Edisi 21-08-2016
Matang karena Pernah Gagal


Usianya memang tak muda dan sempat terpuruk karena usaha yang dirintis sejak 2006 gulung tikar pada 2013 lalu. Namun Aliya Era Kartika, 41, tak menyerah dan justru bangkit dengan produk makanan olahan yang tak pernah terpikirkan orang lain sebelumnya.

Baginya, kegagalan dalam membangun usaha telah dialaminya lebih dari dua kali. Perempuan kelahiran Sumedang, 22 April 1975 ini sempat jatuh bangun dalam mengembangkan usaha makanan olahan brownis kukus, makaroni panggang, hingga rumah makan siap saji yang berlokasi di Jalan Raya Ir. Soekarno, Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Bahkan puncaknya, pada akhir 2013 lalu, dia ditinggalkan oleh belasan orang karyawannya karena usaha rumah makan siap saji yang dirintisnya bangkrut, dan hanya menyisakan dua orang karyawan. Namun, kegagalan demi kegagalan yang dilalami tak mematahkan semangatnya untuk terus berusaha, berkarya, dan berinovasi.

Sejak ditinggal puluhan karyawannya, Aliya berpikir keras agar usahanya bisa kembali hidup. Berawal dari kecintaannya terhadap tanah kelahirannya, Sumedang, pada 2014, Aliya mendapat ide brilian dengan mengkreasikan jajanan kue lapis dengan bahan pokok ubi cilembu khas Sumedang. Seperti apa proses kreativitasnya sehingga membuat kue ubi lapis khas Sumedang hingga dikenal luas, berikut petikan wawancara KORAN SINDO dengan Aliya, belum lama ini:

Seperti apa proses kreatif hingga tercipta kue lapis berbahan ubi cilembu yang dikenal khas karena rasanya yang manis dan legit?

Awalnya, berangkat dari kecintaan saya akan Kabupaten Sumedang yang kaya potensi. Saya berpikir selama ini Sumedang dikenal hanya karena tahu saja. Dari sana, saya terus berpikir, kenapa hanya tahu Sumedang saja makanan olahan yang terkenal. Setelah sebelumnya berjualan bolu kukus, pada 2014 itu, saya terpikir untuk membuat kue lapis berbahan baku utama ubi cilembu.

Sejauh mana peran keluarga dalam mendukung usaha yang Anda rintis?

Dukungan keluarga sangat penting. Terutama suami dan anak. Alhamdulillah berkat supportdari mereka pula saya bisa melewati semua ini dengan baik dan sekarang, Alhamdulillah usaha yang saya rintis ini mulai menghasilkan.

Siapa yang awalnya memiliki ide kreatif untuk membuat kue lapis dari ubi cilembu?

Saya, karena hobi saya yang senang mengolah makanan. Jadi semuanya dari rasa, mulai dari resep hingga rasa yang sekarang melekat pada Lapis Sumedang dan juga Bolen Sumedang Kartika Rasa.

Kenapa justru menonjolkan nama Lapis Sumedang sebagai brand penjualan ke masyarakat?

Kue lapis bisa dijumpai dimana saja. Tapi kue Lapis Sumedang hanya ada di Sumedang karena memang dari bahan bakunya menggunakan ubi cilembu yang hanya ada dan bisa ditanam di Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan. Semua orang sudah tahu dan suka rasa manis legit ubi cilembu ini.

Bahan dasarnya kan ubi cilembu, selama ini apakah pernah kesulitan atau kekurangan stok bahan ubi cilembu?

Alhamdulillah tidak, karena stok dari petani ubi cilembu sendiri selalu ada. Untuk memastikan ketersediaan stok bahan baku ubi cilembu ini, saya melakukan MoU (perjanjian) dengan kelompok tani di Desa Cilembu agar rutin mengirimkan ubi cilembu dengan kualitasA. Jadi tidak ada kendala dalam hal ketersediaan bahan baku utama ini.

Berapa orang karyawan yang membantu dari mulai proses awal pengolahan hingga pemasaran?

Saat ini saya mempekerjakan 27 orang karyawan mulai dari bagian pengolahan ubi, proses pembuatan lapis hingga karyawan yang melayani transaksi penjualan di outlet. Karyawan bagian dari keluarga saya, sebelumnya saya berikan pemahaman, tata cara dan keterampilan yang dibutuhkan hingga telaten dan mengerjakan pekerjaannya terutama karyawan yang bekerja langsung mengolah dan menyiapkan produk. Dalam perekrutan, saya mengajak saudara dan tetangga sekitar untuk bekerja.

Dalam kemasan Anda mencantumkan beberapa objek wisata yang ada di Kabupaten Sumedang, apa tujuannya?

Tentu saja untuk lebih mengenalkan potensi wisata yang ada di Sumedang. Dengan mencantumkannya dalam kemasan produk Lapis Sumedang bisa menjadi sarana promosi wisata Sumedang sekaligus promosi wisata kuliner Sumedang, khususnya Lapis Sumedang Kartika Rasa.

Selain produk Lapis Sumedang. Produk apa lagi yang ditawarkan Kartika Rasa?

Unggulannya tetap Lapis Sumedang edisi ubi madu Cilembu. Tapi ada juga Bolen Sumedang. Dan dalam waktu dekat, saya juga akan meluncurkan produk baru yakni Pia Boll Sumedang yang tentunya juga menggunakan bahan baku dari Ubi Cilembu asli.

Berapa modal awal yang Anda habiskan dan berapa omzet rata-rata saat ini?

Modal awalnya hanya Rp25 juta. Sekarang dari dua outlet yang saya miliki omzetnya sudah mencapai Rp10 juta/hari.

Target ke depannya seperti apa?

Setelah membuka satu cabang di Sumedang kota, ternyata animo masyarakat Sumedang akan produk saya ini besar sekali. Sehingga, target ke depannya adalah saya akan membuka cabang sebanyakbanyaknya di wilayah Sumedang. Dengan harapan pula dapat menyerap tenaga kerja asal Sumedang sebanyakbanyaknya. Untuk sementara waktu ini, belum terpikir membuka cabang di luar Sumedang. Masih fokus dulu di Sumedang dengan harapan dapat menjadi makanan favorit warga Sumedang sekaligus bisa dijadikan oleh-oleh khas Sumedang.

Apa tips dan pesan Anda bagi generasi muda yang akan menggeluti dunia usaha atau bisnis kuliner seperti yang Anda lakukan?

Jangan takut untuk memulai. Jangan mudah menyerah, jangan berhenti berusaha, jangan takut untuk mencoba hal-hal baru, pikirkan apa yang tidak orang lain pikirkan sebelumnya, dan ambilah peluang itu. Kemudian lakukan dengan sepenuh hati dan penuh keikhlasan.

aam aminullah

Berita Lainnya...