Edisi 03-07-2016
Contra-Flow Gagal Atasi Kemacetan


BREBES – Kemacetan parah tak terelakkan terjadi di jalur utama pantai utara (pantura) Jawa Tengah (Jateng), tepatnya di sepanjang jalur Kabupaten Brebes hingga Kota Tegal. Berbagai upaya rekayasa lalu lintas, termasuk contraflow yang dilakukan untuk mengatasi kemacetan puncak mudik H-4 Lebaran kemarin, tidak membuahkan hasil.

Penumpukan kendaraan juga terjadi di sepanjang tol Pejagan hingga Brebes Timur. Para pengendara harus menempuh jalur sepanjang 20 km tersebut selama 4 jam. Padahal waktu tempuh normalnya tidak sampai 30 menit. Selain kawasan tersebut, kemacetan puncak mudik juga terjadi di jalur selatan. Ribuan kendaraan memadati sejumlah titik kemacetan, mulai dari pintu keluar tol Cileunyi hingga Nagreg dan perbatasan Kabupaten Garut.

Berdasarpantauan KORANSINDO hingga tadi malam, kemacetan jalur pantura Brebes sebelum masuk kawasan kota hingga keluar KotaTegal kianparahmulaisekitarpukul14.00 WIB. Di Brebes, kondisiterparahterjadiwilayah Bulakamba, Klampok, Alun-alun, Pasar Induk, dan Kaligangsa. Adapun di Kota Tegal, kemacetan terjadi sejak di perbatasan kota, terminal, dan jalan lingkar utara (jalingkut) yang dijadikan jalur alternatif.

Irfan, 30, seorang pemudik motor, mengaku harus menempuh jalur Brebes ke Tegal selama dua jam. Pengendara mobil lebih nahas lagi. Heri, 47, mengaku menempuh perjalanan selama 6 jam dari Brebes hingga Tegal. Total perjalanan yang dia tempuh dari Jakarta Timur hingga Brebes mencapai 17 jam. “Macet terutama di tol dan Brebes,” ujarnya. Tak hanya kendaraan arah Semarang yang terjebak kemacetan.

Kendaraan dari Jateng yang mengarah ke Jakarta juga harus merasakan kemacetan parah sebagai imbas pemberlakuan contra-flow yang membuat lajur jalan menyempit serta sistembuka tutupdipintukeluar tolBrebesTimur.“Saya dari Tegal jam 16.00 WIB, baru sampai Bulakamba jam 18.00 WIB, padahal biasanya tak sampai satu jam,” kata seorang pengendara, Zami, warga Bulakamba, kemarin.

Selain mengandalkan contraflow, untuk mengatasi kemacetan polisi menyarankan pemudik yang menggunakan tol untuk menggunakan jalur alternatif Dermoleng-Jatibarang-Slawi yangbisatembuskembalidijalan pantura Kota Tegal atau Kabupaten Tegal dengan keluar di pintu tol Pejagan. Kondisi di pintukeluarBrebesTimurterjadi antrean panjang. Silakan keluar Pejagan via Dermoleng-Slawi.

Hindari kepadatan Kota Tegal,” demikian bunyi pesan pendek info mudik yang dikirimkan Polda Jateng pukul 13.15 WIB. Namun lagi-lagi, akibat tingginya arus kendaraan, jalur alternatif tersebut pun macet. Selain akibat tingginya arus mudik, kemacetan juga dipicu aktivitas kendaraan warga lokal di sekitar pasar tradisional. Arus lalu lintas baru lancar setelah keluar dari Jatibarang, Brebes.

Kemacetan parah juga terjadi di ruas jalan tol Pejagan- Brebes Timur. Kemacetan parah terjadi karena volume kendaraan pemudik yang meningkat signifikan. “Macetnya parah. Antre dari Pejagan hingga Brebes Timur sampai 4 jam,” kata salah seorang pemudik Suyoto, 54, di Gerbang Tol Brebes Timur kemarin. Suyoto yang hendak mudik menuju Nganjuk, Jawa Timur, mengatakan, kemacetan sudah terjadi sejak tol Cikopo-Palimanan (Cipali).

Berangkat dari Bekasi pada Jumat (1/7) malam sekitar pukul 23.00 WIB, dia baru sampai di Brebes sekitar pukul 12.00 WIB. “Lamanya 12 jam dari Bekasi ke sini (Brebes),” ungkapnya. Dari pantauan KORAN SINDO di tol Pejagan-Brebes Timur, antrean kendaraan pemudik mengular sepanjang sekitar 20 km menjelang Gerbang Tol Brebes Timur. Kendaraan lebih sering tak bergerak selama lebih dari dua jam.

Ekor kemacetanterpantaumencapaitol Kanci-Pejagan. Penumpukan kendaraan juga terjadi setelah keluar dari gerbang tol hingga pintu keluar tol Brebes Timur sepanjang sekitar 2 km karena polisi memberlakukan buka tutup untuk arus kendaraan dari arah tol dan jalur pantura. Buka tutup dilakukan tiap 15 menit sehingga memicu penumpukan kendaraan dari arah tol, Brebes, dan Kota Tegal.

Dibukanya pintu keluar tol Brebes Barat untuk mengurangi kepadatan di pintu keluar tol Brebes Timur tak cukup efektif. Menjelang pintu keluar tol Brebes Barat kendaraan pemudik juga terjebak kemacetan sepanjang 5 km. Tak hanya itu, selepas keluar tol, pemudik juga dihadapkan pada kemacetan di jalur pantura.

“Ini sudah dua jam lebih belum keluar dari tol,” kata seorang pemudik yang hendak keluar melalui pintu keluar tol Brebes Barat, Fauzan, 36, kemarin. Kapolda Jateng Irjen (Pol) Condro Kirono mengaku pihaknyasudahberkoordinasidengan PoldaJawaBaratagarkendaraan dari dalam tol diarahkan keluar sejak dari pintu keluar tol Kanci danmenujujalurpantura.

Halini untukmencegahbertambahnya antrean kendaraan di tol Pejagan-Brebes Timur. “Kita juga minta gate Brebes Timur ditambah satu sehingga yang ke Jakarta cukup satu aja. Untuk contra-flow masih diberlakukan sampai hari ini sejak kemarin. Sampai kapan kita lihat sampai hari Senin nanti,” ujarnya.

Dia memperkirakan arus mudik Minggu ini tidak sepadat pada H-4 Lebaran. Kasat Lantas Polres Brebes AKP Arfan Zulkan Sipayung mengatakan, hingga Jumat (1/7) atau H-5, jumlah kendaraan pemudik yang melintas sudah mencapai 80.000 unit. “Hari ini (kemarin) kemungkinan masih akan meningkat bila dibandingkan dengan hari sebelumnya,” sebutnya.

Arfan mengatakan, kemacetanselepaskeluardari GerbangTol Brebes Timur disebabkan pertemuan arus kendaraan dari arah tol, Brebes, dan Kota Tegal. “Macetnya karena adanya crossing di pintu keluar tol. Dari sebelum gerbang tol juga sudah antre dan padat,” ucapnya. Arfan juga menuturkan, untuk mengurangi antrean di gerbang tol, tarif tol Pejagan- Brebes Timur diturunkan dari Rp 55.500 menjadi Rp 50.000.

Penurunan ini untuk mempercepat proses transaksi di gerbang tol sehingga tidak terjadi penumpukan kendaraan. “Per hari ini pukul 06.00 WIB mulai diturunkan tarifnya jadi Rp 55.000,” ujar dia. Sementaraitu, lonjakanarus mudik juga terjadi di sepanjang pantura Jawa Barat. Kepadatan kendaraan yang didominasi motor, dari arah Jakarta ke Cirebon, mulai terlihat sejak masuk ke wilayah perbatasan Subang-Indramayu.

Ribuan sepeda motor melintasi jalur pantura tanpa terputus. Kendaraan hanya dapat melaju dengan kecepatan rendah kurang lebih 30-40 km/jam. Selain sepeda motor, mobil pribadi berpelat B dan bus dari arah Jakarta juga terlihat di jalur pantura Indramayu. Berdasarkan data dari pos penghitungan kendaraan Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Indramayu, rata-rata per jam sepeda motor yang melintas dari arah Jakarta menuju Cirebon mencapai 3 ribu kendaraan. Sementara itu, kendaraan roda empat rata-rata per jamnya sebesar 1.500 kendaraan.

Macet dari Tol Cileunyi hingga Garut

Puncak arus mudik di jalur selatan terjadi kemarin. Ribuan kendaraansejakSabtupagi hingga malamhari telahmelewatijalur Nagreg, Kabupaten Bandung. Kemacetan pun tak terhindarkan, mulai dari pintu keluar tol Cileunyi hingga Nagreg dan perbatasan Kabupaten Garut. Berdasarkan data dari DinasPerhubunganKabupaten Bandung, kendaraan yang melintas di jalur Nagreg total hingga pukul 24.00 WIB ada 104.191 kendaraan dengan perincian 68.831 ke arah timur dan 35.360 ke arah barat.

Jumlah itu sudah melebihi angka pada Kamis (31/6) yang jumlahnya 93.331 kendaraan, terdiri atas 57.417 ke arah timur dan 35.914 ke arah barat. Adapun hingga pukul 13.00 WIB, jumlah kendaraan yang melintas mencapai 82.527. Perinciannya, 64.202 kendaraan menuju arah timur dan 18.325 ke arah barat.

“Jumlahnya terus meningkat, apalagi menjelang malam,” kata Wakil Komandan Posko Nagreg Ruddy Heryadi di Posko Nagreg, Kabupaten Bandung, semalam. Wakil Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Brigjen Pol Nana Sudjana menyatakan titik kemacetan jalur selatan berada di wilayah Kabupaten Garut. “Paling parah kemacetan di Pasar Limbangan,” kata Nana seusai rapat koordinasi pengamanan Lebaran di Pos Terpadu Polres Garut di Alunalun Limbangan kemarin.

farid firdaus/tomi indra/yugiprasetyo