Edisi 21-08-2016
Tim POM AU Datangi Masjid Sari Rejo


MEDAN– Tim Investigasi Polisi Militer (POM) Angkatan Udara (AU) Koops I akhirnya mendatangi Masjid Al Hasanah di Jalan Teratai, Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia, pascaberedarnya rekaman penganiayaan warga dan perusakan kotak infak di masjid tersebut, Sabtu (20/8).

“Iya, benartiminvestigasidipimpin langsung oleh Bapak Bambang Suseno selaku Komandan Polisi Militer (Danpom) Koops AU I,” kata Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) TNI AU, Pangkalan Udara (Lanud) Soewondo, Medan Polonia, Mayor Sus Jhoni Tarigan kepada KORAN SINDO MEDAN. Meskidemikian, diamengaku tidakbisamemberikankomentar lebih spesifik mengenai hasil penelusuran tim POM AU Koops I.

Yang berhak menjelaskan perkembangan hasil penyelidikan itu hanya tim yang sudah dibentuk dan saat ini sedang berjalan. “Saya tidak berwenang menyampaikan itu, silakan tanya langsung kepada tim investigasinya. Yang jelas tim sudah bekerja, sudah memeriksa dan bertanya langsung kepada pengurus masjid tersebut, sesuai dengan gambar yang beredar di YouTube,” katanya.

Selain menelusuri melalui gambar yang beredar di YouTube tersebut, pihaknya juga sangat berharap banyak kerja sama dari warga untuk melengkapi berkas pemeriksaan yang dilakukan tim investigasi, setelah memeriksa sejumlah saksi, baik dari unsur TNI AU maupun masyarakat secara luas. “Agar data dan informasinya akurat, tim sedang mencari data di lapangan. Sebab, kalau pemeriksaan di dalam internal itu sangat mudah dilakukan.

Tetapi di luar internal itu agak lebih sulit,” ungkapnya. Sementara itu, Ketua Forum Masyarakat Sari Rejo (Formas) Polonia, Medan, Pahala Napi-tupulu meragukan independensi dari tim investigasi POM AU Koops I tersebut. Sebab, tim tersebut tidak melibatkan instansi atau tim ahli lain selain dari TNI.

Sementara dalam penyerangan itu, sejumlah personel POM juga terlibat. “Lihat saja rekaman yang beredar di You- Tubeitu, ada kokpersonelPOMdi situ yang terlibat, ada juga yang tidak terlibat tetapi justru membiarkan adanya penyerangan itu,” paparnya. Di samping itu, akar masalah hingga terjadinya bentrokan itu adalah soal tanah.

Andai saja pihak TNI AU secara kelembagaan menyatakan dengan kesatria bahwa tanah yang diduduki masyarakat itu adalah milik warga maka peristiwa ini tidak akan terjadi. Namun, yang terjadi justru prajurit TNI AU, Lanud Soewondo, Medan melakukan intimidasi kepada warga.

“Padahal berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA), tanah seluas 256 hektare (ha) yang terletak di Kelurahan Sari Rejo itu adalah benar-benar milik masyarakat. Pengadilan tertinggi di Indonesia ini adalah MA, jika dalam hal ini TNI AU tidak menghormatinya, berarti TNI AU sudah melanggar hukum,” kata Pahala.

Setelah memenangkan tanah tersebut di MA, TNI AU juga sempat menggugat di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) Medan. Namun, lagilagi warga memenangkan gugatan tersebut. “Di semua lembaga peradilan di Indonesia ini sudah memenangkan warga, lantas mengapa masih ada intimidasi kepada warga,” ujar Pahala.

Murtopo, salah satu warga, mengaku sejumlah warga termasuk pengurus masjid sudah ditemui tim investigasi dari TNI AU. Mereka ditanya seputar gambar yang beredar di YouTube. “Kami ditanya soal pelecehan di masjid, di mana prajurit TNI AU itu masuk ke dalam menggunakan sepatu dan menganiaya jamaah yang sedang melaksanakan ibadah salat,” paparnya.

Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai sebelumnya, juga mengatakan, pihaknya serius mendalami kasus ini, termasuk kekerasan di lingkungan masjid.

frans marbun

Berita Lainnya...