Edisi 21-08-2016
Ajak Anak-Anak TK Gemar Menabung dan Cinta Lingkungan


Sebagian orang tidak menyadari bahwa kadang dari sebuah gerakan kecil bisa berdampak sangat besar bagi orang banyak serta lingkungan. Seperti halnya tidak membuang sampah di sembarang tempat, maka akan sangat berguna bagi kelestarian lingkungan sehingga tidak tercemar dengan berbagai sampah.

Dari gagasan yang dianggap kecil, sekitar 990 mahasiswa STIE Perbanas Surabaya angkatan 2015 mencoba menginspirasi anak-anak bangsa. Mahasiswa yang tergabung dalam Super Softskill Mentoring (SSM) berupaya mengajak anak-anak untuk gemar menabung dan sekaligus cinta lingkungan. Cara yang dilakukan adalah dengan membuat celengan berbagai kreasi dari bahanbahan bekas yang sudah tidak dimanfaatkan lagi.

Akhirnya terkumpul sekitar 1001 celengan dengan berbagai bentuk. Ketua Pelaksana SSM 2016 Laila Saleh Marta menjelaskan, kegiatan SSM merupakan kegiatan tahunan. Akan tetapi, setiap tahun sering berbeda tema. ”Ide celengan ini berasal dari mereka (mahasiswa). Kemudian mereka dibimbing oleh mentor dari kalangan senior mereka untuk membuat karya,” katanya. Untuk pembuatan celengan ini, pihak panitia memberikan waktu sekitar 2-3 minggu.

Untuk pembuatan ini membutuhkan perencanaan desain dan bahan yang diperlukan. Ide pembuatan celengan ini muncul sebagai gerakan kecil yang mampu menginspirasi anak-anak TK. Sebab, celengan yang dibuat tersebut akan diberikan kepada anak-anak TK di kawasan Ngindeng Jangkungan.

”Kami memberikan kepada TK yang ada di sekitar sini dulu. Kalau lebih, baru diberikan ke daerah lainnya,” kata Laili. Dengan bentuk-bentuk celengan yang cukup menarik itu, diharapkan akan mampu menarik perhatian anak-anak kecil sehingga mereka menjadi gemar menabung uang kecil.

Selain itu, kecintaan dan pelestarian lingkungan juga tercover dalam gerakan ini karena mereka menggunakan barangbarang bekas sebagai bahan dasarnya. Di antaranya kardus, kaleng bekas makanan ringan, botol air mineral, dan lainnya. Kreasi celengan dari barangbarang bekas ini dilombakan sehingga mereka sangat antusias untuk membuat kreasi.

”Yang ada di ruangan ini adalah sebagian saja, yaitu yang dianggap paling baik oleh tim masing-masing. Selebihnya ada di ruangan lain dan semua nanti tetap akan didistribusikan ke TK-TK di sekitar Nginden Jangkungan,” katanya. Ewanda Larasati, salah satu mahasiswa Jurusan Akuntansi, mengaku kegiatan tersebut sangat menarik.

Dia bersama kelompoknya bekerja keras untuk membuat celengan. ”Kami ada 16 anggota dan diminta untuk membuat 20 celengan. Semua dilakukan dengan kreasi sendiri. Ada yang dikerjakan selama 2 sampai 5 hari, bergantung pada tingkat kerumitannya,” katanya. Ewanda bersama temantemannya menggunakan beberapa barang bekas, seperti kardus dan kaleng.

Barang-barang itu dihias sedemikian rupa sehingga menjadi celengan menarik, di antaranya ada yang berbentuk kue tar. Kemudian ada juga yang menggunakan benang bekas yang disulap menjadi celengan berbentuk bola. Hal yang sama juga diungkapkan Nanda Syarifah. Dia bersama teman-teman satu kelompoknya cukup senang membuat celengan tersebut.

Ada beberapa kreasi celengan yang berhasil dibuat dari kaleng bekas makanan ringan hingga kaleng bekas oli. ”Yang susah adalah mencari idenya kemudian mencari bahan baku, seperti kaleng bekas yang bagus,” katanya. Koordinator Kopertis VII Jatim Prof Prof Suprapto yang berkesempatan menghadiri acara tersebut mengatakan, kegiatan ini cukup bagus.

Dia menyebutkan, kegiatan ini seakan sebagai atom yang punya dampak sangat besar. ”Mereka katakan ini kegiatan kecil, tapi ini adalah kegiatan kecil yang dampaknya sangat besar, seperti atom yang cukup kecil dan mampu menghancurkan Nagasaki dan Horoshima,” katanya. Dia juga mengapresiasi apa yang dilakukan para mahasiswa.

Gerakan seperti itulah yang selama ini diharapkan dan mampu dikembangkan oleh para mahasiswa. Disinggung tentang celengan seperti apa yang menarik dan layak untuk menjadi pemenang, Prof Suprapto yang juga sebagai juri menyebutkan, baginya celengan yang menarik adalah yang benar-benar dibuat dari bahan sampah atau tidak berguna.

”Ada banyak tadi, saya menemukan. Tapi seharusnya kalau memang kembalinya ke lingkungan, mahasiswa juga menggunakan lem-lem dari alam, bukan menggunakan lem-lem kimia. Ini yang mereka gunakan semuanya adalah lem kimia. Padahal, alam kan punya lem, seperti dari pohon-pohon. Mereka ini belum mengerti (adanya lem alam),” tegasnya.

LUTFI YUHANDI
Surabaya

Berita Lainnya...