Edisi 03-07-2016
Hunian dengan Sense of Art Pribadi


Ibu Kota dengan segala hiruk-pikuk dan kepadatannya memang ”melelahkan”. Begitu yang dirasakan praktisi mode Sonny Muchlison. Oleh karena itu, ia ingin merasakan suasana ringan, santai, dan tenang begitu tiba di rumah.

Sonny ingin suasana desa terasa di kediamannya. ”Saya ingin, walau menghuni rumah di kota namun bisa merasakan hidup nyaman layaknya di daerah. Padahal masih di kota,” kata Sonny kepada KORAN SINDO saat dikunjungi di kediamannya di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Fasad griya ini memunculkan perpaduan merah bata dengan tanaman hijau yang menjuntai.

Ditambah elemen yang menimbulkan suara gemericik air yang berada di teras rumah. Suasana yang jauh berbeda dari hiruk-pikuk kota. Sedikit demi sedikit, Sonny menyulap rumah BTN menjadi hunian yang ia inginkan. Hunian yang bukan hanya nyaman untuk dirinya, tapi juga bagi setiap tamu yang berkunjung.

Tak sekadar kenyamanan, menurut Sonny, sebuah rumah juga harus memberikan ketenangan dan kebetahan. Griya yang ia tempati sejak 1990 ini disebutsebut mengusung gaya eklektik. Mengapa begitu? ”Disebut gaya eklektik, karena saya memasukkan unsur yang semampu saya bisa. Punya rumah tidak boleh ngoyo , apa adanya saja.

Sudut demi sudut dicicil dengan sense of art saya sendiri,” tutur alumnus Desain Tekstil Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini. Sebagai lulusan seni rupa, Sonny berkreasi dengan kemampuan yang ia miliki. Ia tak menggunakan jasa arsitek untuk mendesain rumahnya. Sonny mengatakan, banyak ”akal-akalan” yang ia terapkan dalam griya ini, namun tetap memperhatikan nilai estetika.

Contohnya saja kamar mandi di lantai dua. Seluruh bagian luar kamar mandi dilapisi dengan gebyok , atau plafon kayu melintang yang ia jadikan sebagai tempat memajang barang antik. ”Plafon itu sebenarnya jalur selang AC (air conditioner ). Saya buat seperti itu agar terbuka dan di atasnya saya taruh pajangan,” kata pria kelahiran Lamongan, 14 Oktober 1962 ini. Sonny senang memajang barang-barang antik.

Beberapa barang tersebut bahkan ada yang merupakan pemberian dari sahabatnya. Bagi Sonny, tidak boleh ada tempat yang terlupakan. Setiap sisi mendapatkan perhatian dan lebih memikirkan estetika. ”Jadi, begitu mereka ke sini dan melihat pemberiannya dipajang, mereka akan merasa dihargai,” ucap Sonny. Griya berunsur kayu dan etnik ini juga kental akan nuansa Indonesia, terutama Jawa dan Bali.

Hal itu tampak dari pemilihan furnitur dan pajangan. Sebut saja gebyok Jawa, kursi jengki, bangku berukir dari bonggol kelapa, meja dan pintu Bali, serta hiasan dinding dari kain batik. Sonny juga memiliki sepasang lemari kembar berisi koleksi kain asal 34 provinsi di Indonesia. Masing-masing barang tersebut memiliki kisah tersendiri.

Di lantai dua, kita bisa melihat beberapa koleksi mode rancangan Sonny. ”Bagaimana memperlihatkan bahwa saya adalah orang Indonesia. Maka jika berkunjung ke rumah saya, ya rumah Indonesia,” tuturnya. Selain itu, Sonny juga ingin menunjukkan bahwa detail pekerjaan orang Indonesia tidak kalah dengan asing. Seperti bangku bonggol kelapa yang diukir dan ukirannya itu mengisahkan cerita Ramayana.

”Enak sekali duduk di sini, seperti dipangku,” imbuh Sonny. Nuansa etnik Indonesia tak hanya mencirikan rumah, namun juga pemiliknya. Menurut Sonny, rumah yang tidak mencerminkan karakter pemiliknya adalah rumah yang salah. ”Rumah ini sangat mencerminkan diri saya, karena tampak etnik dari gaya berpakaian, koleksi kain, hingga membuat satu penampilan,” kata Dosen Tinjauan Mode, Kriya Tekstil, dan Tinjauan Kriya di IKJ ini.

Dominasi furnitur bermaterial kayu dipilihnya karena sreg di hati dan menimbulkan kesan hangat sehingga membuat betah. Lantai pun dibuat menggunakan warna netral untuk memberikan nuansa berkesinambungan. Juga, sentuhan bata yang mengelilingi bangunan dengan luas sekitar 185 meter persegi ini.

”Bata menjadi benang merah rumah ini. Bata, semakin dimakan cuaca semakin kuat,” ucap Sonny. Sebagai upaya membangun rumah yang ramah lingkungan, Sonny membuat huniannya tanpa kaca. Ia juga tidak memotong pohon yang tumbuh di sekitar rumah. Justru, rumah yang mengikuti lekuk pohon sehingga griya ini jadi berbentuk letter ”U”.

Seluruh ruangan di bangunan bertingkat 2,5 lantai tersebut menjadi favorit Sonny. Ia pun membebaskan para tamu untuk bercengkerama di mana saja, asal tidak di kamar utama. ”Seluruh ruangan terbuka kecuali kamar saya,” ucap pria berkaca mata ini. Cozy, itulah satu kata yang terlontar dari Sonny saat mendeskripsikan rumahnya.

Menurutnya, rumah adalah tempat di mana suasana menjadi penting. Hal yang membuat orang melongok bukan karena kemewahan, tapi keunikan. ”Rumah juga harus menjadi inspirasi bagi penghuni yang datang. Ada hal yang bisa didapatkan saat berkunjung,” tutup Sonny.

robi ardianto