Edisi 12-10-2016
Prof Rauf: Pengelolaan DAS Belum Berjalan Baik


Pengelolaan lingkungan berbasis pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), secara massal belum diterapkan dengan baik di Sumatera Utara (Sumut). Kondisi ini menyebabkan banyak daerah selalu banjir ketika terjadi hujan.

Selain itu banyak air tercemar dan keadaan tanah semakin kritis. Pemimpin Forum DAS (Fordas) Wampu, Prof Abdul Rauf, menuturkan, pengelolaan lingkungan di seluruh wilayah Indonesia khususnya Sumut seharusnya berbasis pengelolaan DAS yang baik. Ini didasarkan letak geografis Indonesia yang berada di kawasan tropis basah dengan curah hujan yang sangat tinggi.

Jadi, air menjadi faktor utama pengendali proses dalam ekosistem. “Sayangnya dalam pembangunan sistem pengelolaan DAS yang baik ini kurang dijalankan dengan baik,” ujarnya, Selasa (11/10). Rauf menjelaskan, air hujan berlebih yang tidak tertampung dengan baik dalam ekosistem DAS akan menjadi ancaman terhadap terjadinya erosi pada tanah dan sedimentasi yang sangat tinggi pada badan-badan air.

Di antaranya sungai, danau, waduk dan bahkan laut terutama di kawasan pantai. Dengan demikian akan selalu terjadi banjir pada musim hujan dan terjadi kekeringan pada musim kemarau. “Karenanya pengelolaan DAS yang baik sangat dibutuhkan agar tidak terjadi banjir,” kata Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) ini.

Kata dia, pada dasarnya pengelolaan DAS merupakan pengaturan hubungan timbal balik antarmanusia dan sumber daya alam sekitarnya untuk terwujudnya kesejahteraan ekonomi sosial dan budaya secara berkelanjutan. Dengan begitu manusia perlu menjaga agar tidak terjadi kerusakan sumber daya alam terutama lahan agar sumber daya alam tersebut dapat menghasilkan produk yang memberikan kesejahteraan hidup manusia.

Guna menjaga sumberdaya alam ekosistem DAS dan menjaga keseimbangan siklus air di alam, lanjutnya, banyak teknik yang dapat diterapkan pada penyelamatan lingkungan berbasis pengelolaan DAS di antaranya dengan pembuatan biopori, sumur resapan, rorak, taman intersepsi, tapak permeabel, dan lain lain.

Dengan cara ini, air hujan yang jatuh akan ditampung dan diserap (terinfiltrasi) ke dalam tanah dan akan keluar ke sungai melalui mata air-mata air. “Bila tanah mampu menginfiltrasi air hujan yang datang dalam jumlah banyak maka dipastikan tidak akan terjadi banjir pada musim hujan dan tersedia cukup air pada musim kemarau.

Inilah ciri DAS yang baik,” papar dia. Pengelola DAS yang baik ini, kata Rauf, sudah sering disosialisasikan Forum DAS Wampu di beberapa komunitas kota Medan, terutama ke siswa-siswa di sekolah. Ini dilakukan agar sejak dini siswa mengetahui cara pengelolaan DAS yang baik, sehingga bisa diterapkan dalam lingkungannya.

“Sosialisasi terakhir kami lakukan Senin (10/10) lalu di SMA Negeri 1 Binjai,” ucapnya. Kepala SMAN 1 Binjai, Susianto, menuturkan, sekolah mengundang Forum DAS Wampu untuk melakukan sosialisasi pengelolaan lingkungan berbasis pengelolaan DAS di SMAN 1 Binjai sehubungan dengan ditunjuknya SMAN 1 Binjai sebagai Sekolah Rujukan Program Pengelolaan Bina Lingkungan Sekolah di Kota Binjai.

Langkah sosialisasi juga dilakukan sebagai upaya pendidikan lingkungan bagi para siswa-siswi untuk menghasilkan kader lingkungan di lingkungan sekolah dan masyarakat. “Semoga dengan pengetahuan yang diterima bisa diterapkan anak-anak didik, tak hanya di sekolah, namun juga dalam kehidupan di masyarakat nantinya,” tandasnya.

siti amelia

Berita Lainnya...