Edisi 12-10-2016
Mengeksplorasi Keindahan Indonesia dan Mengenalkannya Pada Dunia


Rambut gondrong agak sem rawut, pakaian serba hi tam, mata agak sayu nam pak jelas terlihat pada beberapa orang pemuda yang sedang bercengkerama di depan dua buah tenda di Pantai Gua Cemara, Bantul beberapa hari yang lalu.

Nampak di depan mereka kopi hitam di dalam sebuah gelas yang terbuat dari kertas. Di samping mereka ada kompor gas kecil berwarna merah dan di atasnya masih terlihat ada panci berbentuk kotak yang berisi seduhan kopi. Beberapa bungkus mi instan terlihat belum dibuka oleh pemiliknya. Kaleng-kaleng bulat kecil berisi rokok lintingan menambah suasana se ma - kin syahdu di antara mereka.

Sesekali lengkingan tertawa lepas dari mereka terdengar hingga ke tepi pantai yang berjarak puluhan meter, meskipun tenda mereka berada di bawah rerimbunan pohon cemara yang banyak terdapat di pantai tersebut. Dua dari mereka nampak sedang tidur di dalam Hammock (tempat tidur berasal dari tali) yang berada di belakang dua tenda tersebut. Mereka ternyata adalah beberapa personil Backpaker Indonesia yang sedang menikmati keindahan rerimbunan pohon cemara di pantai selatan Kabupaten Bantul.

Sekitar dua malam sudah mereka lewati di pinggir pantai untuk menikmati keindahan alam karya Ilahi. Tak ada yang mereka lakukan secara pasti kecuali duduk-duduk dan bermain pasir. Ketua Backpacker Indonesia (BPI) regional Yogyakarta, Aradeya Kurniyanto mengatakan, bermalam menggunakan tenda di lokasi obyek wisata merupakan salah satu aktivitas menyenangkan yang sering dilakukan para pencinta jalanjalan ini. Komunitas pencinta jalan-jalan ini memang terbentuk secara tidak sengaja dari dunia maya.

“Awalnya dari media sosial, yaitu ketika ada orang yang mengunggah foto sedang berlibur di sebuah obyek wisata,” tuturnya. Tak ada aturan yang pasti bagi anggota komunitas backpacker ini karena asal senang jalan-jalan sudah bisa bergabung. Hanya saja, meski tidak ada aturan main, tetapi sebagai ciri khas dari kelompok ini adalah pencinta jalan-jalan dengan menggunakan tas gendong besar di belakang dan yang jelas jalan-jalan mereka adalah berbiaya murah.

Backpacker merupakan salah satu julukan mereka yang senang dengan jalan-jalan berbiaya murah. Anggota komunitas ini selalu berburu tiket murah untuk ke daerah yang ingin mereka kunjungi. Jika tidak ada tiket murah, mereka bisa menggunakan kendaraan apapun. Asal nyaman, mereka bersedia menggunakannya, sekalipun menumpang dengan truk ataupun kereta barang.

Tujuan mereka sebenarnya ingin menikmati liburan dengan cara yang berbeda, tanpa harus repot dengan jadwal kunjungan ke sebuah obyek wisata ataupun dengan aturan jadwal yang padat, mereka ingin menikmati keindahan alam dengan caranya sendiri. Hotel Bintang Seribu dan Atap Langit sudah akrab di kehidupan mereka. “Kami ingin menunjukkan ke masyarakat luas, jika liburan itu tidak harus mahal dan repot,” ujarnya.

Semangat dari kaum Backpacker Indonesia ini memang cukup mulia, mengeksplorasi keindahan Indonesia dan memperkenalkan kepada dunia potensi alam yang luar biasa ada di Indonesia. Melalui mereka pula, sebenarnya promosi pariwisata Indonesia bisa cepat sampai ke masyarakat luas bahkan dunia.

Sebab tanpa diminta, mereka akan memperkenalkan keindahan tempat yang telah mereka kunjungi melalui media sosial. Ara mengklaim, karena jasa Backpacker Indonesia pula keindahan Raja Ampat ditemukan, bahkan kini menjadi salah satu destinasi utama di dunia yang wajib dikunjungi jika ingin berlibur di Indonesia. Tak hanya itu, banyak obyek wisata lain yang awalnya tidak dikenal masyarakat luas kini banyak dikunjungi.

Indra Arif Setiawan, backpacker asal Malang mengaku, meskipun sebenarnya peran dari komunitas Backpacker Indonesia cukup besar dalam mempromosikan destinasi wisata di Tanah Air, tetapi selama ini support dari pemerintah untuk mereka sangat minim bahkan bisa dikatakan sama sekali tidak ada. Padahal, mereka sebetulnya senang ketika pemerintah membekali banyak brosur yang bisa mereka bagikan kepada pengunjung ketika mereka mengunjungi suatu tempat.

“Ini miris, di luar negeri seperti Vietnam tidak ada yang tahu Indonesia itu seperti apa. Padahal ketika kami berkunjung ke sana, bisa sebar brosur juga,” tuturnya. Humas Eksternal BPI Yuwono Catur Samiyanto mengaku, backpacker kini sudah menjadi gaya hidup.

Backpacker sering dipandang sebelah mata karena penampilannya yang terkesan urakan, dekil, dan apa adanya. Mereka selalu mengidentikkan backpacker dengan kaum pengganggu karena tidak memiliki uang dan menginginkan semuanya semurah mungkin. “Padahal mereka tidak tahu barang yang kami bawa mahal semua. Sepatu saja paling murah Rp500.000, belum lagi tenda, atau peralatan lain,” tuturnya.

Erfanto Linangkung

Yogyakarta


Berita Lainnya...