Edisi 21-08-2016
Wapres Berharap Pondok Gontor Tetap Visioner


PONOROGO – Wakil Presiden RI Jusuf Kalla berharap Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor mempertahankan kemodernannya dengan terus mengembangkan sistem pendidikan yang visioner.

”Modern itu visioner, artinya berpikir kekinian dan yang akan datang. Pendidikan harus melihat ke depan, karena (ilmu) yang didapat anak-anak yang sekarang sedang belajar, yang usainya 12 atau 15 tahun, akan dimanfaatkan pada 10 tahun ke depan,”kata JK saat memberikan sambutan pada acara Peringatan 90 Tahun Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, kemarin.

JK mengatakan, dunia pendidikan tidaklah seperti museum, yang ”menjual” sejarah di bekakang. Sebaliknya pendidikan harus melihat kebutuhan di masa mendatang dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat di masa depan, bukan hanya ilmuilmu yang sedang laku di masa kini. Karena itu, JK mendorong Pondok Gontor mempertahankan kata modern agar terus dilekatkan pada nama lembaga pendidikan tersebut.

Sebab dengan begitu, pengelola, santri, alumni, bahkan masyarakat luas bisa terus mengingat makna kata modern tersebut. ”Modern pada 2006 berbeda dengan modern pada 2016. Modern itu harus selalu dinamis,” tutur JK. Dalam kesempatan itu, JK juga memberi apresiasi kepada PP Modern Darussalam Gontor. Menurut dia, lembaga pendidikan yang berdiri sejak tahun 1926 itu bersifat nasional.

Sebab, santrinya berasal dari beberapa daerah dan suku berbeda. Selain itu, pemikiran-pemikiran yang memiliki pandangan internasional. Pengasuh PP Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal mengatakan, Pondok Gontor dan seluruh pengasuhnya masih membutuhkan dukungan dari banyak pihak.

Hal ini untuk mewujudkan cita-cita para pendirinya. ”Ibaratnya cita-cita itu adalah pergi ke Mekkah, kami ini baru sampai ke Jakarta. Jadi masih jauh sekali. Dengan kebersamaan, dengan pemerintah maka pondok ini akan terus berjuang mengisi kemerdekaan dalam pendidikan,” KH Hasan Abdullah Sahal. Dikatakannya, naluri pesantren yang ditanamkan para pendiri Pondok Gontor adalah untuk membentengi negera dari pengaruh penjajah.

”Terutama dengan pendidikan keindonesaiaan, sehingga anak bangsa ini menjadi bangsa yang anti penjajah dan anti penjajahan. Itu yang harus kita jaga dan Insya Allah sampai skarang selalu terjaga,” ujarnya. Dalam kunjungannya, JK sempat melaksanakan sujud syukur bersama para santri dan alumni Pondok Modern Gontor seusai menunaikan Salat Zuhur berjamaah di masjid induk pondok pesantren tersebut.

JK juga melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung perpustakaan Universitas Darussalam Gontor dan meresmikan gedung asrama mahasiswa Unida. Hadir dalam acara ini Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hidayat Nur Wahid, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang juga alumni Pondok Gontor, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni dan sejumlah tokoh masyarakat. Pondok Modern Gontor didirikan tiga bersaudara KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi.

Ketiganya adalah putera Kyai Santoso Anom Besari, generasi ketiga pendiri Pondok Gontor. Sejak berdiri pada 20 September 1926, Pondok Modern Gontor telah menelurkan ribuan alumni yang kini tersebar di berbagai lingkungan. Sejumlah nama tokoh di Indonesia yang berseberangan secara sikap dan pemikiran, diketahui merupakan alumni atau pernah mengecap pendidikan di Pondok Modern Gontor.

Selain almarhum Nurcholis Madjid yang dikenal sebagai tokoh pemikir Islam terkemuka, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan mantan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi juga merupakan alumni Pondok Modern Gontor. Nama lain yang pernah terkenal adalah Abu Bakar Baasyir, pengasuh Pesantren Al-Mu’min di Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Alumni Gontor tahun 1959 ini banyak menjadi bahan pembicaraan karena dikaitkaitkan dengan sejumlah kasus terorisme di Indonesia. Budayawan Emha Ainun Najib alias Cak Nun juga jebolan Pondok Gontor. Fakta tentang keragaman alumni Pondok Modern Gontor memang tak lepas dari moto pendidikan Pondok Modern Gontor yaitu berbudi tinggi; berbadan sehat; berpengetahuan luas; dan berpikiran bebas.

Mengenai hal ini, keluarga pengasuh Pondok Modern Gontor mengatakan tidak ada yang salah dengan perbedaan sikap dan pemikiran para alumni. Sebab setelah lulus dari pondok, mereka adalah pribadi mandiri yang bebas. ”Alumni itu bermacammacam. Namun mereka bukan representasi Gontor. Gontor ya Gontor, bukan Abu Bakar Baasyir atau Nurcholis Madjid. Itu berbeda,” kata Prof Dr KH Amal Fathullah Zarkasyi, putra KH Imam Zarkasyi.

dili eyato

Berita Lainnya...