Edisi 03-07-2016
Bengkel Rohani Buya Syafii


Ahmad Syafii Maarif adalah sosok yang sangat familier di masyarakat. Kiprahnya di pelbagai organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah sudah tidak bisa diragukan lagi.

Apalagi, ia juga pernah menduduki beberapa jabatan penting. Ia tak kenal lelah untuk ambil bagian menghalau gurita korupsi, mafia hukum, dan mafia pangan hingga batas-batas yang mungkin dilakukan. Figur kelahiran Sumpur Kudus, Sumatera Barat ini konsisten menyerukan pentingnya moralitas publik supaya bangsa ini lekas siuman, bangkit dari keterpurukan.

Lelaki yang lebih akrab disapa Buya Syafii ini juga dikenal sebagai sejarawan, pemikir cum aktivis Islam, mantan pucuk pimpinan Muhammadiyah, hingga dinobatkan sebagai guru bangsa. Pikiran-pikiran kritisnya telah mewarnai perjalanan Indonesia Pasca-Orde Baru. Posisi dan pandangannya juga selalu dijadikan rujukan dalam perjuangan merawat akal sehat publik di tengah dinamika politik kebangsaan yang seringkali menggerogoti etika dan moralitas publik (h ii).

Bengkel Buya: Belajar dari Kearifan Wong Cilik adalah rekam jejak kehidupan seharihari Buya Syafii, terutama tentang pergaulannya di tengah masyarakat wong cilik di Yogyakarta. Buku ini menarik dan inspiratif karena pembaca dibawa bertualang menyusuri beberapa tempat di Kota Pelajar yang juga dikenal dengan Kota Gudeg. Pergaulan Buya Syafii dengan masyarakat wong cilik di lingkungan rumahnya menggerakkannya untuk menulis kisah- kisah mereka dalam bentuk tulisan yang dimuat sebuah harian Ibu Kota.

Tulisantulisannya yang bernas banyak menggugah pembaca untuk melakukan ihwal positif, becermin pada kejadian sehari-hari yang dikemas dalam tulisan ringan, namun sangat menyentuh relung hati pembaca. Dalam buku 108 halaman ini, Buya mengisahkan pergaulannya dengan sosok-sosok bersahaja yang patut untuk diteladani.

Sosok-sosok yang akan menyadarkan kita bahwa di belahan bumi ini banyak manusia yang masih kurang beruntung. Hidup mereka sangat sederhana dan jauh dari kemapanan. Karena itu, mereka tak pernah lelah bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. Ada bapak tukang bengkel jujur yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dalam bekerja.

Suatu hari Buya Syafii harus memperbaiki sepeda ontelnya yang sudah kurang enak dipakai. Si tukang bengkel pun memeriksa sepeda Buya dan memberitahukan apa saja yang harus diperbaiki dan diganti. Jika si bapak tukang bengkel mau, bisa saja dia memberitahukan bahwa beberapa komponen sepeda harus diganti agar alat-alat yang dijualnya di bengkel laku.

Tapi, yang dilakukannya justru mengatakan yang sebenarnya, mana alat yang masih bagus dan enak dipakai, dan mana yang harus diganti (h 11). Ada juga kisah Suparmin, korban gempa Yogyakarta, 27 Mei 2006. Suparmin adalah sosok yang pantas untuk dijadikan pelajaran dalam mengarungi hidup yang berat. Sebelah kakinya yang pincang dan tidak bisa berjalan normal tak menyurutkan semangatnya untuk bekerja dan mencari nafkah.

Ia bekerja sebagai tukang asah pisau keliling. Bermodalkan batu asah, ia berkeliling kampung untuk menawarkan jasa. Ternyata pelanggannya juga banyak. Banyak ibu-ibu kompleks yang memakai jasanya untuk mengasahkan pisau dapur atau gunting yang sudah kurang tajam. Suparmin berangkat dari rumahnya pagi hari dan pulang pada sore hari.

Setiap pulang ia biasanya membawakan istrinya beras atau minyak kelapa serta kebutuhan- kebutuhan lain. Kegigihan Suparmin patut dijadikan teladan oleh siapa pun bahwa hidup harus tetap berjalan dan diperjuangkan. Pak Suparmin pantang untuk memanfaatkan kekurangan fisiknya misal untuk menadah dan memintaminta kepada orang lain, sebagaimana banyak dilakukan banyak penyandang disabilitas (h 60).

Selain kisah bapak tukang bengkel dan Suparmin si pengasah pisau, juga ada kisah seorang bapak bernama Tugimin, yang sangat setia menjadi marbot Masjid Syuhada, masjid bersejarah di DIY yang didirikan pada 1950. Setiap hari Pak Tugimin membersihkan masjid dan mengantarkan undangan atau jadwal khatib Jumat kepada yang bertugas, termasuk Buya Syafii. Suatu hari Buya Syafii menulis kisah Pak Tugimin untuk surat kabar yang biasa memuat tulisan-tulisannya.

Ternyata ada seseorang yang terketuk hatinya dengan tulisan tersebut. Orang baik tersebut berniat menghajikan Pak Tugimin yang sudah sepuh. Pak Tugimin tentu sangat senang dan menyambut baik kebaikan orang tersebut. Mimpinya untuk melihat Kakbah secara langsung akhirnya tercapai (h 58).

Buku ini mengajarkan banyak hal, terutama tentang kebersahajaan, bagaimana bergaul dengan masyarakat kecil, menghargai orang yang lebih sepuh, hingga bagaimana menempatkan diri sebagai seorangmanusia yang senantiasa berintrospeksi dan bersyukur atas segala nikmat yang telah Tuhan beri.

Kisah-kisah yang dituturkan Buya Syafii dalam buku ini menjelaskan kepada pembaca bahwa ada ayat-ayat Tuhan dalam mutiara kearifan mereka. Kita bisa belajar dari kegigihan, kesabaran, perjuangan, serta pengorbanan para wong cilik yang selama ini seringkali dipandang sebelah mata. Sebuah pelajaran penting di tengah langkanya keteladanan dan krisis moralitas yang melanda negeri ini.

Untung Wahyudi,
Lulusan UIN Sunan Ampel,
Surabaya