Edisi 22-07-2016
Anak Muda Makin Minati Kuliah Jarak Jauh


JAKARTA - Anak muda kini semakin berminat kuliah di Pendidikan Tinggi Terbuka Jarak Jauh (PTTJJ). Konsep teknologi yang mendasari sistem pengajaran yang menyebabkan tingginya minat tersebut.

Rektor Universitas Terbuka (UT) Tian Belawati mengatakan, dalam usianya yang ke-32 tahun UT semakin banyak diisi mahasiswa dari kalangan muda. Mahasiswa yang berusia 30 tahun ada sekitar 40% dan di bawah 25 tahun sebanyak 25%.

”Semakin ke sini (sekarang) semakin banyak anak muda yang masuk UT. Kalau dulu kan kami mahasiswanya kebanyakan di atas 30 tahun. Target kami untuk memasyarakatkan UT di kalangan muda berhasil karena anak muda yang senang dengan gadget sementara pembelajaran kami mayoritas memang memakai teknologi,” katanya saat ketika ditemui di Jakarta kemarin.

UT sudah menyediakan aplikasi kuliah yang bisa diunduh di telepon seluler (ponsel) android. Mulai bahan ajar digital interaktif, akses perpustakaan digital, daftar ujian, hingga komunikasi antarsiswa bisa dilakukan di aplikasi tersebut. Saat ini mereka sedang mengembangkan ujian online berbasis internet dengan pengawasan online.

Dia menjanjikan pada akhir 2017 kuliah online di kampusnya akan semakin nyaman dengan tambahan aplikasi fungsional lainnya. Sebanyak 70% mahasiswa UT mengambil jurusan keguruan. Ini terjadi karena adanya kewajiban pemerintah yang menyatakan guru mengajar harus linier dengan gelar kesarjanaannya. Namun jurusan lain, seperti ilmu hukum, perpustakaan, dan manajemen sudah banyak dilirik mahasiswa. ”Tercatat tiap semester ada 160.000 mata kuliah mahasiswa online yang diakses secara serentak,” tuturnya.

Menjabat sebagai rektor sejak 2009 atau bersamaan dengan booming -nya masyarakat menggunakan internet tidak hanya sebagai media pendidikan. Internet telah dikenal sebagai online education dan Tian ingin menangkap perkembangan zaman ini untuk memajukan UT.

”Ketika saya menjadi rektor UT, agenda utama saya ingin meningkatkan pemanfaatan ICT ilmu komputer dan teknologi untuk belajar. ICT tidak hanya untuk manajemen, tetapi pembelajaran. Namun, kita ingin mengampanyekan kepada mahasiswa untuk aktif memanfaatkan layanan UT. Apalagi, UT itu kuliah pembelajaran jarak jauh dan bukan tatap muka,” ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek-Dikti) M Nasir menjelaskan, perguruan tinggi memang harus memperhatikan tingkat ketersiapan teknologi (Technology Readiness Level) dan inovasi. Teknologi yang tinggi dapat diwujudkan apabila pemilihan jenis dan pengembangan teknologi dilakukan dengan tepat dan berkelanjutan.

Kemudian, inovasi akan menghasilkan output baru dan bisa diaplikasikan apabila mendapat dukungan teknologi yang tepat. ”Saya harap perguruan tinggi mampu melihat dengan jeli dan teliti, teknologi apa yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan lokal, nasional, danbahkaninternasional,” imbuhnya.

Nasir pun menuturkan citacitanya bahwa ke depan pengembangan teknologi dan inovasi pada perguruan tinggi bisa menghasilkan suatu yang bermanfaat bagi bangsa dan bisa bersaing secara global. Menurut dia, mahasiswa memerlukan pembelajaran yang lebih dari saat ini. Mahasiswa harus dibekali dengan kemampuan berkolaborasi, komunikasi dan memecahkan masalah.

Hal ini agar mahasiswa dapat berkembang di abad ke-21 dan era ekonomi baru yang ditandai dengan persaingan bebas, cepatnya suatu informasi, meningkatnya kompleksitas, bisnis, dan globalisasi. Pada dua dekade terakhir pendidikan tinggi terus meningkat perubahannya. Mulai dari peningkatan jumlah mahasiswa, perubahan demografis, tuntutan pada transparansi, integritas, dan tanggung jawab perguruan tinggi.

neneng zubaidah