Edisi 12-10-2016
Isu SARA Jadi Tantangan Serius FKUB Sumut


MEDAN - Isu-isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) dalam beberapa tahun belakangan mulai mengusik kerukunan umat beragama di Sumatera Utara (Sumut).

Karena itu, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) harus menyusun suatu langkah strategis dalam menjaga kerukunan masyarakat. Ketua FKUB Sumut, Maratua Simanjuntak, mengungkapkan, selama kurun waktu 2008-2016 terdapat 14 konflik kerukunan umat beragama yang terjadi di Sumut.

Khusus pada 2016, terdapat empat kasus yang mengusik kerukunan umat beragama di Sumut, yakni kasus perusakan/pembakaran vihara dan rumah sosial di Tanjung Balai, kasus percobaan bunuh diri di Gereja Katolik Stasi St Yoseph Medan, penyebaran buku pelajaran SD yang memuat bahwa Muhammad adalah Nabi ke-13 di Padanglawas Utara, dan kasus pembakaran rumah di Tapanuli Selatan awal September lalu.

Selama ini FKUB melihat kasus-kasus yang mengusik kerukunan umat beragama tidak ditangani serius oleh pihak kepolisian. Untuk itu, FKUB berharap agar semua kasus yang mengganggu kerukunan umat beragama ditangani serius oleh kepolisian. FKUB juga meminta kebijakan Kementerian Agama (Kemenag) agar kantor urusan agama (KUA) kecamatan bisa mengoordinasi tokoh-tokoh lintas agama agar FKUB bisa memberikan rekomendasi dalam kasus kerukunan.

“Terlebih banyak kepala daerah belum paham tentang kerukunan umat beragama,” ujar Maratua dalam rapat koordinasi FKUB Sumut di Medan, Selasa (11/10). Sementara Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sumut, Tohar Bayoangin, berharap FKUB mampu mengantisipasi gejolak yang terjadi di masyarakat, agar tidak terjadi kericuhan dalam kerukunan umat beragama.

Kepada para ulama, pendeta, pastor, dan juga Kemenag kabupaten/ kota diharapkan saling memantau dan menjaga. “Kita harus saling menghargai, jangan ada timbul stigma yang tidak baik, terutama kepada tokoh agama,” ucap dia.

siti amelia

Berita Lainnya...