Edisi 21-08-2016
Si Anak Manja Sudah Ditunggu Tantangan “Duel” Sang Ayah


Berpasangan dengan Liliana Natsir atau Butet, Tontowi Ahmad (Owi) hampir meraih semua gelar bergengsi di cabang bulutangkis. Mulai dari juara ganda campuran All England (2012, 2013, 2014), juara dunia (2013) hingga menyabet emas pada Olimpiade 2016 di Brasil belum lama ini.

Capaian luar biasa ini tentu tak mudah digapai Owi. Pemuda kelahiran Desa Selandaka, Kecamatan Sumpyuh, Kabupaten Banyumas ini sejak kecil sudah dituntut berperilaku disiplin. Latihan keras juga diterapkan sang ayah, Husni Muzaitun, 62. “Sejak masuk madrasah ibtidaiyah (MI), Owi sudah saya kenalkan dengan olahraga bulutangkis.

Dia pun saya latih sendiri bagaimana teknik bermain bulutangkis, dan saya latih kedisiplinannya,” papar Husni didampingi istrinya, Masruroh, saat ditemui KORAN SINDO di kediamannya, Jumat (19/8). Owi sendiri berasal dari lingkungan keluarga terpandang di desanya. Kedua orang tuanya, ibunya adalah mantan kades di Desa Selandaka, Sumpyuh.

Ibu Owi, Masruroh adalah Kades tahun 1987-1997 dan ayahnya adalah di periode 1998-2007. Meski berasal dari keluarga terpandang di desanya, pria kelahiran 18 Juli 1987 itu tetap menjalani rutinitas seperti anak kampung biasa. Pagi hari sekolah, sore hari latihan fisik dan berlatih bulutangkis.

Lalu setelah salat magrib mengaji Alquran di masjid di depan rumahnya. “Kalau hari libur, tiap pagi dia dan kakaknya saya ajak lari pagi,” ujar Husni. Bagi Husni, pentingnya mendidik kedisiplinan dan mengenalkan olahraga sejak dini adalah kunci mencetak sebuah prestasi. “Tidak hari libur pun, tiap sore saya ajak berlari. Setelah berlari langsung saya berikan latihan bulutangkis dan kami bertanding,” ucapnya.

Saat digembleng ayahnya, Owi berlatih bersama kakaknya, Yahya Hasan. Setiap hari mereka harus melahap menu disiplin dan gemblengan fisik. “Sebetulnya yang saya jagokan adalah kakaknya, Owi anaknya manja. Dia mau berlari kalau saat saya ada. Kalau saya tidak ada, dia berjalan kaki,” papar Husni tersenyum.

Dibandingkan kakaknya yang lebih dulu menguasai bulutangkis, Owi justru dianggap sebelah mata oleh Husni. “Prestasi Yahya, malah pernah berlatih di PB Pelita Jaya Jakarta di bawah bimbingan Icuk Sugiarto. Tapi karena Yahya sakit, lalu dia pulang ke Sumpyuh,” ucap Husni. Owi saat itu sekolah di MI Miftahul Huda dan sejak duduk di bangku MI belum pernah meraih prestasi bulutangkis.

“Dia sejak sekolah di MI belum pernah punya prestasi. Baru saat dia duduk di bangku kelas I SMP, sekitar tahun 1998-1999, dia meraih juara tiga di tingkat Kecamatan Sumpyuh,” ungkapnya. Berbekal sedikit pengalaman dan buku bermain bulutangkis dari mantan Juara Dunia Icuk Sugiarto, Husni mengajarkan bulutangkis kepada Owi.

Husni yang pernah mengikuti Kejuaraan Bulutangkis DIY Open pada 1978 ini mengaku sangat berhasrat salah satu dari putranya bisa menjadi pemain bulutangkis nasional. Husni mengatakan Owi adalah anak ragil. Dia memiliki dua kakak, masing-masing Yahya dan Maria Uswatun. Kedua kakaknya saat ini tinggal di Banyumas. Untuk menunjang bakat Owi, Husni membangun lapangan bulutangkisindoor di belakang tempat usahanya di daerah Mranggen. “Saya memang latih Owi setiap hari.

Dia saya latih disiplin waktu latihan dan saya didik agar tidak cengeng,” ujarnya. Dia kadang dibuat kesal oleh Owi yang ogah-ogahan jika diajak latih tanding bulutangkis. “Saya akali agar dia mau bermain, yakni saya janjikan uang Rp20.000 jika dia bisa mengalahkan saya,” ujar Husni. Menurut pengakuan Masruroh, Owi memang anak yang manja.

“Dia manja kepada saya. Ya, maklum karena dia anak ragil,” ujarnya. Kebiasaan yang selalu Owi lakukan kepada kedua orang tuanya, yakni selalu berkirim SMS beberapa menit sebelum masuk lapangan untuk bertanding. “Saat hendak masuk gelanggang pada final Olimpiade kemarin, dia berkirim SMS meminta kami untuk mendoakannya,” ungkap Masruroh. Dia kini menunggu kepulangan putra manjanya ke kampung halamannya.

“Saya siap memasakkan Owi sayur oseng kangkung dan sayur welok. Dan saya akan buatkan dia tempe mendoan kalau pulang nanti,” ujarnya. Owi-Butet Jakarta diperkirakan kembali ke Jakarta pada 23 Agustus nanti dari Rio de Jeneiro, Brasil. Mereka berdua akan diarak ke Istana Negara untuk disambut Presiden Joko Widodo.

Bonus melimpah pun bakal mereka terima. Untuk Owi, jika dia pulang ke kampung halamannya bakal diajak duel bermain single dengan ayahnya di lapangan indoor milik keluarga. Usai bermain bulutangkis, masakan kesukaannya oseng kangkung, sayur welok, serta tempe mendoan sudah siap disantap Owi.

HERY PRIYANTONO
Banyumas

Berita Lainnya...