Edisi 21-08-2016
Rumah Janda Miskin Roboh


SURABAYA– Kesenjangan sosialekonomi antarwarga Surabaya cukup tinggi. Di antara menjamurnya hotel serta apartemen baru, masih ada warga yang tinggal di rumah reyot, termakan usia hingga akhirnya ambruk.

Seperti halnya rumah Dasiyani Charisma, janda cerai mati, di Jalan Kupang Krajan Tengah 79, RT 10/RW III, Kelurahan Kupang Krajan, Kecamatan Sawahan. Rumah yang dia tempati bersama kakak kandungnya, Dudi, runtuh pada bagian atapnya. Usia tua menjadi faktor utama runtuhnya bangunan rumah warisan orang tua keduanya, almarhum dan almarhumah pasutri Kasdi serta Siyami. ”Robohnya tadi malam (Jumat, 19/8).

Karena bangunannya lama, kayu reng dan usuknya rapuh. Untung saya dan kakak saya tidak terluka,” kata Dasiyani kepada KORAN SINDO Biro Jatim, kemarin. Memperbaiki rumah menjadi sesuatu yang berat bagi Dasiyani, seorang janda yang kesehariannya kerja sebagai tenaga bersih-bersih di salah satu plaza di Jalan Pemuda Surabaya. Sementara kakak kandungnya, Dudi yang seorang duda, kesehariannya kerja melayani pembuatan stempel di Jalan Rajawali.

Penghasilan keduanya tidak cukup jika untuk memperbaiki rumah. Rumah tua itu harus dibongkar total. Perbaikan beberapa bagian tidak banyak membantu karena secara keseluruhan rumah gebyok itu sudah tua. ”Harapannya, segera ada perhatian dari pemkot melalui bedah rumah. Sebelumnya sempat didata, rumah ini mau diperbaiki.

Cuma tidak diberi tahu waktu pastinya, dan kedahuluan roboh,” kata Dasiyani yang lahir 10 Mei 1975 ini. Dasiyani dan Dudi adalah salah satu ”potret” kemiskinan warga Surabaya. Selain keduanya, ada Mbah Inem, 80, tinggal di kawasan Kampung Bendungan RT 1/RW III, Kelurahan Sumur Welut, Kecamatan Lakarsantri.

Penglihatan janda uzur ini tidak berfungsi. Kendati tidak bisa melihat dan telinga tuli, Mbah Inem menggantungkan hidupnya dari kerja jualan kecil-kecilan. Sistem kejujuran dia terapkan. Tetangga yang beli dagangannya dipersilakan membayar dan mengambil uang kembalian sendiri. Belum mendapat perhatian pemerintah, Kapolresta Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya AKBP Takdir Mattanette akhirnya membuatkan warung kejujuran untuk Mbah Inem.

Sebelumnya, warung mbah Inem kondisinya memprihatinkan. Bangunan warung berukuran 3x4 meter yang juga diperuntukkan buat tempat tinggal itu akan roboh. ”Saya kagum dengan perjuangan hidup Mbah Inem. Meski banyak kekurangan, Mbah Inem terus berusaha dan membuka warung kejujuran,” kata Takdir Mattanette seusai penyerahan warung pascarenovasi ke Mbah Inem. Warung itu kini berdinding tembok dan berlantai.

Pemeriksaan kedua mata dan telinga Mbah Inem juga akan dilakukan. Disparitas sosial-ekonomi warga Surabaya ini dibenarkan pakar ekonomi Jawa Timur Murpin J Sembiring. Murpin menyebut, pertumbuhan ekonomi Surabaya di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Jatim. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi rata-rata Jatim pada 2015 sebesar 5,44%. Surabaya di atasnya. ”Pertumbuhan ekonomi di Surabaya didominasi sektor perdagangan, hotel, dan restoran, juga angkutan transportasi.

Ini sesuai status Surabaya sebagai kota jasa dan perdagangan,” kata Murpin, kemarin. Meski demikian, Murpin menyebut pendapatan per kapita kaum pekerja secara rata-rata dan kenaikan gaji rata-rata tiap tahunnya tinggi. Tolok ukur lain, Surabaya mampu mengendalikan inflasi. Surabaya, sebut Murpin, punya target masuk dalam 73 kota terkaya di dunia.

Pembukaan jalan middle east ring road (MERR) memunculkan nilai lebih pertumbuhan ekonomi untuk wilayah tersebut. Kendati demikian, Murpin menyoroti penikmat keberadaan MERR bukan warga Surabaya. Warga asli atau pemilik lahan tergeser setelah menjual tanahnya. Mereka terpinggirkan.

Investor yang menikmati MERR. Rektor Universitas Widya Kartika (Uwika) Surabaya ini menyebut, income per kapita Surabaya pada 2015 senilai Rp32 juta/tahun (harga konstan) harus difokuskan income per kapita naik rata-rata 20% dari kelompok koperasi dan UMKM.

”Apabila ini terwujud, baru kota ini (Surabaya) damai dan sejahtera,” tandas Murpin yang juga Ketua Asosiasi Koperasi Ritel Jawa Timur ini. Murpin mengaku belum melihat kemauan wali kota melink -kan dan wujudkan sinergitas nyata, saling menguntungkan, saling membesarkan antara pelaku UMKM dan pebisnis besar.

Contohnya, antara pelaku ekonomi di pasar tradisional, perajin, pelaku usaha kuliner, dan lainnya, dengan pengusaha ritel modern, mal, industri. Terpisah, anggota Komisi D DPRD Surabaya Reni Astuti mengaku sudah mendatangi rumah Dasiyani Charisma. ”Kami sudah ajukan perbaikan rumah kepada Dinas Sosial Surabaya. Saya akandatangkembalimenemuiBu Dasiyani.

Selain itu, berharappemkotsecepatnya merespons,” kata Reni. Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya Supomo menyatakan, pihaknya sudah menerjunkan personel cek di lapangan. ”Kami sudah monitor adanya rumah ambruk. Itu bencana atau bukan?” tanyanya. Supomo menegaskan, rumah yangambrukiniakandiusulkan masuk program Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh (RSDK).

”Anggaran RSDK akan diusulkan melalui PAK (perubahan anggaran keuangan). Sekarang draf PAK masih disusun,” imbuh mantan Camat Tegalsari ini. Supomo menyebut, dinasnya tidak bisa cepat melakukan perbaikan lantaran dana taktis juga tidak ada. Mekanisme pengajuan anggaran, tetap melalui program RSDK.

Soeprayitno

Berita Lainnya...