Edisi 12-10-2016
PNS Korban Penganiayaan Ditekan


CIREBON – Korban penganiayaan yang didu ga dilakukan oknum anggota DPRD Ka bu paten Cirebon menerima tekanan dari ber bagai pihak menyusul terungkapnya du gaan praktik suap di balik peristiwa ter se but.

Sebagaimana diketahui, korban penganiayaan Rakhmat Hidayat, 38, merupakan pegawai negeri sipil (PNS) di RSUD Arja wi na - ngun, Kabupaten Cirebon. Pada Jumat (7/10), Rakhmat diduga di ania ya anggota DPRD Ka bu - pa ten Cirebon Yoyo Suaryo, 60, di RSUD Arjawinangun.

Be la - kang an terungkap, peristiwa itu ter kait erat dengan praktik suap te naga kontrak rumah sakit (TKRS) yang nilainya mencapai pu luhan juta rupiah. Rakhmat yang melaporkan penganiayaan tersebut akhirnya me lapor ke Polres Cirebon. Na - mun, pelaporan tersebut kini ber buah tekanan psikologis dari ber bagai pihak, terutama tempat Rak hmat bekerja.

Menurut Rak - hmat, pimpinan dan manajemen RSUD Arjawinangun meminta dirinya menarik laporan dengan per timbangan kondusivitas dae - rah. “Pihak rumah sakit me min ta saya untuk mem per timb ang kan ulang kelanjutan kasus ini. Alasan nya, untuk menjaga kon - dusivitas Kabupaten Cirebon dan rumah sakit,” ungkapnya se - usai memenuhi panggilan Polres Ci rebon terkait kelengkapan be - rita acara pemeriksaan (BAP), kemarin.

Namun, dia memastikan, tak ber niat menarik laporan karena me rasa apa yang dilakukannya me ru pakan hak pribadi. Rak h - mat pun mengaku, masih meng - ingat makian dan per la kuan Yoyo yang membuatnya ke cewa. Rakhmat merasa harga di rinya telah direndahkan.

Di hadapan petugas Polres Ci - rebon, Rakhmat meng ung kap - kan adanya praktik suap untuk me lancarkan proses penerimaan TKRS melalui setoran sejumlah uang kepada Yoyo. “Penerimaan tenaga kontrak ini berkaitan de - ngan analisa kebutuhan pegawai. Ru mah sakit tengah mem ba - ngun gedung baru dengan enam lokal ruang perawatan,” katanya.

Kepada petugas, Rakhmat pun mengaku, terakhir dirinya me masukkan dua orang calon pe gawai menjadi TKRS dengan setoran total Rp100 juta kepada Yoyo. Rakhmat menyebutkan, untuk TKRS lulusan D3 Ke pe ra - watan dan Kebidanan, nilai suap nya mencapai Rp50 juta/ - orang. Sementara lulusan S1 Ke - pe ra watan Rp60 juta.

Rakhmat sendiri telah me - masuk kan tujuh orang dimana se lu ruhnya melalui perantaraan Yoyo. Dari kesaksian Rakhmat, Yoyo sendiri diduga hanyalah sa - lah satu jaringan dalam praktik suap di RSUD Arjawinangun yang bermuara kepada Bupati Ci re bon Sunjaya Purwadi Sastra. “Pe tu gas di antaranya me na nya - kan latar belakang pengania ya an, yasaya ceritakan semuanya,” ujar Rakhmat.

Kuasa hukum Rakhmat Agus Pra yoga saat mendampingi kli en - n ya mengungkapkan, ren ca na - nya, Jumat (14/10) nanti, lima saksi yang menyaksikan peng - aniayaan itu akan dipanggil ke Polres Cirebon. Kelima saksi itu, yakni Kepala Sub Bagian Ke pe ga - waian RSUD Arjawinangun Sek - hu dan empat staf tata usaha (TU), masing-masing Abdullah, Joko Sutrisno, Iskandar, dan Yu - han. “Lima orang itu akan di - pang gil sebagai saksi,” katanya.

Melalui sambungan telepon, Yoyo tak banyak mengklarifikasi ke ja dian itu. Dia pun menolak merespons lebih jauh soal du - gaan praktik suap yang me li bat - kan dirinya dan bupati. “Soal pe - la por an Rakhmat, itu biasa saja, tidak ada masalah. Nanti setelah dia (Rakhmat), saya yang BAP,” tu tur nya tanpa merinci maksud BAP yang dikatakannya.

Kronologi kejadian itu ber - mu la ketika Rakhmat diminta Ke pala Sub Bagian Kepegawaian RSU D Arjawinangun Sekhu un - tuk bertemu di ruang kerja Ba gi - an Kepegawaian RSUD Ar ja wi na - ngun, Jumat (7/10). Rakh mat diketahui berutang ke pa da Yoyo Rp10 juta yang me ru pa kan sisa pem bayaran dari uang suap pe - ne ri maan TKRS Ar ja winangun sejumlah Rp100 juta. Dari total Rp100 juta, Rak h - mat baru menyetorkan Rp90 juta.

Kekurangan Rp10 juta itu - lah yang ditagih Yoyo kepada Rak hmat dengan alasan Bupati Sun jaya telah menanyakannya. “Saya bilang kepada Pak Sekhu, belum ada uang untuk me lu nasi - nya,” cetus Rakhmat. Sekhu kemudian me na war - kan uang RSUD Arjawinangun di pakai untuk menutupi utang itu. Syaratnya, Rakhmat harus me ne rima gajinya dipotong Rp2 juta/ bulan selama lima bulan ke depan.

Perjanjian itu akan di - tuang kan dalam surat kuasa dari Rakhmat kepada pihak rumah sakit. Usul itu pun akhirnya di te - ri ma Rakhmat. Namun, di tengah prosesnya membuat surat kuasa, Yoyo tibatiba muncul di hadapan Rakh - mat dan Sekhu. Menurut Rakh - mat, Yoyo langsung menagih se - raya memakinya dengan sebutan tak pantas.

“Ketika itu saya be - lum emosi, saya cuma jawab se - dang saya urus untuk pe luna san - nya,” katanya. Hanya, emosi Rakhmat ter - pancing ketika Yoyo justru me - nyebut utangnya bukanlah Rp10 juta melainkan Rp40 juta. Rakh - mat mengaku, sempat meng geb - rak meja mendengar jumlah itu. Na mun kejadian selanjutnya sungguh di luar dugaan ketika Yoyo tiba-tiba memukul mata ka nan dan mendorongnya hing - ga jatuh seraya memaki Rak h - mat.

Korban mengaku, seluruh ke - ja dian disaksikan Saehu. Rakh - mat pun sempat mem pe r tanya - kan alasan perbuatan Yoyo dan mengancam melaporkannya ke - pada p olisi. “Tapi Yoyo bilang tidak takut karena dia anggota dewan,” tambah Rakhmat. Mendengar itu, dibantu se - jum lah teman, korban pun me la - ku kan visum di rumah sakit tem - pat nya bekerja.

Hasil visum se - lan jutnya dijadikan dasar pe la - poran ke Polsek Arjawinangun. Hanya, dengan alasan me libat - kan anggota DPRD, Rakhmat di - arahkan dan diantar Kapolsek Arjawinangun melaporkan kejadian itu ke Polres Cirebon de ngan tuduhan penganiayaan. Kejadian itu pun akhirnya mengungkap adanya praktik suap dalam penerimaan TKRS di RSUD Arjawinangun setiap ta hunnya, dan diduga me li - batkan bupati.

Diketahui, selama 2016 pihak rumah sakit mem - buka kesempatan bagi 208 TKRS yang dibagi dalam enam ge - lombang, pada beragam posisi mulai dari bidan, perawat, pe - ngem udi ambulans, dan lainnya.

erika lia

Berita Lainnya...