Edisi 03-07-2016
Wanita Pertama di APEC dan IFAD


Tidak mudah bagi seorang wanita untuk bisa mengabdikan diri pada negara sebagai diplomat. Apalagi kalau sudah memiliki keluarga. Kondisi inilah yang dialami Nining.

Ia harusmerelakankehidupanrumahtangganya hancur demi bisa berkarier menjadidiplomat.” Mungkinsaya tidakcukup beruntung dalam berkeluarga meskipun saya sempat menikah. Saya merasa, memang tidak mudah mendapatkan pendamping yang bisa menemani kita sebagaidiplomat.

Apalagiadaperaturankalau diplomat dari Kemenlutidakbolehmenikah dengan orang luar negeri sehingga tak berkeluarga dan mengabdi pada negara lebih menjadi pilihan saya,” kata wanita kelahiran Bandung tersebut. Meski demikian, Nining merasa cukup beruntung karena bisa menjadi wanita pertama yang menjabat sebagai ketua IFAD (International Fund for Agricultural Development ) Evaluation Committee.

Ini badan di PBB yang didirikan sejak 1977. Padahal, ketika itu ia merasa tak memiliki banyak pengalaman dan masih junior. ”Saat itu menjadi tantangan tersendiri bagi saya, seorang wanita pertama yang masih sangat junior kemudian mendapat tugas sebagai ketua komite evaluasi IFAD. Tapi, saya ingin membuktikan bahwa saya tidak kalah dengan kepemimpinan sebelumnya.

Bahkan saya berusaha menjadi lebih baik,” kata peraih gelar master dari Columbia University, New York, itu. Selain itu, saat berada di Roma, Nining juga pernah mendapat pengalaman berharga sebagai pemimpin sebuah pertemuan karena Indonesia merupakan ketuanya. Dia memimpin sidang List B atau negara-negara APEC.

”Itu pengalaman paling berharga buat saya dan pertama kali saya alami. Berdiri dalam sebuah forum yang mewakili beberapa negara sekaligus,” ucapnya. Nining menambahkan, tidak mudah baginya menyatukan kepala dalam kelompok APEC. Apalagi mereka memiliki kepentingan masingmasing.

Sementara dalam pertemuan harus dicapai kata sepakat. Sebagai wanita yang relatif masih muda sekaligus mewakili negara-negara lain yang cukup senior kala itu, Nining merasa tertantang. Terlebih setengah dari anggota pertemuan berasal dari negara Arab. ”Mereka sofinistik banget.

Jadi, dipimpin oleh wanita itu aneh buat mereka. Makanya, saya saat itu melakukan pendekatan secara formal dan informal kepada mereka. Bagi saya, itu menjadi pengalaman yang sangat luar biasa,” pungkas wanita yang hobi travelingdan membaca novel itu.

robi ardianto