Edisi 21-08-2016
Meresapi Arti Perjuangan dengan Melakoni Kembali Pertempuran Medan Area


Komunitas Medan Reenactors punya cara unik dalam memperingati HUT RI Ke-71, Rabu (17/8). Mereka berkumpul di Desa Melati II Dusun Sukun Pasar VI, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdangbedagai bukan hanya sekadar melaksanakan upacara bendera.

Untuk merasakan getirnya para pejuang merebut kemerdekaan, komunitas ini mencoba melakoni kembali peristiwa sejarah yang terjadi di kawasan tersebut. Berdiri awal Maret 2013, komunitas yang beranggotakan sekitar 30 orang ini memang aktif melakonkan kembali berbagai peristiwa sejarah Tanah Air mulai dari perang tingkat nasional hingga bersifat kedaerahan, termasuk pertempuran Medan Area.

Dimulai dengan pelaksanaan upacara bendera dengan paduan suara dari Himpunan Remaja Masjid Melati II dilanjutkan dengan teatrikal perang kemerdekaan, khususnya perjuangan Achmad Tahir yang dikenal waktu itu sebagai perwira tentara sukarela yang memelopori terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sumatera Timur.

Satuan inilah yang terlibat perang dengan Belanda yang dikenal dengan pertempuran Medan Area. “Kami senang melakonkan kembali perjuangan Achmad Tahir yang merupakan pejuang asli dari Sumatera Utara (Sumut). Semua hal terkait tokoh dan lokasi perjuangan pun kami buat seperti ketika Achmad berjuang dulu.

Mulai dari merintis kemerdekaan hingga akhirnya merdeka sesuai hasil penelusuran sejarah yang kami peroleh. Bahkan, lokasi di Perbaungan dipilih juga karena merupakan lokasi tempat tinggal orang tua Achmad Tahir,” kata Pelaksana Harian Program Pembinaan Remaja Sadar Sejarah Medan Reenactors, Hardi kepada KORAN SINDO MEDAN, Jumat (18/9) Selain cerita yang otentik, peralatan dan perlengkapannya seperti pakaian, sepatu termasuk juga senjata mulai dari senapan hingga bom ditampilkan mirip seperti aslinya.

Begitu juga dengan kursi, sepeda dan lainnya tidak berbeda pada era peperangan dulu. Semua itu pada umumnya milik anggota Medan Reenactors yang merupakan kolektor benda-benda berkaitan dengan sejarah. Bahkan selama aksi lakon ulang itu, penonton juga dikejutkan dengan suara senapan dan bom tapi low explosiveatau berdaya ledak rendah.

Bukan hanya perjuangan Achmad Tahir, komunitas ini juga melakonkan kembali aktivitas masyarakat pada masa itu yang sedang memperjuangkan kemerdekaan. Semua adegan itu dimainkan dengan apik. “Kami selalu senang melakonkan kembali berbagai peristiwa sejarah. Sebab, hanya dengan cara itu kami berharap bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang sejarah,” ujarnya.

Lebih khusus lagi, mereka ingin generasi muda jadi mengetahui bahwa di daerahnya ada tokoh pahlawan nasional. Dengan begitu diharapkan muncul jiwa nasionalisme dalam hati anak muda. Medan Reenactor sangat senang bisa menjembatani peristiwa sejarah kepada remaja.

“Jadi kalau di negara ini sudah tidak ada lagi veteran ataupun ahli sejarah maka generasi muda yang menonton lakon kami nantinya bisa menceritakan kembali peristiwa sejarah itu kepada generasi berikutnya. Kami dari Medan Reenactors hanya bisa melakukan itu untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme, khususnya kepada anak muda,” pungkasnya.

PANGGABEAN HASIBUAN
Medan

Berita Lainnya...