Edisi 21-08-2016
Cuaca Ekstrem, Panen Jagung Dipastikan Turun


YOGYAKARTA – Hasil panen palawija, khususnya jagung di DIYdiprediksiturun. Sebab, cuaca ekstrem dengan curah hujan yang tinggi membuat tanaman tidak bisa tumbuh maksimal.

Tanaman palawija tidak membutuhkan air yang banyak, tapi saat ini kondisi curah hujan membuat sawah terendam. Kepala Dinas Pertanian DIY Sasongko mengatakan, petani menanam palawija, termasuk jagung, harus menyiapkan drainase berupa saluran pembuangan air. Ini sebagai antisipasi tingginya curah hujan yang diprediksi berlangsung sampai akhir September. Menurut dia, tanpa adanya saluran pembuangan air, tanaman palawija akan terganggu karena kemungkinan tergenang air tinggi.

Dampak selanjutnya, hasil panen tidak maksimal. “Harapannya, drainase ini akan membantu masalah tersebut,” katanya, kemarin. Dia mengakui, pada 2015 produksi jagung di DIY ada 293.606 ton pipilan kering, sedangkan produksi jagung pada 2014 sebesar 312.236 ton. Artinya, terjadi penurunan 18.630 ton (5,97 %).

“Untuk 2016 ini, saya belum bisa pastikan besaran persentasenya. Yang jelas turun,” jelasnya. Untuk produksi padi, Dinas Pertanian DIY mengklaim tidak ada penurunan jumlah panen. Pada 2016, diperkirakan panen padi masih sama dengan tahun sebelumnya, yakni sebanyak 924.000 ton. “Kami optimistis karena panen padi di sejumlah wilayah masih terjadi,” jelasnya.

Anggota Komisi B DPRD DIY Nur Sasmito meminta Dinas Pertanian DIY untuk memperhatikan infrastruktur pendukung bagi petani. Hal ini disesuaikan dengan lahan yang ditanami di suatu kawasan. “Harus responsif. Kalau palawija terendam, ya dibantu pembuangan airnya,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Pos Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Joko Budiono memprediksi, musim kemarau basah akan segera berakhir pada akhir September.

ridwan anshori

Berita Lainnya...