Edisi 03-07-2016
Terobosan Daerah Menggenjot Sektor Wisata


Indonesia yang memiliki 35 provinsi dengan ribuan pulau di dalamnya mempunyai potensi daerah yang sangat besar khususnya dari sektor wisata. Berbagai daerah terus berupaya mendongkrak potensi wisatanya, bagi daerah yang potensi wisata minim mencoba menarik wisatawan dengan berbagai kegiatan yang diadakan seperti festival budaya atau fashion yang mampu menjadi ikon nasional.

Potensi wisata daerah di Indonesia untuk dikembangkan dan menarik wisatawan masih sangat besar. Daerah kini berlomba- lomba membuat terobosan yang menarik salah satunya dengan mengadakan kegiatan yang bersifat internasional. Salah satu kegiatan yang telah diakui dunia antara lain Jember Fashion Carnaval, Festival Danau Toba, Festival Lembah Baliem Papua, Karapan Sapi Madura, Dieng Culture Festival, Festival Gerhana Matahari Poso-Sulawesi, Festival Tidore Maluku, dan Festival Perang Pasola Sumba- Nusa Tenggara Timur (NTT).

Terobosan berbagai daerah tersebut telah meningkatkan pendapatan negara dari sektor wisata. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, sektor wisata bisa menyumbangkan 10% produk domestik bruto (PDB) nasional. Ini merupakan yang tertinggi di ASEAN disusul oleh Thailand, Malaysia, dan Filipina.

”Karena itu, pertumbuhan penerimaan devisa pariwisata adalah yang tertinggi, yaitu 13% dibandingkan pendapatan dari sektor industri minyak gas bumi, batu bara, dan minyak kelapa sawit yang bahkan pertumbuhannya negatif,” ujar Arif Yahya. Menurut dia, sektor pariwisata juga menyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan atau sebesar 8,4% secara nasional dan menempati urutan keempat dari seluruh sektor industri.

Selain itu, dalam penciptaan lapangan pekerjaan, sektor pariwisata juga tumbuh 30% dalam waktu lima tahun. Pariwisata juga dianggap telah menciptakan proyek lapangan kerja dengan modal termurah yaitu dengan USD5.000 per satu pekerjaan, dibanding rata-rata industri lain sebesar USD100.000 per satu pekerjaan. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada April 2016 sebanyak 901.095 wisman atau mengalami kenaikan 12,37% dibandingkan April 2015.

Pertumbuhan tersebut antara lain dipicu dengan kenaikan kunjungan wisman dari pasar utama terutama Singapura, Tiongkok, Malaysia, dan Australia yang masuk sebagai empat besar. Ketua Umum Association of The Indonesian Tour and Travel Agencies (Asita) Asnawi Bahar mengatakan, kenaikan jumlah wisatawantersebuttidakterlepasdari maraknya aktivitaspariwisatadiTanahAir.

Aktivitastersebut bisa terjadi karena ada sinergisitas antara pemerintah daerah, swasta, dan stakeholders lain. Apalagi pada saat ini semakin banyak kepala daerah yang semakin menyadari pentingnya mengembangkan pariwisata di daerahnya. ”Sinergisitas dengan pemerintah daerah semakin baik,” kata Asnawi.

Untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo menilai perlu ada terobosan baru dalam sektor tersebut salah satunya dengan me-launching Explore South Sulawesi. Syahrul mengatakan, brand pariwisata baru dengan tagline Explore South Sulawesi tersebut salah satu terobosan baru karena di dalamnya juga ada peluncuran aplikasi mobile explore South Sulawesi.

”Selain akses kenyamanan dan keamanan, kebersihan, keramahan, juga terobosan. Dengan kita luncurkan brand seperti ini, saya kira ini juga bagian dari ajakan promosi itu,” ujarnya. Dia melanjutkan, pariwisata disebutnya merupakan industri yang jika dikelola dengan baik, akan mampu meningkatkan perekonomian. Jikadibandingkandenganpembuatan kilang minyak, pabrik, dan industri lain yangmembutuhkanwaktuantara5-10tahun baru bisa beraktivitas, industri pariwisata jika sudah di-grade tahun ini, tahun ini juga sudah bisa dirasakan hasilnya.

Dia berharap branding baru pariwisata Sulsel, Explore South Sulawesi, diharapkan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Sulsel hingga 8,5 juta orang. Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Yogyakarta Edy Muhammad mengatakan, untuk menggenjot sektor wisata, pihaknya menggandeng anak-anak muda.

Ide-ide kreatif para remaja sangat dinantikan untuk memberi inovasi dan warna baru bagi dunia pariwisata. Apalagi Yogyakarta merupakan salah satu destinasi wisata nasional bahkan mancanegara. ”Salah satunya dengan membentuk brand di kampung-kampung wisata. Brand itu nanti menjadi promosi kampung wisata setempat,” kata Edy.

Menurut Edy, kampung wisata memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Meskipun di setiap kampung memiliki organisasi karang taruna, kegiatannya masih dirasa kurang optimal dalam mempromosikan kampung wisata masing-masing. Dia mengakui, Pemkot Yogyakarta memiliki dana untuk pengembangan kampung wisata dan seharusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal melalui peningkatan peran serta remaja.

”Jika remaja bisa turut andil, ini merupakan salah satu kegiatan positif dan bisa mengurangi kegiatan yang mengarah kepada hal yang negatif,” ucapnya. Sementara itu, minimnya destinasi wisata Kota Pekalongan membuat pemerintah kota (pemkot) setempat sering mengg e l a r berbagai kegiatan.

Hal itu dilakukan untuk menarik wisatawan lokal hingga mancanegara. Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata dan Kebudayaan (Dishubparbud) Kota Pekalongan Doyo Budi Wibowo mengaku melakukan berbagai upaya untuk bisa menarik perhatian para wisatawan lokal, Nusantara, hingga mancanegara salah satunya yakni sering menggelar berbagai event .

”Kami selalu berupaya menggelar event untuk menarik wisatawan, misalnya dengan menggandeng sejumlah komunitas yang ada di Kota Pekalongan,” katanya kemarin. Doyo memberikan contoh yakni komunitas Heritage Pekalongan. Salah satunya kegiatan yang digelar oleh komunitas Haritage Pekalongan yakni jelajah heritage di Kota Pekalongan saat malam hari.

”Kami juga menggandeng badan promosi pariwisata Kota Pekalongan (BP2KP), untuk sama-sama menciptakan promosi. Mereka biasanya menciptakan promosi terkait destinasi wisata Kota Pekalongan melalui media sosial (medsos),” terangnya. Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau (Kepri) Guntur Sakti mengatakan, seiring dengan gagasan Presiden Jokowi untuk menjadikan Indonesia sebagai negara poros maritim, Pemerintah Daerah Kepri semakin memperkuat kesiapan diri dalam menjadikan wisata bahari sebagai urat nadi pariwisata.

Menurut dia, pada 2016 wisata festival mendominasi agenda pariwisata Kepri. Terobosan pariwisata bahari yang paling besar adalah menjadi tuan rumah di Sail Selat Karimata. Festival itu akan diadakan selama 10 hari selama 20-30 Oktober mendatang. ”Tak hanya jadi event nasional, Wisata Bahari Kepri ini juga menyasar potensi wisatawan mancanegara. Kami mendatangkan yacht dari beberapa negara untuk berpartisipasi,” tutur Guntur.

hermansah /ristu hanafi/ arief setiadi/prahayuda febrianto/andremanoppo/ kurniawan eka