Edisi 21-08-2016
4 Tahun Jidan Buang Air Besar Melalui Perut


Penderitaan harus dialami Muhammad Jidan Rizki di usianya yang masih 4 tahun. Balita malang ini tak memiliki anus hingga harus buang air besar melalui perut. Kondisi itu mesti dia tanggung lantaran orang tuanya tak memiliki biaya menjalani operasi pembuatan lubang anus.

Jidan, panggilan anak keempat dari pasangan suami-istri Mudhofar, 35, dan Idah, 46, warga RT 04/RW 04 Desa Danawarih, Balapulang, Kabupaten Tegal tidak memiliki anus sejak lahir. Ketiadaan saluran pembuangan itu diketahui oleh orang tuanya beberapa jam setelah proses kelahiran yang ditangani bidan desa.

“Waktu lahir normalnormal saja. Tapi ketika mau mengganti kain, saya lihat tidak ada lubang anusnya,” ujar Idah saat ditemui kemarin. Tanpa menunggu waktu, Jidan pun langsung dibawa ke Rumah Sakit (RS) dr Soeselo, Slawi, Kabupaten Tegal. ‎Oleh dokter, Jidan kemudian dibuatkan lubang untuk buang air besar di bagian perut sebelah kiri.

“Seharusnya dioperasi untuk membuat lubang di anus. Tapi karena tidak punya biaya akhirnya hanya dibuatkan lubang di perut. Lubang ini yang sampai sekarang buat buang air besar,” papar Idah. Setelah pembuatan lubang itu, Jidan sebenarnya masih harus rutin kontrol ke rumah sakit satu pekan sekali. Namun, lagi-lagi biaya menjadi batu sandungan. “Sekali kontrol harus bayar Rp300.000.

Kami tidak punya biayanya,” ujar Idah. Idah sehari-hari hanya berdiam di rumah mengurus anak-anaknya. Sementara sang suami, Mudhofar hanya bekerja serabutan. Penghasilannya tak menentu. Padahal agar bisa memiliki anus,Jidan harus menjalani operasi yang membutuhkan biaya hingga puluhan juta. “Tidak ada biaya.

Buat seharihari saja sulit,” ucap Mudhofar. Mudhofar dan Idah pun terpaksa harus terus melihat penderitaan Jidan kala merengek hendak buang air besar. Sakit tak tertanggungkan dialami Jidan karena buang air besar dengan cara tidak normal. “Kalau buang air ada darah yang ikut keluar. Setelah itu dia juga merasa gatal-gatal. Nangis.

Buang airnya tidak normal. Semalam bisa sampai tujuh kali, jadi harus diawasi terus,” ungkap Idah. Mudhofar dan Idah bukannya tanpa upaya mengubah kondisi anak bungsu mereka. Salah satunya mengupayakan keringanan biaya di rumah sakit dengan mengurus BPJS. Namun upaya itu belum membuahkan hasil. “Jidan tidak punya BPJS.

Saya pernah urus dengan meminta surat keterangan dari lurah. Sampai sekarang belum dapat karena sulit,”kata Mudhofar. Mudhofar pun kini hanya pasrah dan berharap ada pihak yang mau membantu biaya operasi Jidan agar bisa kembali normal. “Kami tetap berupaya. Mudah-mudahan ada yang mau membantu.”

FARID FIRDAUS
Slawi

Berita Lainnya...