Edisi 21-08-2016
Tak Berpikir Upah, Utamakan Keselamatan Pengguna Jalan


Kecelakaan di perlintasan kereta api tanpa palang pintu yang menghubungkan Tlogosari dan Jalan Ngablak Raya Muktiharjo Lor akhir 2014 lalu masih lekat di ingatan Satiman, 66.

Seorang pengendara motor tewas karena tidak menyadari kereta api dari arah barat dan timur yang melintas bersamaan. Saat itu baru beberapa hari Satiman menyelesaikan tugasnya sebagai penjaga perlintasan lepas. Dia bertugas selama dua pekan mulai H-7 hingga H+7 Lebaran. Tidak ingin perlintasan itu memakan korban lagi, dia mengajak beberapa rekannya sesama penarik becak setempat menjadi relawan penjaga perlintasan KA.

Mereka kemudian mencari balok kayu dan bambu untuk dijadikan palang pintu. Karena lokasi tersebut gelap pada malam hari, mereka patungan membeli dua lampu sebagai penerangan di dekat perlintasan tersebut. Adapun tenaga listrik,nyalur di warga setempat. “Tiap bulan kita bayar Rp50.000 dari hasil pemberian pengguna jalan,” ujar Satiman mengawali obrolan. Di tengah-tengah perlintasan disediakan kaleng plastik bekas di atas kursi sebagai wadah uang dari pengendara.

Perlintasan itu merupakan jalur yang padat selain di Jalan Wolter Monginsidi dan Brumbung. Satiman setiap hari menjaga perlintasan bersama dengan Jukeri, 51. Selain Satiman dan Jukeri, ada Samuri dan Jumadi, yang juga menjaga bergantian. Menurut Satiman, jika perlintasan dijaga dua orang, pengguna jalan akan benar-benar aman. Karena jika ada keperluan sebentar, masih ada satu penjaga yang ada di tempat itu.

Sejak ada perlintasan swadaya tersebut, dalam dua tahun terakhir tidak pernah ada kecelakaan. “Kecelakaan tidak pernah terjadi. Memang kadang-kadang ada yang masuk ke dalam perlintasan, ketika jam-jam sibuk dan banyak anak sekolah, tapi Alhamdulillah, tidak ada kecelakaan,” papar Satiman.

Perlintasan kereta api (KA) swadaya itu dijaga pukul 06.00- 14.00 WIB dan pukul 14.00- 22.00 WIB. Jadwal itu menyesuaikan dengan masa tugasnya ketika diperbantukan oleh PT KA saat Lebaran. Ketika di mintai tolong PT KA, warga Bangetayu Kulon RT 02/RW IV itu diberi honor Rp50.000 tiap shift. “Selama jadi relawan, saat hujan pernah masing-masing dapat Rp5.000. Kadang juga pernah dapat Rp40.000.

Tapi tidak apa-apa, saya ikhlas, yang penting pengguna jalan aman,” ujarnya. Jukeri menilai perlintasan di tempat itu sangat padat dan rawan kecelakaan. Apalagi dalam setiap hari, mulai pukul 06.00 hingga 16.00 WIB minimal ada 24 KA melintas. “Jika dihitung, tidak sampai setengah jam ada kereta melintas,” ucapnya.

Dana yang dikumpulkan dari hasil pengguna jalan itu tidak hanya untuk keperluan pribadi, tapi juga memperbaiki kerusakan jalan di sekitar rel. Jukeri mengaku pernah utang di toko bangunan tak jauh dari perlintasan tersebut. “Kami utang sampai Rp2 juta untuk beli semen, pasir, dan kricak untuk ngecor beton segi empat.

Pembayarannya kami cicil, kadang ada juga bantuan semen dari orang, tidak tahu siapa, hanya dikirim oleh utusan,” papar Jukeri. Jalur kereta api di Kota Semarang dari ujung timur ke barat, masih banyak perlintasan sebidang yang tidak berpalang pintu. Di beberapa perlintasan, sebagian memang sudah ada petugas dari Dishubkominfo Kota Semarang dan PT KAI.

ARIF PURNIAWAN
Kota Semarang

Berita Lainnya...