Edisi 03-07-2016
Estetika ”Rasa-Guna” (Bagian II)


Karena estetika ”Barat” berjalan dan berkembang untuk mencari dasar- dasar rasionalitas pengalaman rasa seninya menjadi rumusan teori mulai abad 18, sebenarnya baru pada abad 18 itulah apa yang dihayati sebagai rasa seni pemuliaan kehidupan difilsafatkan sebagai estetika.

Baru pada saat itulah, penghayatan mengenai apa yang indah dan subur dari tanah dan gunung (apex mundi) dirumuskan menjadi ”teori” mengenai seni yang kemudian dengan bahasa tulis dibuat menjadi rumusan tentang apa itu seni. Sejak itulah, ada dua macam cara menghayati estetika, meski sumbernya tetap satu dan sama, yaitu kehidupan itu sendiri. Cara yang satu dibuatkan kriteria dan dasar logis rasional.

Hegel menjelaskan mengenai ”momen estetis” dengan penamaan yang sublim, yang tragis, lucu, dan yang jelita (gracious). Momen ini ditemukan dalam pengalaman manusia tempatnya ”sekejap” di ambang antara yang jasmani dan yang rohani, saat transisi materi menampakkan yang roh dan yang rohani menjelma dalam materi. Karena itu, momen estetis untuk Hegel adalah sublim, di mana roh menang atas materi.

Cara pandang estetika kedua merupakan cara melihat pengalaman estetis dari penghayatan dan dalam kehidupan itu sendiri dengan rasa. Bila cara menghayati, melihat hidup nyata dengan rasa sudah disepakati untuk estetika Nusantara Indonesia, dari tradisi Jawa pula dikenal dua macam rasa-rasa atau emosi. Yang pertama adalah ”bawa” (bhawa) yaitu emosi-emosi yang spontan muncul sebagai reaksi murni langsung ketika menghayati hidup nyata ini.

Yang kedua adalah ”raos” (rasa) yang merupakan emosiemosi yang sudah disaring, diseleksi dengan keheningan samadhi budi dan hati. Bawa-raos ini menjadi kunci penghayatan hidup dalam estetika rasa sehingga menyadari tempat dalam tata semesta dan berperilaku menurut tempatnya ini. Di sinilah mengapa seorang ksatria dalam wayang harus tahu tempat melalui samadhi (meditasi) dan kewajibannya untuk menjaga tata kosmos harmonis dan menyingkirkan sumber- sumber chaos yang mengacau kosmos.

Dalam estetika rasa inilah dikenal fungsi perayaan dan pemuliaan hidup dengan kata kunci ”guna” yang harfiah berarti memberi manfaat, memberi daya hidup, memberi kualitas sumbangsih untuk semesta dalam ungkapan ”amemayu - hayuning bawana” (membuat se-mesta semakin indah, semakin ayu untuk hidup di dalamnya).

Dalam ungkapan energi inilah ”dayaning kagunan” menjadi ukuran, dasar, kriteria untuk karya-karya seni mulai dari wayang kulit, tari, pewarnaan, sastra, bahkan pengetahuan membatik. Dalam sastra Jawa, yang dideskripsidalamkategori kagum adalah naskah-naskah mengenai pengetahuan seni kriya, batik, keterampilan keris, seni tari, dan lagu tembang. Guna dan kagunan juga diartikan sebagai ”cerdas bijaksana dalam hidup.

Maka kriteria kagunan adalah agar berguna dan memberi kualitas pada kehidupan. Estetika kagunan bisa disebut sebagai usaha seniman dalam menguasai kecakapan dalam kerja berkesenian, ingin membahasakan inti rasa indahnya kehidupan dan demi kelangsungan hidup itu sendiri. Kagunan ini sekaligus merupakan kombinasi antara ilmu jatinya hidup (kawruh) untuk berbahasa seni.

Karena harmoni hidup mesti dihayati dengan rasa yang mengheningkan, yang mengharmonisasikan ”ruang” (di Bali dengan istilah ”desa”); waktu (kala) dan diolah dalam ”patra” (raos winiraos =rasa batin) agar berdaya guna bagi kehidupan, maka kriteria estetika ”raos” atau rasa bukan berpijak pada pemahaman, pengetahuan rasional, atau raga materi badan, tetapi pada keseimbangan rasa yang mengolah sehingga menjadi berguna bagi kehidupan.

Inti tak terbahasakan dalam ”bahasa” untuk estetika rasa ini di Bali disebut ”taksu”. Maka sesuatu yang indah, yang seni pasti bisa dirasakan ruh hidupnya dalam taksu-nya. Maka estetika kagunan atau rasa guna ini bila disederhanakan selalu akan memberi tuntunan pada seniman untuk karyakarya seni yang ”berguna, berdaya hidup, yang berkontribusi untuk kehidupan entah membuat hidup lebih harmonis, lebih indah, lebih utuh”.

Di sini memperbandingkan estetika ”Barat” dan ”Nusantara” yang titik temunya sama, yaitu bersumber dari satu kehidupan yang sama. Namun, estetika Nusantara diutuhkan rasa estetisnya kehidupan yang ”chaos” ini dalam rasa kagunan yang mengutuhkan. Sementara kehidupan yang sama diurai rasional dalam tiga ranah oleh estetika ”Barat” dalam ENS est bonum, verum, pulchrum. Kehidupan atau yang ada itu sekaligus ”baik” (menjadi dambaan yang mau diraih etika, moralitas); sekaligus ”benar” (menjadi cita-cita yang mau dicari pengetahuan); dan ”indah” yang menjadi gapaian estetika.

MUDJI SUTRISNO, SJ
Budayawan