Edisi 21-08-2016
Usung Semangat Nasionalisme lewat Prestasi


Di masa saat ini semangat nasionalisme tidak lagi diterapkan seperti saat memperjuangkan kemerdekaan dengan mengangkat senjata untuk meraih kemerdekaan. Kini semangat nasionalisme bisa diusung dengan berbagai hal positif untuk membangun bangsa.

Meraih prestasi di segala bidang salah satunya. Misalnya bidang pendidikan, olahraga, serta lainnya. Adalah Arga Abdi Rafiud Darajat Lubis, pemuda asal Medan yang pernah mengikuti pertukaran Pemuda ke Kanada dari program yang digelar oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga pada 2012. Untuk terpilih mengikuti program tersebut, mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara ini (USU) ini harus bekerja keras agar dapat lolos seleksi dan mengungguli 270 peserta lainnya.

Dalam suatu pembicaraan, Arga mengatakan untuk bisa lolos tak hanya sekadar cakap berbahasa Inggris, melainkan harus memiliki kemampuan lainnya. “Ketika seleksi justru kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan bakat yang lebih dilihat. Saya ketika itu disuruh bernyanyi, dan saya juga memaparkan hasil penelitian yang pernah saya lakukan tentang obat tradisional wanita yang sangat banyak manfaatnya, terutama untuk wanita yang sudah berkeluarga.”

“Inilah mungkin yang membuat saya bisa terpilih mewakili Sumut,” papar Arga. Bahkan setelah tiba di Kanada, dia juga masih harus berjuang mengumpulkan pundinya sebanyak USD3.300 agar bisa mewujudkan side projectdari program Canada World Youth yang diikutinya, yakni membuat usaha pengolahan keripik kentang di Cikandang, Jawa Barat.

Arga kemudian berada di Kanada selama tiga bulan bersama sembilan temannya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kemudian program dilanjutkan tiga bulan ke Cikandang, Jawa Barat yakni mulai Januari–Maret 2013. Semua itu harus dilaluinya dengan baik karena telah menjadi duta Indonesia di negara luar.

Pendanaan yang mereka dapatkan juga tak mudah, tapi harus melalui proses panjang seperti menjual cenderamata, menggelar pertunjukkan budaya, menyosialisasikan permohonan donasi melalui internet. Bahkan harus bekerja di City Hall Charlottetown.

“Selama berada di sana, kami bekerja tiga hari dalam sepekan, yakni Senin hingga Rabu, kebetulan saya mendapat tugas di City Hall, hari Kamis kami melakukan education activity dayyang membahas berbagai topik mulai dari agama hingga kesetaraan gender, Jumat biasanya ada pertunjukkan budaya dan Sabtu–Minggu, family day bersama keluarga angkat di sana.

Ketika berada di sana, kami harus benarbenarlah membawa nama Sumut juga bangsa,” ungkapnya. Arga mengakui ketika menjadi duta bangsa di negara orang, tentu ada beban yang harus dipikul, terutama untuk tetap menjaga nama baik negara. Oleh karena itu, dia berupaya keras bisa berhasil bersama teman-temannya mewujudkan proyek yang diminta meski pun harus bekerja di City Hall Charlottetown.

Tak cukup harus bekerja keras dan menjaga nama baik, ketika di negeri orang Arga juga mengalami rindu Tanah Air. “Saya kangen rumah, kangen makanan Indonesia, suasana Islamnya, dan selama di Kanada saya hampir tidak pernah mendengar suara azan, tapi semua itu harus bisa dilalui,” paparnya.

Saat ini setelah kembali menyelesaikan kuliah di Farmasi USU, berbekal pengalaman menjadi duta di negeri orang, Arga membuka usaha sendiri yakni CV Arga Farma yang menjual berbagai produk kesehatan dan kecantikan. Produk-produk farmasi yang dijualnya juga merupakan racikan sendiri, salah satunya produk kesehatan wanita yang membuat dirinya lolos seleksi pertukaran pelajar ke Kanada.

Sementara itu, di kancah olahraga nasional khususnya cabang judo, nama Deni Zulfendri merupakan sosok yang cukup dikenal karena prestasinya. Pria yang kini sebagai pelatih judo saat masih aktif menjadi atlet cukup merajai kelasnya di atas 100 kg. Nyaris pejudo andalan Sumut itu ini tidak memiliki saingan berarti sehingga merupakan panutan di kelasnya sejak 2000 hingga 2015.

Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) begitu bergantung kepada kontribusi pejudo kelahiran 2 Februari 1976 ini untuk mempersembahkan medali emas untuk kontingen Sumut di ajang bergengsi, seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) dan lain-lain. Tidak lagi menjadi atlet, semangat nasionalisme itu kini dia tularkan kepada atletatlet judo yang lain dengan menjadi pelatih. Menurutnya, sebagai anak bangsa, prestasi di bidang apa pun yang digeluti merupakan hal yang harus diraih.

“Dulu saat menjadi atlet, Alhamdulillah saya bisa memberikan prestasi bukan hanya untuk kebanggaan diri sendiri, tapi juga untuk nama baik bangsa dan negara. Kini upaya saya bisa menularkan semangat itu kepada anak didik saya,” ujarnya belum lama ini. Saat menjadi atlet memang, prestasi Deni sudah tidak terhitung lagi.

Sejak PON Surabaya pada 2000 lalu, Deni begitu mendominasi. Buktinya, pejudo bertubuh tambun ini selalu menggondol medali emas mulai dari Kejurnas Pra PON dan PON. Bahkan, Deni sudah mencatatkan dirinya sebagai pemegang medali emas di PON Palembang dan Kalimantan Timur dengan perolehan total medali 2 emas, 1 perak, dan 1 perunggu.

Dia juga sudah enam kali tampil di SEA Games sejak 1997 hingga 2007 dengan merebut tiga perak dan satu perunggu. Saat ini sebagai salah satu penerusnya di cabang judo, Riki Rahmadani menjadi salah satu andalan Sumut dalam ajang PON Jawa Barat, September mendatang. Riki ditargetkan menembus partai puncak, sama dengan raihan yang pada dua gelaran PON sebelumnya.

Deni Zulfendri mengaku optimis anak asuhannya itu bisa mendapatkan medali. “Target kami di PON Jawa Barat, minimal medali perunggu. Mudah-mudahan Riki bisa masuk putaran final dulu agar bisa tampil lepas,” papar Deni. Tidak hanya Riki, nama Alfikri Imam Budiman dan Nadia Salim –yang juga siswa PPLP binaan Dinas Pemuda dan Olahraga Sumut– saat ini tengah menapaki karier sebagai atlet berprestasi di bawah asuhannya. “Judo Sumut tetap bergairah karena masih ada klub-klub yang mau membina. Itu sangat baik bagi perkembangan judo di Sumut ini,” tandasnya.

lia anggia nasution/ syukri amal

Berita Lainnya...