Edisi 12-10-2016
Korban Penipuan Rugi Jutaan Rupiah


MEDAN - Tiga korban kasus dugaan penipuan oleh salah satu biro jasa pegadaian melapor ke Polsekta Medan Area karena sudah dirugikan puluhan juta rupiah.

Ketiga korban, yaitu Alfian Nur, 66, warga Jalan Brigjen Hamid, Titi Kuning, Kecamatan Medan Johor; ChandraIrawan, 36, warga Jalan Garuda Kelurahan Banten Timur, Kecamatan Medan Tembung; dan Untung, 44, warga Jalan Bambu IV, Kelurahan Durian, Kecamatan Medan Timur. Mereka mengaku sudah ditipu oleh salah satu biro jasa di Jalan Gajah, Kecamatan Medan Area.

Kepada wartawan, korban Alfian menjelaskan, dia mengetahui biro jasa itu melalui iklan salah satu media cetak. Kemudian Mei 2016, dia menggadaikan surat tanah seharga Rp20 juta dengan perjanjian dua bulan akan dibayar kontan dengan bunga 4%. Alfian dan Edward Sebastian alias A Huat alias Ari Wibowo alias Alik, 39, warga Jalan Gelas Kompleks Topan Indah Permai, Kecamatan Medan Petisah, menyetujui kesepakatan tersebut.

“Setelah itu, saya dibawa ke notaris bernama Fujianto Ngariawan membuat akta jual-beli tanah seharga Rp20 juta. Saya dan Edward kembali ke kantor biro jasa untuk menghadap istrinya (Edward), Novita. Setelah dipotong administrasi Rp2,5 juta, saya menerima bersih Rp17,5 juta. Tapi di dalam kuitansi itu tertulis uang Rp30 juta sebagai uang titipan,” ucap Alfian, Selasa (11/10).

Kemudian setiap bulan, Alfian membayar bunga Rp800.000. Setelah dua bulan, Alfian melunasi peminjaman itu senilai Rp20,8 juta kepada Novita melalui transfer. Namun, sejak pelunasan, dia tidak bisa mengambil surat tanahnya. “Setelah satu bulan tidak ada kejelasan, saya ke notaris Fujianto dan menemui stafnya.

Tapi staf Fujianto itu meminta uang Rp50 juta kepada untuk tebusan surat tanah. Saya didampingi pengacara, membayar uang tebusan tersebut,” ucapnya. Meski sudah membayar uang tebusanitu, Alfiantetaptidakbisa mengambil surat tanahnya. Atas hal itu, Alfian melaporkan pasangansuami-istriEdward dan Novita tersebut ke Mapolsekta Medan Area dengan Nomor STTLP/1131/K/X/2016/SPK Sektor Medan Area untuk menuntut uang Rp20,8 juta yang diberinya.

Sementara korban lain, Untung, mengaku pergi ke biro jasa tersebut untuk take over sertifikat tanah yang digadai di Panin Bank tanggal 26 Juli 2016. Untuk memproses take over itu, Untung memberikan uang Rp4,5 juta kepada Edward. “Saya dijanjikan dalam satu bulan, urusan take over itu dapat diselesaikan,” ujar Untung.

Tiga bulan kemudian, urusan itu belum kunjung selesai. Sebelum membuat laporan, Untung sempat menjumpai Edward dan meminta agar uangnya dikembalikan. “Di situ sempat terjadi keributan dan Edward tidak mau berdamai secara kekeluargaan,” kata Untung.

Atas hal itu, Untung juga melaporkan Edward ke Mapolsekta Medan Area dengan Nomor STTLP/1132/K/IX/2016/SPK Sektor Medan Area. Sementara korban Chandra mengatakan, dia menggadaikan Ipad 3 ke biro jasa itu pada Mei 2016 kepada istri Edward, Novita senilai Rp1,7 juta dengan bunga 10% per bulan.

Saat ditebus, Ipad tersebut tidak diberikan dengan alasan barangnya masih dibawa pekerja. Meski Chandra sudah bertanya berkali-kali, Novita menolak mengembalikan dengan berbagai dalih. “Kesabaran saya habis dan melaporkan Novita ke MapolsektaMedanArea,” ujarChandra. Laporan Chandra tertuang dalam Nomor STTLP/1133/K/IX/2016/SPK Sektor Medan Area.

Kapolsekta Medan Area Kompol Muhammad Arifin mengatakan masih melakukan penyelidikan dan mengumpulkan data-data dalam perkara tersebut. “Saksi korban masih kita mintai keterangannya dalam perkara diduga penipuan. Kita juga masih mengumpulkan data simpan pinjam uang tersebut. Jika terbukti pidana, terlapor akan kita jemput,” tandasnya.

dody ferdiansyah

Berita Lainnya...