Edisi 12-10-2016
Saksi Nelson Juga Mengaku Pemilik Tanah


MEDAN - Sidang lanjutan sengketa kepemilikan tanah Grand Sultan seluas 18.000 m2 dengan empat terdakwa perempuan paruh baya kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (11/10), dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.

Jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan saksi Nelson Matondang, pria yang membeli tanah dari Terkelin Sinulingga, terdakwa yang juga kuasa penjual tanah dari tiga terdakwa lain sebagai ahli waris. Saksi mengaku membeli tanah seharga Rp9,3 miliar dari Terkelin pada Mei 2014 atau seharga Rp500.000 per meter.

“Saat itu Bu Terkelin membawa surat kuasa yang ditandatangani enam ahli waris dari Datok Nahari, termasuk ketiga terdakwa,” ujarnya saat sidang yang diketuai majelis hakim Erintuah Damanik. Selanjutnya, dengan sertifikat Grand Sultan yang dimiliki, Nelson mengurus akta jual-beli ke notaris pada tanah dengan SK dari Sultan Agung Perkasa Alamsyah.

Dia pun membayar uang muka kepada Terkelin lewat orang kepercayaannya sebesar Rp400 juta. Tanah tersebut diatasnamakan kepada istrinya, Helena Hutabarat. Namun, tanah tersebut belum dilunasi dan baru dibayar senilai hampir Rp2 miliar. Belakangan, Johannes datang mengklaim sebagai pemilik yang mengaku memiliki sertifikat eks hak guna bangunan (HGB). “Saya pernah diundang ke Kantor Camat Medan Sunggal.

Ada yang mengaku pemilik. Camat memanggil saya agar dimediasi dengan Johannes. Pertemuan itu dihadiri muspika,” katanya. Namun, Nelson mengaku tidak membaca surat eks HGB milik Johannes tersebut. Johannes yang dalam keadaan marah hanya menunjukkan sertifikat dengan cara mengangkat dengan tangannya.

“Sertifikat itu hanya ditunjukkan saja, itu pun hanya fotokopi. Mediasi itu hanya sekali saya ikuti. Saya selanjutnya digugat Johannes atas dasar penguasaan tanah itu dan sidangnya masih berjalan sekarang. Tapi yang perlu kami sampaikan, Johannes memagari tanah itu dengan dikawal personel Brimob,” ucapnya.

Majelis hakim selanjutnya mencecar saksi dengan pertanyaan seputar pengetahuan terhadap status tanah. Dia mengaku tidak tahu tanah tersebut sedang bersengketa. Nelson mengatakan, saat ini sertifikat tanah Grand Sultan berada pada notaris yang mengurus akta jual beli tersebut di Jalan Binjai Medan.

Keempat terdakwa ahli waris yang merupakan kakak beradik membantah keterangan saksiyangmengklaimmemiliki sertifikat asli tanah Grand Sultan. Yusnita Fauziah, 46, warga Jalan Kenari Raya dan Khairul Laili, 54, menyatakan masih mengantongi sertifikat tanah Grand Sultan yang asli tersebut.

“Kami tidak pernah kasih Grand Sultan asli kepada Terkelin. Kami masih simpan yang asli,” ucap Yusnita. Saat ini keempat terdakwa meringkuk di balik penjara karena dituduh menjual tanah seluas 18.664 meter persegi, warisan orang tua mereka, almarhum Datuk Nahari. Padahal, tanah warisan tersebut sampai saat ini belum pernah dijual atau terjual.

syukri amal

Berita Lainnya...