Edisi 12-10-2016
27 Daerah di Jatim Siaga Darurat Bencana


SURABAYA – Sebanyak 27 kabupaten/kota menyatakan status siaga darurat bencana menyusul terjadinya banjir, tanah longsor, dan puting beliung di daerahnya beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan perkembangan ini, Pemprov menggodok penetapan status siaga darurat bencana di wilayah Jawa Timur. “Sampai sekarang sudah 27 kabupaten/kota, dari 35 daerah yang ada BPBD resmi mengajukan surat siaga darurat ke Gubernur. Sisanya, delapan daerah masih proses pengajuan,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Sudarmawan, kemarin.

Ke-17 daerah tersebut meliputi Kabupaten Madiun, Pacitan, Ponorogo, Lamongan, Banyuwangi, Trenggalek, Blitar, Tulungagung, Bojonegoro, Mojokerto, Jombang, Pasuruan, Bangkalan, Sidoarjo, Nganjuk, Kediri, Probolinggo, Lumajang, Bondowoso, Pamekasan, Sumenep, Sampang, Kota Kediri, Kota Malang, Kota Batu, Kota Pasuruan, danKotaProbolinggo. Sudarmawan mengaku telah mengajukan penetapan status siaga darurat bencana di Jawa Timur ke Biro Hukum Pemprov Jatim.

Langkah ini diambil agar bisa memobilisir semua sumber daya yang dimiliki untuk penanganan bencana, terlebih setelah ke-27 daerah telah menetapkan status siaga darurat bencana. “Dengan adanya surat ini, semua sumber daya yang dimiliki untuk menangani bencana tersebut bisa dikeluarkan,” ungkap dia. Menurut Sudarmawan, sumber daya yang dimaksud bisa berbentuk manusia, peralatan, logistik, hingga anggaran.

Tanpa surat penetapan status siaga darurat bencana, seluruh kebutuhan sumber daya dan anggaran tersebut tidak bisa diproses dan digunakan. Lebih dari itu, status siaga darurat menjadi dasar untuk mempersiapkan segala sesuatu terkait penanganan kebencanaan, mulai pembuatan posko 24 jam, penambahan personel hingga mengelola kegiatan bencana.

“Saya sudah rapat dengan kabupaten/kota membahas status siaga darurat ini. Secara umum daerah-daerah sudah menyatakan siaga darurat. Tapi yang baru selesai 27 kabupaten/ kota,” jelasnya. Sudarmawan juga menjelaskan, untuk level provinsi, surat resmi penetapan status siaga darurat sudah dikirim ke Biro Hukum. Pihaknya belum mengetahui kapan proses pembuatan surat status siaga darurat bencana itu selesai. ”Semua persiapan untuk menangani bencana ini dilakukan.

Mengingat ada rujukan dari peringatan BMKG ada cuaca ekstrem. Salah satunya dengan menetapkan status siaga darurat bencana,” paparnya. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memang telah memperingatkan bahwa cuaca ekstrem yang ditandai dengan curah hujan tinggi dan angin berkecepatan tinggi saat ini menandai awal musim penghujan. Kondisi ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga awal 2017.

Di saat bersamaan, kondisi laut juga sedang mengalami pasang. Hal ini menyebkan terjadinya banjir di beberapa daerah di pesisir pantai utara seperti Pasuruan dan Sidoarjo, serta kawasan pantai selatan seperti beberapa kecamatan di Kabupaten Malang. “Air pasang maksimum dapat mengganggu kelancaran pembuangan air hujan ke laut sehingga bisa menggenangi kawasan pesisir,” kata prakirawan BMKG Maritim

Tanjung Perak Surabaya Eko Prasetyo. Berdasarkan prediksi BMKG, air laut di wilayah Jatim akan mengalami pasang maksimum pada 16-18 Oktober dengan ketinggian 120-130 centimeter, sedangkan pada November air pasang maksimum setinggi 130-140 centimeter dan Desember setinggi 140- 150 centimeter.

Daerah-daerah yang berpeluang terdampak yaitu Surabaya utara, pesisir pantai utara Jawa sampai Tuban, serta Surabaya barat dan timur, Pasuruan, serta Probolinggo hingga Situbondo. Dampak yang ditimbulkan air laut yang mengalami pasang maksimum ini bisa cukup signifikan karena berbarengan dengan curah hujan cukup tinggi.

Pantura Lumpuh

Setelah Sidoarjo, banjir di pesisir utara Jawa kemarin terjadi Pasuruan. Banjir yang disebabkan meluapkan tiga aliran sungai yaitu Welang, Petung dan Kedung Larangan ini merupakan yang keempat sepanjang 2016. Bukan saja menggenangi lebih dari 3.000 rumah dan ratusan hektare sawah, banjir juga memutus arus lalu lintas (lalin) di jalur utama penghubung Surabaya- Banyuwangi-Bali.

Dua kecamatan di Kota Pasuruan dan lima kecamatan di Kabupaten Pasuruan menjadi pelanggan tetap banjir rutin tersebut. Tujuh kecamatan ini dipastikan tergenang saat kawasan selatan Kabupaten Pasuruan, yakni Purwosari, Sukorejo, Pandaan, dan Prigen diguyur hujan lebat. Ketinggian air yang menggenangi pemukiman warga berkisar 40-120 centimeter.

Kelurahan Karangasem, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, misalnya menjadi kawasan terparah. Permukiman di sisi timur Sungai Welang ini selalu diterjang luapan air sungai yang mengalir snagat deras dari hulu. Tanggul sungai yang rendah dan sebagian ambrol sejak beberapa bulan lalu menjadi pintu masuk derasnya aliran air sungai. “Banjir ini sudah yang keempat kali dalam satu tahun.

Setiap kali sungai meluap, banjir selalu menggenangi perkampungan,” kata Solikin, warga setempat. Bagi warga, banjir seperti itu sudah biasa. Mereka pun terbiasa mengungsi dan tidur di trotoar jalan ketika air sudah memenuhi rumah. Namun yang mereka sesalkan, tidak ada langkah konkret yang dilakukan pemerintah untuk menangani bencana rutin itu.

“Tanggul yang jebol saja harus menunggu berbulan-bulan untuk memperbaikinya. Bahkan belum sempat dikerjakan, sudah diterjang banjir lagi,” tutur Solikin. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan, Bakti Jati Permana menyatakan, tidak ada korban jiwa atau luka dalam banjir kemarin. BPBD telah menyiagakan petugas dan relawan dengan mengirimkan bantuan makanan.

”Kami telah berkoordinasi dengan Pemprov Jatim untuk melakukan langkah antisipasi untuk mencegah timbulnya kerugian materiil yang lebih besar,” kata Bakti. Banjir meluap hingga jalan raya dengan ketinggian setengah meter meskipun tak sampai mengganggu arus lalu lintas seperti terjadi pada Juni 2016 silam.

Kendaraan masih bisa melintas dengan sangat pelan. “Jalur Pantura masih bisa dilalui. Kami menempatkan anggota untuk mengatur arus lalu lintas agar tidak terjebak ketinggian genangan air. Para pengguna jalan harus berhatihati,” kata Kapolres Pasuruan Yong Ferridjon.

24 Sekolah di Sampang Masih Diliburkan

Sementara itu, kendati ketinggiannya berkurang, air luapan Sungai Kemuning masih menggenangi sejumlah kawasan di Sampang. Tercatat dua desa dan tiga kelurahan di wilayah Kecamatan Kota masih terendam, yaitu Desa Panggung, Desa Gunung Maddah, Kelurahan Dalpenang, Rongtengah dan sebagian kawasan Kelurahan Gunung Sekar.

Kepala BPBD Kabupaten Sampang, Wisnu Hartono mengatakan air berangsur surut. Namun banjir berpotensi kembali terjadi bila hujan lebat turun karena air laut masih cukup tinggi walaupun mulai surut. Wisnu menjelaskan, ketinggian air di kawasan yang masih terendam rata-rata 1 meter. Berdasarkan pendataan, banjir selama dua hari mengakibatkan 21 ribu jiwa menjadi korban. Sebagian mereka memilih bertahan di rumah ketimbang ke pengungsian.

Hingga kemarin, 24 sekolah juga masih diliburkan mengantisipasi kemungkinan banjir susulan. Di sekolah hanya terlihat aktivitas pembersihan kelas. “Sekolah boleh meliburkan siswa atau memberikan tugas mandiri agar dikerjakan di rumah siswa masing-masing,” ujar Kabid Kurikulum dan Mutu Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang, Arif Budiansor.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Sampang sekolah yang masih terendam yaitu SDN Dalpenang 1, SDN Dalpenang 2, SDN Dalpenang3, SDN Gunung Sekar 4, SDN Gunung Sekar 5, SDN Gunung Sekar 6, SDN Rongtengah 1, SDN Rongtengah 2, SDN Rongtengah 4, SDN Karang Dalam 1, SDN Pangung 1, SDN Pangung 2, SDN Gunung Madah 3, SMPN 2, SMPN 3, SMPN6, SMP Darus Sahid, SMP Attanwir, SMP Wali Songo, SMP Abu Rasyad, dan SMA Darus Sahid, SMA Attanwir, SMKN 1, dan SMK Wali Songo.

zaki zubaidi/ arie yoenianto/ subairi/ant



Berita Lainnya...