakinannya. Selain itu, hendaknya menjaga ketertiban dan kebersihan sebagai perwujudan iman dan karakter Islam yang berkemajuan.

Dia juga berpesan kepada umat Islam yang merayakan Idul Fitri pada hari yang berbeda dan melaksanakan salat di tempat yang berbeda, hendaknya tetap menjaga toleransi, tenggang rasa, saling menghormati, dan bekerja sama untuk terbinanya kehidupan beragama yang rukun dan damai.

dian ramdhani/ okezone