Edisi 03-07-2016
Daerah Harus Lebih Kreatif dan Inovatif


Pada era otonomi daerah saat ini pemda dan dinas pariwisata setempat hendaknya lebih kreatif dan inovatif dalam memajukan pariwisata daerahnya.

”Kalaupun daerahnya tidak punya keindahan alam yang bisa dijual sebagai atraksi wisata, pemda setempat bisa saja menggelar festival yang mengedepankan kreativitas seperti festival layang-layang dan kuliner,” ungkap Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah Kementerian Pariwisata Tazbir.

Menurut Tazbir, komitmen dan keberpihakan pemda terhadap pariwisata diharapkan bisa membantu mewujudkan target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tahun ini sebanyak 12 juta wisman dan 260 juta pergerakan wisatawan Nusantara (wisnus). Dia menjelaskan, industri pariwisata akan dihadapkan pada kompetisi yang semakin ketat. Sebab itu, pemda dan seluruh stakeholders harus bersinergis dalam mengembangkan wisata.

Pemda juga tidak boleh lagi ”menganaktirikan” instansi yang terkait pariwisata seperti dinas kebersihan sebab kebersihan sebuah daerah menjadi salah satu alasan bagi wisatawan berkunjung ke suatu destinasi. Pemda, lanjut dia, tidak boleh lagi berlindung pada keterbatasan infrastruktur untuk memajukan pariwisata di daerah.

”Tinggal jalanin saja. Investor akan masuk jika tamu datang. Terpenting, destinasi itu aman, nyaman, dan bersih,” katanya. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, Jateng memiliki banyak potensi wisata yang dapat mengangkat pendapatan asli daerah (PAD). Selain objek wisata yang ada, pihaknya juga akan mengembangkan wisata minat khusus seperti tracking Merapi, tur ke Dieng, atau living in Karimunjawa.

”Ini inovasi baru, harapannya bisa banyak menarik pengunjung,” ungkap dia. Selain minat khusus, pihaknya juga akan memperbanyak event untuk mendongkrak kunjungan pariwisata. Untuk mendukung sektor pariwisata itu, tahun ini Pemprov Jateng menggenjot pembangunan infrastruktur pariwisata sebab sektor pariwisata diharapkan menjadi penggerak perekonomian masyarakat.

Kepala Bidang Promosi Pariwisata Disbudpar Kabupaten Karanganyar Bambang Sugito mengatakan, saat ini di daerahnya yang gencar dipromosikan adalah berwisata ke acara spiritual. Di Karanganyar terdapat Candi Cetho yang merupakan Candi Hindu peninggalan masa akhir kejayaan Majapahit.

Saat hari raya agama Hindu, candi tersebut selalu digelar upacara-upacara keagamaan seperti saat Galungan, Kuningan, Nyepi, serta beberapa acara lainnya. Menurut dia, acara-acara tersebut selama ini masih bersifat tradisional dan hanya diikuti oleh umat yang menjalankan. Minimnya promosi di tahun-tahun sebelumnya membuat masyarakat tidak tahu kalau di Karangayar terdapat acara-acara keagamaan tersebut.

Padahal jika dipromosikan sejak awal, kemungkinan besar jumlah wisatawan yang berkunjung ke acara tersebut tidaklah sedikit. Seperti di Bali, setiap acara keagamaan selalu dikunjungi oleh wisatawan dengan jumlah yang tidak sedikit. ”Budayanya sama dan potensinya juga sama yang ada di Bali, bahkan di Karanganyar pemandangan yang disuguhkan juga tidak kalah menarik,” jelasnya.

hermansah/amin fauzi/ arief setiadi