Edisi 21-08-2016
Ciptakan Pemondokan Bermodel Kemping


Dalam satu bulan terakhir sejumlah penginapan dan pemondokan di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) penuh. Mulai dari hotel berbintang hingga hotel kelas melati sudah dipesan oleh pengunjung, panitia pelaksana, serta peserta Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba (KKPDT).

Tingginya permintaan untuk kebutuhan penginapan tersebut menjadi ide awal bagi seorang pengusaha hotel di Balige, Sebastian Hutabarat, untuk menciptakan pemondokan model baru. Lulusan Teknik Sipil Universitas Parahyangan tersebut bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Theologia (STT) Sabaidah Balige untuk menciptakan camping ground.

Pemondokan tersebut menyerupai tempat kemping pada umumnya, di mana pengunjung dapat menginap dan menyatu dengan alam. Bedanya, di camping groundini selain memperoleh fasilitas tenda, pengunjung juga mendapat fasilitas kasur, bantal, dan selimut. Selain itu, pengunjung juga dapat menjangkau tempat tersebut dengan mudah karena berada di jalan besar Tarutung, Nomor 100, Kelurahan Sakar Ni Huta, Kecamatan Balige.

Camping ground yang berada satu kompleks dengan Restoran Boruku, yang dimiliki Sebastian, saat ini mampu menampung sebanyak 20 orang dengan biaya penginapan Rp100.000 per malam. Pengunjung dapat menikmati alam secara bebas dengan lingkungan yang bersih. Pengunjung juga dapat menikmati beragam kuliner di Restoran Boruku dengan hidangan-hidangan mewah yang disajikan dengan bumbu lokal.

“Kami juga menyediakan fasilitas toilet mandi serta fasilitas restoran yang siap melayani pengunjung selama 24 jam. Pengunjung dapat menikmati alam dengan nyata dan merasakan apa bedanya Toba dengan kawasankawasan lain,” paparnya kepada KORAN SINDO MEDAN, Sabtu (20/8) di Balige.

Sebastian mengatakan, dia menciptakan pemondokan model camping groundtersebut bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pemondokan di saat permintaan hotelnya sudah penuh. Namun, dia juga berniat mengedukasi warga agar ikut terlibat menjadi bagian dari pelaku pariwisata. Pasalnya, dengan konsep sederhana model kemping tersebut, masyarakat dapat menjadi penyedia pemondokan bagi para pengunjung.

Terlebih, saat ini Danau Toba terus dibenahi sebagai destinasi wisata andalan Indonesia. “Lewat pemasangan sejumlah tenda ini saya berharap masyarakat ikut belajar menjadi bagian dari pariwisata yang akan dikembangkan di Danau Toba. Mereka tidak hanya sebatas penonton yang melihat wisatawan melintas, namun mereka juga menjadi pengelola dengan modal yang sederhana namun berkelanjutan,” paparnya.

Lewat model camping ground, Sebastian juga berharap muncul paradigma baru masyarakat tentang pariwisata. Sebab, menurut pemilik Toba Art ini, mengubah paradigma dapat lebih mudah lewat komunikasi. Jika nantinya masyarakat terlibat menciptakan camping ground, masyarakat akan berkomunikasi langsung dengan para pengunjung.

“Dasar utamanya kebersihan lingkungan, keramah-tamahan. Ilmu lainnya nantinya akan berkembang sesuai dengan masanya. Ketika warga berkomunikasi dengan turis maka mereka juga akan belajar bagaimana melayani tamu,” katanya. Saat ditanya apakah Sebastian tidak takut dengan persaingan, pemilik Hotel Mutiara Balige tersebut menyatakan dalam dunia pariwisata, persaingan adalah hal yang biasa.

Menurut Sebastian, pariwisata memiliki pasarnya masingmasing serta harus bisa menjangkau kebutuhan wisatawan itu sendiri. “Di sisi lain, wisatawan tidak begitu banyak yang menikmati hotelhotel. Mereka juga banyak memilih penginapan yang langsung menyatu dengan alam,” paparnya. Salah seorang pengunjung Restoran Boruku, Elita Tambunan, kagum dengan ide pembuatan model camping groundtersebut.

Pasalnya, selama ini banyak yang tidak memiliki ide untuk menciptakan usaha pariwisata yang mampu dijangkau oleh semua kalangan. “Apalagi untuk acara besar seperti ini, pasti banyak penginapan yang sudah habis terjual. Solusinya adalah penginapan yang mudah dijangkau dan harganya murah,” ucapnya.

BARINGIN LUMBAN GAOL
Balige

Berita Lainnya...