Edisi 26-08-2016
Mengenang Tokoh ‘66


Meninggalnya Adi Sasono pada 13 Agustus yang lalu mengingatkan saya pada beberapa senior yang dulu aktif menjadi tokoh ‘66.

Jika mendengar kata ”tokoh ‘66”, pikiran kita kembali pada tragedi nasional pemberontakan PKI yang kemudian ditumpas ABRI dan kekuatan massa, terutama mahasiswa yang terhimpun dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) yang para dedengkotnya lalu populer disebut tokoh ‘66.

Waktu itu umur saya 13 tahun, baru memulai belajar di Pondok Pesantren Pabelan, Magelang. Dalam usia menjelang remaja, saya masih ingat ketegangan dan kegentingan yang muncul dalam masyarakat akibat dari gerakan G-30-S. Di Jakarta muncul tokoh-tokoh mahasiswa, khususnya dari lingkaran HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan PII (Pelajar Islam Indonesia) yang bergandengan tangan dengan pasukan RPKAD di bawah komando Sarwo Edhie untuk melakukan perlawanan dan pembersihan terhadap kekuatan PKI yang melakukan makar.

Di daerah ada Banser yang berinduk KEda NU dan Kokam di bawah Muhammadiyah, keduanya turut melakukan gerakan pembersihan terhadap kekuatan PKI. Ketika masih belajar di pesantren, saya sudah sering mendengar nama Fahmi Idris dan Husnie Thamrin, tokoh KAMI dan KAPPI, fotonya sering terpampang di koran Abadi memimpindemonstrasi.

Meskipun masih mahasiswa, keduanya dikenal memiliki idealisme tinggi, bersama pasukan RPKAD tampil menumpas PKI yang telah menciptakan konflik sosial politik, tragedi nasional, dan antiagama. Ketika saya menjadi mahasiswa UIN Jakarta tahun 1974, tentu sangat bangga dan kagum bertemu tokoh-tokoh ‘66 yang sebelumnya hanya saya kenal melalui surat kabar. Lewat forum training HMI akhirnya saya berjumpa mereka meskipun hanya sebagian kecil saja karena yang namanya tokoh ‘66 juga melibatkan tokoh-tokoh mahasiswa di luar HMI dan PII.

Misalnya saja para aktivis Kelompok Cipayung yang dimotori HMI, PMKRI, dan GMNI. Beberapa senior HMI yang memiliki andil ikut membentuk perjalanan intelektual saya yang sekarang masih hidup antara lain Dr Sulastomo (1938), Prof Malik Fadjar (1939), Mar’ie Muhammad (1939), AM Fatwa (1939), Prof Dawam Rahardjo (1942), Harun Kamil, SH (1943), Dr Fahmi Idris (1943), Dr Akbar Tanjung (1945).

Mereka ini putra-putra bangsa yang memiliki komitmen kebangsaan, keislaman, dan keilmuan yang menamatkan kuliahnya rata-rata di atas 10 tahun karena mereka kuliah sambil rajin demonstrasi turun ke jalan. Sekarang ini dalam usianya di atas 70 tahun masih tetap aktif menyumbangkan pengalaman dan pemikirannya lewat forum seminar dan ruang kuliah di kampus.

Dalam diri mereka terkumpul idealisme, pengalaman berorganisasi, rekam jejak politik praktis dan kapasitas intelektual, suatu perpaduan yang semakin langka ditemukan di kalangan mahasiswa hari ini dan politisi era Reformasi. Mahasiswa sekarang ini lebih fokus belajar di kampus, lama studinya pun dibatasi.

Diharapkan dalam waktu 4-5 tahun sudah selesai program S-1. Adapun angkatan ‘66 lama belajar longgar sekali karena waktu itu kampus sebagai pusat perlawanan terhadap Orde Lama dan PKI. Tokoh ‘66 lain yang telah meninggal dunia yang dulu sering berjumpa di forum training HMI adalah Eky Syahruddin, Nurcholish Madjid, Imaduddin Abdurrachim, serta tokoh PII Utomo Dananjaya dan Adi Sasono yang belumlamainimeninggal.

Sekarang dunia kampus sudah banyak mengalami perubahan. Orientasi mahasiswa lebih terarah pada usaha mengejar karier ekonomi. Para aktivis sosial mahasiswa sebagian bergabung ke LSM dan sebagian lagi magang di partai politik dalam suasana batin yang pragmatik. Dulu dari Senayan masih sering muncul figur aktivis politik mantan tokoh-tokoh ‘66 dengan gagasannya visioner.

Sekarang yang sering tampil adalah mantanselebritasataupolitisidengan jam terbang yang pas-pasan. Bahkan ada yang karbitan. Setiap zaman punya agenda, tantangan, dan gaya yang berbeda. Namun dalam konteks berbangsa dan bernegara, ada pertanyaan, tugas, dan tuntutan yang mesti dipenuhi, yaitu mesti semakin mendekatkan cita-cita kemerdekaan dengan mencerdaskan dan menyejahterakan rakyat secara berkeadilan.

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
@komar_hidayat