Edisi 21-08-2016
Pudarnya Pesona Situs Ramsar Sumatra


PALEMBANG – Pagi hari itu, sama seperti halnya pagi-pagi hari sebelumnya. Disesaki asap. Kabut asap menyelimuti udara di Desa Karang Sari, Kecamatan Banyuasin II, Banyuasin. Hariha ri penuh kabut asap telah terjadi sejak bulan Agustus.

Ba - gi Rohma, 47, warga yang telah menetap di desa itu sejak tahun 1999, bencana kabut asap saat itu merupakan yang terparah dialaminya. Rohma yang me mi - li ki rumah yang berbatasan lang sung dengan kawasan Ta - man Na sional (TN) Sembilang menjadi saksi bagaimana hutan konservasi di Sumsel tersebut terbakar.

Lahan yang terbakar tidak sedikit. Beberapa semak belukar yang sudah lama men - jadi lahan terbuka di kawasan rawa gambut juga terbakar. “Asap di mana-mana, pagi hari yang paling terasa kabut asapnya,” ujarnya ditemui be be - rapa waktu lalu dikediamannya. Ibu dengan sembilan orang anak ini mengatakan, posisi ru - mah miliknya memang berada paling dekat dengan batas kawasan TN Sembilang.

Karena itu, dia mengaku melihat d e - ngan mata kepalanya sendiri bagaimana hutan yang menjadi situs Ramsar atau lahan basah yang peran pentingnya diakui dunia tersebut terbakar dengan cepat. Awalnya, kebakaran ter - ja di di beberapa titik lokasi h u - tan, terutama di kawasan lahan terbuka, lalu kemudian me-nye - bar ke titik lain yang juga me - ngalami kekeringan.

“Waktu hutan terbakar, saya lihat apinya cepat menjalar ting gi. Petugas TN Sembilang ke su litan memasuki kawasan hutan tersebut. Waktu kejadian kebakaran sebelumnya, malah belum ada petugas kehutanan yang ke sini,” ungkap Rohma. Kebakaran tidak hanya ber - langsung satu hari. Selama ber - hari-hari kawasan TN Sem bi - lang terbakar dengan hebat.

Bah kan Rohma yang belum me - nyelesaikan pendidikan se ko lah dasarnya itu mengatakan, api yang ada di kawasan TN Sem bi - lang lebih tinggi dari ru mah ber - pondasi kayu yang di mi liknya. Hawa panas dari api terasa panas hingga ke ru mah nya. Apalagi, kawasan TN Sem bilang yang di - ke nal masyarakat sekitar de - ngan sebutan “hutan” hanya ter - pi sah tanggul di atas anak sungai.

“Saya lihat apinya. Lihat api nya besar, dan apinya mem - besar. Tidak terlihat apinya kar ena siang hari juga terasa panas, hanya seperti bayangan bara yang mengeluarkan uap panas. Sungguh sulit saat itu,” ujarnya. Rumah kayu beralas tanah inipun menjadi posko (lokasi) sementara, para personel Balai TN Sembilang memantau ke ba - karan di kawasan hutan saat itu.

Diceritakan Rohma, belasan personel Balai TN Sembilang menginap di rumahnya. Para petugas melakukan peman tau - an dan meninjau lokasi ka wa - san TN Sembilang yang ter ba - kar. Alasannya, karena dari po - si si rumah miliknnya, lokasi ke - bakaran hutan sangat mungkin dijangkau. “Dulu sebelum dilarang m a - suk hutan, ada jembatan peng - hu bung antara rumahnya dan hu tan. Jembatan itu lebih me - mu dahkan masyarakat ke hu - tan.

Sejak ditetapkan menjadi kawasan hutan, jembatan ter - sebut dirobohkan,” ujarnya. Warga asal Tanjung Raya, Kabupaten OKI ini menga ta - kan, penghidupannya lebih ba - nyak diperoleh dari sawah yang diusahakannya di samping rumah. Sementara sang suami menjadi pencari ikan di kawa - san pesisir Sungai TN Sem bi - lang.

Pasangan ini hidup dan men cari penghidupan di per ba - tasan kawasan hutan kon ser va - si itu sejak tahun 1991. Sa yang - nya, saat ditanya, apakah Roh - ma mengetahui larangan me - ma suki kawasan Hutan TN Sembilang, dia pun sedikit ragu menjawabnya. Dia menceritakan, sang suaminya bernama Syarwan, 62, merupakan seorang nela yan.

Awalnya, hanya Syarwan yang tinggal di lahan tersebut. Da h u - lu, lahan yang ditempati juga su - dah bukan lagi berbe n tuk hutan dengan pohon yang tinggi. Lalu, selama dua tahun Syarwan mengubah pondok di lahan tersebut menjadi rumah yang akhirnya dihuni keluarganya itu. “Lama kelamaan, saya se ba - gai istri menyusul.

Saya me ngi - kuti suami agar bisa mem-ban - tunya menghidupi keluarga. Sekitar 1991, kami buat ru mah - nya. Tapi bertahap dulu, kayu de mi kayu kami kumpulkan dari sekitar untuk membangun rumah, ada juga yang berasal dari hutan,” ungkapnya. Tidak hanya membangun rumah, pasangan suami istri ini juga membuka lahan sawah seluas satu hektare di samping rumahnya.

Dengan berbekal se - dikit uang hasil dari melaut, me - re ka perlahan dengan mem bu ka tanah rawa menjadi sawah un - tuk keluarga. Sementara Roh ma mengakui baru mengetahui kawasan hutan tersebut ter l a - rang karena sudah menjadi hu - tankonservasisejaktahun2007. Dikatakannya, kawasan hutan merupakan lahan milik pemerintah, sehingga tidak diperkenankan untuk ditempati oleh masyarakat.

Tetapi jika ma syarakat hanya hendak me - lintas untuk melaut dan me - ngambil kayu atau mencari bu - rung dan lainnya, maka hal tersebut diperbolehkan.“Batas hutan dan lahan kami hanya tanggul air. Warga tidak boleh menetap di lokasi ter se but, tapi boleh melintas,” ka tanya. Kebakaran Hutan TN Sembilang tidak berlangsung se ben - tar. Katanya, Syarwan juga ke - su litan melaut saat kabut asap menyelimuti Sumsel.

Apalagi, kabut asap juga membuat per - na pasan menjadi sesak. Syar - wan biasanya hanya meng gu - na kan kaos tipis sebagai pe nu - tup hidung dan mulut sebagai perlindung nafasnya. Karena dia pun merupakan seorang perokok, maka kadang Syarwan sering mengalami batuk-batuk saat melaut. “Sering juga batuk, asap mem buat mata pedih. Jadi, ka - dang juga tidak jadi melaut, karena jarak pandang di laut gelap ditutupi awan.

Karena tidak melaut, maka kami hanya meng garap sawah, dan itupun tidak lama pada pagi hari saja,” ujarnya. Kebakaran juga tidak hanya terjadi di kawasan TN Sem-bi - lang yang berbatasan dengan de sanya. Beberapa desa te - tangga yang berdekatan dengan kawasan hutan tersebut juga terbakar, di antaranya Desa Sum ber Rejeki dan Maju Ria.

Kepala Dusun (Kadus) Ma - ju ria, Arifin mengakui keba karan di kawasan TN Sembilang tahun ini memang terparah yang pernah terjadi. Meski dusunnya tidak banyak ber ba - ta san dengan kawasan rawa Hutan TN Sembilang, dia me - nga takan, desanya juga mera - sak an asap tebal akibat kebakaran tersebut. “Ada tiga daerah yang paling dekat dengan TN Sembilang yakni Majuria, Karang Sari, dan T Sumber Rejeki.

Selain ber ba - tasan dengan kawasan TN Sem - bi lang, juga berbatasan dengan kawasan transmigrasi. Aktivitas masyarakat rata-rata bersawah dan nelayan,” ung kapnya. Dia memperkirakan, di tiga wilayah tersebut terdapat seki - tar 2.000 kepala keluarga (KK). Awalnya, lokasi tersebut meru - pakan kawasan transmigrasi, sehingga masyarakat sudah banyak membuka lahan untuk bersawah.

“Dulu di tahun 2007, sempat ada masyarakat peduli api yang dibentuk oleh Balai TN Sembilang. Saya salah satu koor dinatornya. Masyarakat diajak untuk menjaga hutan,” ujarnya. Akan tetapi, sayangnya, ke - wenangan masyarakat menjaga hutan tidak diimbangi dengan ketetapan hukum.

Akibatnya, kata warga asal Jawa Barat ini, sangat sulit untuk melarang masyarakat tidak beraktivitas di kawasan hutan. “Dari dulu ju - ga sudah ada masyarakat peduli api (MPA) yang turut menjaga hutan. Tapi, sulit juga melarang masyarakat masuk ke kawasan hutan,”tambahnya.

Tasmalinda

Berita Lainnya...