Edisi 12-10-2016
Tol Medan-Tebing Terkendala


MEDAN– Pembangunan jalan tol Medan – Kualanamu – Tebingtinggi hingga saat ini masih terkendala pembebasan lahan dan ketersediaan bahan material. Akibatnya, jalan tol diperkirakan molor dari perencanaan awal tahun 2017.

Staf Ahli Bidang Ekonomi, Sumber Daya Alam (SDA) dan Keuangan Setdaprov Sumut, Dinsyah Sitompul, menuturkan, pembebasan lahan tol Medan – Kualanamu – Tebingtinggi baru mencapai 98%. Dari 17,8 kilometer (km) lahan yang direncanakan untuk pembangunan jalan tol, pembebasan lahan masih terkendala sepanjang 3,3 km.

“Tinggal 3,3 km yang belum dibebaskan. Namun proses pembebasan sudah dilakukan, tinggal mungkin hanya pembayaran,” ujar Dinsyah Sitompul di Medan, Selasa (11/10). Selain persoalan pembebasan lahan, pembangunan tol Medan – Kualanamu – Tebingtinggi juga terkendala ketersedian bahan material untuk cor beton peningkatan badan jalan. Setidaknya dibutuhkan 4.000 ton material per hari untuk pembangunan tol.

Sementara saat ini ketersediaan material baru mencapai 1.000 ton per hari. Dinsyah menuturkan, material untuk cor beton yang sesuai standar saat ini dari daerah Langkat. Persoalannya untuk mengangkut material ini harus melewati jalan kabupaten sepanjang 20 km dan tidak boleh dilewati kendaraan dengan tonase lebih dari 8 ton.

“Maka itu kami akan meminta izin kepada Pemkab Langkat agar jalan kabupaten bisa dilalui kendaraan dengan muatan 12 ton. Kalau pembebasan tanah tuntas, mudahmudahan tahun ini selesai semua, baik dari Medan – Kualanamu maupun Kualanamu – Tebingtinggi,” ujarnya. Selain jalan tol Medan – Kualanamu – Tebingtinggi, pembangunan jalan tol Medan – Binjai juga terkendala karena pembebasan lahan belum tuntas.

Seperti halnya di ruas 1 Tanjung Mulia menuju Helvetia yang dihuni 500 kepala keluarga (KK). Masalahnya mereka hanya pemilik bangunan, bukan pemilik lahan. Lahan itu milik tujuh orang. Namun, sampai kemarin baru tiga pemilik yang sudah diketahui sementara susahnya masih dicari. “Tapi pejabat pembuat komitmen (PPK) pengadaan tanah tetap menginventarisasi pemilik tanah ini sehingga pembebasan lahan baru terealisasi Februari 2017.

Seharusnya memang tuntas 2016, namun karena pembebasan lahan harus sangat teliti dan hati-hati, maka harus dilakukan pendataan ini supaya jangan ada yang salah,” ujarnya lagi. Permasalahan lainnya, lanjut Dinsyah, lahan di daerah Sungai Mencirim yang merupakan jalan keluar dari jalan nasional Gatot Subroto ke pintu Gerbang Sungai Semayang.

Lahan ini merupakan milik masyarakat dan juga ada perlintasan kereta api dengan panjang sekitar 4 km dan lebar 25 meter. “Kami sudah meminta rekomendasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan meminta persetujuan Dirjen Perkeretapian Kementerian Perhubungan karena di sana ada perlintasan kereta api.

Harapan kami 2016 bisa persetujuan sudah tuntas karena ruas dua dan tiga diharapkan selesai Desember 2016,” paparnya. Sementara itu, pengamat transportasi dari Universitas Panca Budi, Bhakti Alamsyah, mengapresiasi percepatan pembangunan jalan tol Medan –Kualanamu – Tebingtinggi. Dia berharap agar pemerintah segera melakukan pembebasan lahan, sehingga masyarakat bisa merasakan manfaatnya.

“Soal pembebasan lahan yang masih ada kendala, itu kewenangan pemerintah untuk segera menuntaskannya sesuai aturan dan mekanisme yang tepat agar tidak ada keresahan di kalangan masyarakat sebagai pemilik lahan. Harapan kita semakin cepat jalan tol terealisasi, maka akan semakin cepat manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Dengan terealisasinya jalan tol Medan – Tebingtinggi, tentunya roda perekonomian akan semakin lancar. Jika selama ini jarak tempuh harus memakan waktu 2 hingga 3 jam, nantinya akan bisa lebih cepat dari jarak tempuh sebelumnya. “Pengiriman barang dan jasa tentu lebih cepat akan semakin baik.

Apalagi dari Medan-Tebing Tinggi akan menyambung sampai ke Kisaran lalu ke Riau. Selain itu dari Tebingtinggi juga akan dibangun akses hingga Pematangsiantar menuju Danau Toba,” ucapnya.

lia anggia nasution

Berita Lainnya...