Edisi 21-08-2016
Padukan Konsep Tradisional Internasional


Setiap pasangan yang akan menikah memiliki konsep maupun tema pernikahan tersendiri. Problematika sering muncul ketika pengantin dan orang tua memiliki keinginan berbeda.

Apalagi pernikahan tidak hanya sakral bagi dua anak manusia yang berikrar janji suci untuk hidup bersama, tapi juga bagi keluarga besar kedua mempelai. Tidak mengherankan bila menentukan konsep pernikahan menjadi perkara yang paling pelik bagi tiap pasangan. “Keluargamasihturutcampur terhadap pilihan konsep calon pengantin.

Pengantin ingin bergaya internasional, sedangkan orang tua ingin mengusung nuansa tradisional. Ini yang sering menjadi masalah,” kata pemilik Griya Cantik Tanti, Tanti Setiawan. Untuk menyiasati hal tersebut, wedding organizer menerapkan konsep yang mengolaborasikan nuansa internasional dan tradisional dalam pernikahan. Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi konsep pasangan pengantin dan keinginan keluarga.

Perpaduan konsep tradisional internasional sah-sah saja diterapkan dan lumrah ditemui pada resepsi pernikahan dalam dua tahun belakangan ini. Pengantin tradisional tidak selalu harus mengenakan kebaya Jawa. Misalkan, riasan paes Jawa bisa dikolaborasikan mengenakan gaun internasional. Bisa pula pernikahan adat Padang lengkap dengan mengenakan suntiang dapat dipadukan dengan ball gown.

“Gaun internasional yang banyak diinspirasi dari fairy tale (dongeng) mempengaruhi calon pengantin wanita masa kini. Keinginan waktu kecil menjadi princess (putri) ingin diwujudkan dalam pernikahan. Pengantin pria pun kadang tidak mau mengenakan busana adat dan lebih memilih jas,” ujarnya.

Pakem tata cara pernikahan mulai bergeser tapi tetap apik dilihat. Meski begitu, adat istiadat tidak ditinggalkan sama sekali. Ijab kabul maupun pemberkatan pernikahan masih dominan menggunakan busana warna putih dan kebaya. Sementara saat resepsi, pengantin bebas memilih warna sesuai keinginan.

Desainer Agustin Fashion dari Semarang Agustin Ngahu menilai pengantin masa kini lebih berani dalam memilih warna. Warna putih tak lagi dominan dan lebih bervariasi. Warna biru, hijau, kuning merah, peach, emas dengan detail membuat penampilan lebih apik. Long dress tanpa lengan dan bawahan ber-volume membuat ratu sehari semakin cantik.

Rok berstruktur membuat gaun pernikahan terlihat glamour. Gaun model menjuntai agaknya masih jadi pilihan tahun ini. Kemewahan semakin terlihat dengan taburan full payet, kristal swaroski dan bunga tiga dimensi. “Detail bunga 3D membuat gaun seperti ‘hidup’ dan memberikan efek dramatis. Bunga tidak menempel seperti penggunaan material brokat,” papar Agustin. Kendati begitu, warna putih masih tetap menjadi primadona.

Gaun putih bervolume model dengan desain halter neck atau tanpa lengan. Pengantin semakin cantik dengan hiasan di kepala dengan taburan kristal. Pemilik Wangsit Party & Event Organizer Edhie Soewangsit menilai pengantin memiliki banyak pilihan warna untuk merayakan pernikahan. “Warna putih untuk upacara pengucapan janji pernikahan, sedangkan warna lain untuk resepsi,” ucapnya.

Pengantin akan mengganti busana pernikahan untuk memberikan penampilan lain bagi tamu. Warna yang dipilih lebih soft dan kalem. Konsep pernikahan sangat penting supaya memberikan kesan istimewa baik pengantin, keluarga maupun tamu. Tema minimalis masih jadi pilihan karena pengantin tak banyak yang keluar dari adat istiadat.

Menurutnya, pengantin harus berani berinovasi dan out of the box dalam momen sekali seumur hidup. Konsep pernikahan unik yang pernah digarapnya adalah pengantin Semarangan. Semua sajian, pakaian, dekorasi, dan dress code menggunakan tema Semarangan. Uniknya, sebagian besar tamu patuh mengenakan dress code jadi pernikahan berbeda dari umumnya. “Pengantin harus tampil percaya diri di hari tersebut misalkan unjuk diri di depan tamu. Pernikahan semakin istimewa dengan melibatkan pengantin itu sendiri,” paparnya.

hendrati hapsari

Berita Lainnya...