Edisi 21-08-2016
Yogya Gelar Pameran Besar Seni Kriya ‘Undagi”


YOGYAKARTA– Direktorat Kesenian, Direktorat JenderalKebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar pameran besar seni kriya ‘Undagi’ di Jogja Gallery, 22–28 Agustus 2016.

Pameraninimenjadibagian dari pemetaan seni kriya di Tanah Air sekaligus memberi ruang bagi seniman berkreasi. “Kriya sebenarnya adalah seni asli Indonesia. Kami berharap pameran ini menjadi pilot project untuk kegiatan di bidang kriya di Indonesia. Ke depan, kegiatan akan dievaluasi dan disiapkan sebagai program unggulan,” ucap Kasubid Seni Rupa, Direktorat Kesenian, Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud, Pustanto kemarin.

Menurut Pustanto, kriya menjadi pilihan karena selama inisudahcukupbanyakpameran seni yang berjalan dengan baik seperti seni murni. Dengan menggelar pameran seni kriya diharapkan didapat pemetaan seni kriya di Indonesia. “Kita lihat peta seni kriya seperti apa, kemudian di mana saja termasuk para pelakunya.

Sebab, saat inisaja banyakpelaku kriya nonpendidikan yang bisa hidup dan berkembang di daerahnya masing-masing. Nanti kita lihat juga apakah perlu studi khusus untuk pengembangannya,” ucapnya. Kota Yogyakarta dipilih sebagai venuekegiatan karena Yogyakarta merupakan rumah bagi para pelaku kriya profesional baik seniman kriya, kolektor, maupun pemilik galeri dan lainnya.

Di Yogyakarta juga terdapat sentra-sentra industri kriya yang sangat kuat seperti Kasongan dan Kotagede. “Dari pameran in kami juga berharap akan muncul senimanseniman muda baru dengan ideide yang lebih inovatif sebagai regenerasi seniman kriya senior yang lebih dulu populer. Kami juga menggugah apresiasi positif masyarakat khususnya generasi muda sehingga bisa lebih menghargai dan mencintai kekayaan budaya Indonesia,” paparnya.

Akhmad Nizam, ko-kurator pameran mengatakan, pameran menyajikan karya kriyawan yang masuk kategori kriya heritage, kriya populer, dan seni kriya alternatif. “Ini untuk efisiensi dalam tata kelola seni sebagai strategi pengembangan seni kriya, juga blue print dalam menentukan arah pertumbuhan seni kriya masa kini dan masa datang,” ucapnya.

Agus Brengos Sriyono, ko- Kurator pameran lainnya menambahkan, saat ini sudah ada lebih 100 karya 97 kriyawan dari 12 provinsi yang siap dipamerkan. Beberapa di antaranya merupakan karya yang spesifik dan istimewa, seperti karya batik yang proses pembuatannya membutuhkan waktu hingga dua tahun.

Ada pula karya yang bersifat kinetik hingga karya batik bertema komik dengan panjang hingga 26 meter. “Untuk batik panjang ini mungkin tidak di-display semuanya, tapi per episode. Misalnya hari pertama tiga meter dan seterusnya sampai pada akhir pameran sudah semuanya. Di logam juga ada beberapa seniman yang tampil dengan karya maksi, karya dengan ukuran besar, juga ada yang dilengkapi video menceritakan proses karya,” paparnya.

Sodik

Berita Lainnya...