Edisi 21-08-2016
Bangkitkan Semangat Nasionalisme


Perayaan HUT Ke-71 Kemerdekaan Republik Indonesia, pada 17 Agustus lalu memang sudah berlalu. Namun, sebagian masyarakat di Medan terkesan tidak memedulikannya. Hal ini menunjukkan rasa nasionalisme warga sudah memudar.

Sebagai bukti, banyak warga yang enggan untuk memasang bendera Merah Putih dan menunjukkan sikap acuh saat perayaan kemerdekaan berlangsung. Jika hal ini terus -menerus berlanjut bisa jadi masyarakat akan lupa sejarah, lupa akan cita-cita perjuangan yang bakal membuat bangsa mengalami krisis nasionalisme.

Pantauan KORAN SINDO MEDANbeberapa hari sebelum 17 Agustus, sebagian warga Kota Medan terlihat tak memasang bendera di depan kediamannya. Seperti di Jalan Brigjen Katamso, Jalan Iskandar Muda, Jalan Jamin Ginting, Jalan Yos Sudarso, Jalan Setia Budi, Jalan Denai, Jalan Letda Sujono, Jalan HM Yamin, dan lainnya.

Bendera Merah Putih, umbul-umbul maupun pernakpernik ternyata hanya terpasang oleh instansi pemerintahan, perkantoran dan sekolah. Salah satu warga Jalan Jamin Ginting, Cindy, 34, mengaku belum memasang bendera Merah Putih lantaran belum memiliki tiang bendera.“Setiap HUT RI selalu kita kibarkan bendera merah putih, ini belum dipasang saja. Nanti kita pasang, kankita perlu mengenang pahlawan kita yang sudah berjuang,” katanya.

Raja, 45, warga Jalan Denai, berdalih biasa mengibarkan bendera mendekati 17 Agustus. “Biasa kita sehari sebelum kemerdekaan masangnya,” ujarnya. Pengamat sosial dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Shohibul Anshor Siregar menilai kalau krisis nasionalisme ini sudah memang hampir terjadi di semua lapisan, mulai dari pejabat, anggota Dewan, rakyat hingga generasi muda.

“Masing-masing elemen memiliki masalahnya sendiri, semua mengalami krisis nasionalisme,” katanya. Rasa nasionalisme warga mungkin saja disebabkan atas kekecewaannya terhadap pemerintah. Masyarakat selalu bertanya apa yang sudah dilakukan pemerintah terhadap rakyatnya, sesuai pembukaan UUD 1945 alinea keempat, yakni “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa.

” Intinya, apakah pemerintah sudah menjaga tumpah darah Indonesia, membuat rakyat menjadi sejahtera sehingga dapat memberikan ketertiban dunia. “Tapi saat ini pemerintah justru memiliki persoalan yang luar biasa buruk di bidang ekonomi, persoalan keadilan, kejahatan yang terorganisir, dan lainnya.

Masyarakat sudah sangat muak dengan banyaknya pejabat yang melakukan korupsi,” ucapnya. Akibatnya, saat ini apa yang diucapkan pemerintah tidak dipercaya rakyat lagi. Muaranya, rasa nasionalisme masyarakat terhadap bangsanya menjadi memudar. Kalau hal ini terus terjadi, bukan tidak mungkin Indonesia bakal mengalami erosi nasionalisme. Oleh karena itu, kata Shohibul, sudah saatnya semangat nasionalisme dibangkitkan lagi.

Semua elemen harus jujur dengan diri sendiri, apalagi semua orang memiliki peran dan tanggung jawab terhadap bangsa ini. Hal yang membahayakan jika generasi muda rasa nasionalismenya juga terjun bebas. Peran kelompok ini jangan diabaikan, tapi sebaliknya harus dimotivasi. Selama ini cukup banyak anak muda yang tidak percaya lagi dengan Pancasila. Padahal sebagai tonggak negara, Pancasila haruslah diimplementasikan dalam segala sendi kehidupan.

Namun, tidak bisa dipersalahkan jika banyak anak muda yang mempertanyakan isi Pancasila seperti Ketuhanan Yang Maha Esa lalu membandingkannya dengan kondisi yang terjadi saat ini. “Inilah yang menjadi tantangan bagi anak-anak muda kita, mereka bertanya apa masih ada Tuhan dengan kondisi seperti ini. Begitu juga apa masih ada keadilan? Karena mereka melihat sendiri banyaknya kemelaratan yang dialami masyarakat,” ungkapnya.

Untuk itulah semangat nasionalisme dan perjuangan untuk meneruskan kemerdekaan harus digelorakan, terutama bagi generasi yang akan menjadi penerus bangsa. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk membangkitkan semangat nasionalisme. Selain mengukir prestasi untuk mengharumkan nama bangsa. Semangat nasionalisme juga harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan anak muda.

“Kalau dulu semangat nasionalisme ini dilecut misalnya dalam film Si Pitung, sebagai sosok yang mampu melawan Belanda, tapi saat ini kita lihat tidak banyak film-film yang dapat memacu semangat, justru malah ditampilkan dengan cerita yang membuat jiwa menjadi lemah.

Hal-hal sederhana seperti inilah yang perlu untuk kembali digelorakan,” tandasnya Kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah seperti yang disebutkan Shohibul juga terlihat pada pelaksanaan upacara peringatan HUT ke-71 RI yang dilakukan masyarakat pinggir rel di di kawasan Jalan Bambu II, Kelurahan Durian, Kecamatan Medan Timur, Rabu (17/8).

Sebelum melakukan pengibaran bendera Merah Putih, peserta upacara satu per satu peserta upacara menetaskan darahnya ke bendera. Hal itu dilakukan sebagai simbol masih terjajahnya masyarakat pinggir rel akibat penggusuran oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Seorang peserta upacara, Regian Nababan mengatakan konsep upacara itu sebagai bentuk protes atas ketidakpedulian Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara atas nasib mereka.

“Kami kecewa dengan pemerintah yang diam atas nasib kami. Kami warga yang terancam penggusuran hanya minta tempat relokasi untuk tempat berteduh keluarga,” ujarnya. Meski begitu, di sisi lain masih ada juga warga yang antusias menyambut hari kemerdekaan. Seperti masyarakat Kampung Aur, Kelurahan Aur, Medan Maimun.

Perayaan yang ditandai dengan upacara bendera itu dilakukan di Sungai Deli sebagai simbol menjaga kelestarian Sungai Deli. “Ini merupakan kali ketiga yang kami gelar. Selain untuk memperingati kemerdekaan Indonesia, upacara bendera di Sungai Deli ini merupakan upaya kami untuk tetap melestarikan Sungai Deli,” kata seorang panitia, Prita.

KORAN SINDO MEDAN juga turut memeriahkan perayaan hari kemerdekaan dengan menggelar acara Dirgahayu Semarak Merah Putih melalui berbagai perlombaan tradisional dan merias tumpeng di halaman kantor Kecamatan Medan Petisah, Rabu (17/8). Kegiatan yang mengusung tema “Memerdekakan Kreativitas bersama Koran Sindo Medan dan Muspika Medan Petisah” ini direspons antusias oleh masyarakat sebagai peserta lomba.

Kepala Biro KORAN SINDO MEDAN Zailani Tanjung mengatakan, sebagai perusahaan media, pihaknya mempunyai tanggung jawab untuk mendukung pemerintah mengembangkan kreativitas masyarakat. “Kami ingin melestarikan budaya Indonesia, salah satu lomba yang kami gelar adalah kreasi nasi tumpeng merah putih. Dari lomba ini kami ingin menonjolkan kreativitas dan inovasi yang dapat dilakukan oleh masyarakat,” ujar Zailani.

Sejarawan Universitas Sumatera Utara (USU) Budi Agustono mengakui semakin menurunnya semangat nasionalisme. Tidak hanya pada kalangan generasi muda, generasi senior juga semakin hari semakin memudar. Pemudaran ini disebabkan banyak hal. Khusus untuk generasi muda kurangnya memahami nasionalisme karena tidak ada lagi ruang-ruang bagi mereka mengungkapkan apa yang dirasakannya terhadap bangsa ini, terutama yang bersentuhan dengan nasionalisme.

“Kalaulah kami lihat dari perjalanan bangsa, nasionalisme memang naik turun. Tapi mungkin belakangan ini situasi kebangsaan mengalami penggerusan yang cukup berarti hampir di semua segmen kelompok masyarakat. Jika ini tidak diperhatikan secara serius akan semakin melunturkan semangat nasionalisme.

Nasionalisme ini terkait dengan pengelolaan bangsa terhadap rakyat, terhadap pemerintahan. Jadi sangat terkait betul dan tidak bisa dilepaskan dari dimensi pengelolaan,” paparnya. Semangat nasionalisme saat ini sangat berbeda dengan nasionalisme di masa awal abad ke-20. Kini simbolsimbol nasionalisme sebagai simbol identitas saja.

Seperti bangunan bersejarah sebagai satu media untuk memahami masa lalu itu sekarang mengalami penggerusan. Bangunan bersejarah tidak lagi diperlakukan sebagaimana layaknya saat didirikan menjadi bagian dari identitas bangsa. Padahal identitas bangsa ini terkait dengan bangunan bersejarah.

“Lunturnya semangat nasionalisme itu kansalah satunya terkait dengan penghancuran bangunan bersejarah yang tidak lagi bisa menjadi tonggak mengingat kembali masa lalu. Seharusnya masa lalu itu yang harus dirawat sedemikian rupa. Bagaimana kita menjangkau masa lalu tanpa bangunan bersejarah untuk mengingatkan kembali tentang aktivitas masa lalu itu?” ucap Budi Agustono.

Bangunan bersejarah jika dikelola dan dipelihara secara baik maka dapat menstimulus rasa nasionalisme lalu. Tanpa adanya romantisisme masa lalu itu, sebuah bangsa tidak bisa merumuskan nasionalisme. Bangsa akan kehilangan dalam menata kembali nasionalisme. “Romantisisme itu sangat penting untuk menguatkan kembali nasionalisme bangsa.

Tapi sayangnya, romantisme itu diacakacak oleh banyak kepentingan sehingga generasi muda tidak memahami lagi romantisisme. Itu problem besar yang dihadapi bangsa kita. Harus ada rumusan kembali menjaga romantisisme tersebut,” tandasnya. Nasionalisme Indonesia selayaknya harus dikembalikan seperti masa sebelum kemerdekaan.

Saat itu pemuda mengambil peran besar saat menggagas dan merumuskan pemikiran besar kebangsaan hingga Indonesia merdeka. “Generasi saat itu punya wawasan yang sangat luas yang didapatkan dari bacaan yang luas dan selanjutnya memperkaya pemikiran mereka. Beda dengan saat ini, generasi muda itu generasi yang tidak banyak membaca sehingga semangat literasi dan aksaranya sangat rendah sehingga mempengaruhi nasionalisme.

Sementara nasionalisme itu dibangun oleh bacaan. Bacaan apa yang kita baca, sehingga punya wawasan yang sangat besar terhadap perkembangan bangsa,” katanya. Yang paling merisaukan saat ini bagi bangsa Indonesia adalah generasi muda yang defisit literasi, defisit keberaksaraan sehingga mempengaruhi proses nasionalisme.

”Jadi untuk memperbaiki kemerosotan nasionalisme generasi muda harus memperluas bacaan terhadap problem bangsa. Karena nasionalisme itu bisa diperkuat dengan membangun semangat literasi. Ini yang tidak dijalani oleh generasi muda saat ini sehingga terbawa arus perkembangan global,” pungkasnya.

lia anggia nasution/ syukri amal

Berita Lainnya...