Edisi 12-10-2016
Bambu di Bantaran Sungai Dievaluasi


KLATEN – Pemerintah Kecamatan Bayat berencana menata ulang tanaman bambu di di bantaran Sungai Dengkeng karena sering menghambat arus air saat dapuran bambu roboh dan menyangkut di tiang jembatan.

Tanaman bambu berakar se ra - but sehingga mudah roboh ketika tanah tanggul terkikis arus su ngai. “Pengalaman banjir di Bayat karena sampah bambu. Nanti kami evaluasi untuk bambu di ban taran. Tidak dihilang - kan ta pi ditata, yang terlalu menjorok ke sungai dikurangi,” kata Ca mat Bayat Edy Pur no - mo, kemarin. Sedikitnya ada delapan desa di Kecamatan Bayat, Desa Pa se - ban, Beluk, Kebon, Jothangan, Krikilan, Wiro, Tawangrejo, dan Ta lang yang dilintasi Sungai Deng keng.

Kondisi Sungai Deng - keng yang berkelok-kelok membuat warga waswas ketika hujan deras mengguyur. Sebab jika terjadi banjir arus sungai akan menghantam bantaran di bagian tikungan dan mengikis tanah. Wilayah di sekitar aliran Sungai Dengkeng rawan terkena banjir saat musim hujan. Anak sungai Bengawan Solo ini sering meluap ketika intensitas hujan tinggi dan berlangsung la ma. Derasnya arus sungai men jadi salah satu faktor pe - nye bab tanggul jebol.

Kondisi ber tambah parah jika tum puk - an sampah pohon menggunung dan tersangkut di tiang-tiang jem batan. Akibatnya arus su - ngai terhambat dan mengikis tang gul di sekitar. Guna antisipasi banjir dan tang gul jebol, masyarakat ber - sa ma relawan, TNI dan Polri mem bersihkan gunungan sampah yang tersangkut di tiang jembatan Desa Talang Ke camatan Bayat.

Aksi gotong royong dilakukan selama dua hari, 9-10 Oktober. “Sampah banyak yang tersangkut di tiang jembatan karena kebanyakan da pur an bambu yang roboh dan ma suk ke badan sungai. Bam bu-bambu ini kemudian melintang dan nyangkut , sampah lain akhirnya ikut nyangkut juga,” kata Edy. Sejak Minggu (9/10) sore, pembersihan menggunakan crane untuk memudahkan peng - angkatan sampah bambu.

Edy men jelaskan, pengang kat an sam pah dari badan sungai ti dak da pat dilakukan manual ka rena lo kasi dan kedalaman su ngai. Ter - le bih lagi volume sampah cu kup tinggi dan arus yang cukup deras. Sejak banjir Sungai Deng - keng pada 2010, sebagian pe ka - rangan milik warga Dukuh Ko - nang Desa Kebon hanyut terba - wa arus sungai.

Bahkan ada warga yang hanya memegang sertifikat saja, sedangkan tanah pe - ka rangannya telah hanyut. “Se - perti di Desa Wiro ada dua ru - mah yang mepet ke sungai. Se - mentara ini hanya memasang tiang pancang untuk antisipasi supaya tanah tidak hanyut.

Di Desa Jothangan dan Krikilan juga ada dapur rumah yang kritis, tanah di bawahnya berongga karena terkikis arus. Jadi enggak berani pakai,” kata Edy. Sebelumnya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Dae - rah (BPBD) Klaten Bambang Gi - yanto mengatakan, pihaknya se gera membentuk posko siaga bencana di empat titik yang dianggap rawan bencana.

Keempat titik tersebut yakni Kecamatan Kemalang, Kantor BPBD Klaten, Kecamatan Ca - was, dan Kecamatan Bayat. Selain banjir, Kecamatan Ba - yat juga rawan terjadi bencana longsor karena sebagian wila yah merupakan perbukitan.

“Em pat posko siaga bencana se gera di ba - ngun untuk menin dak lanjuti koordinasi dengan gu bernur be - be rapa waktu lalu. Nanti ada pe - tugas yang siaga di posko, sehingga memudahkan pemantauan dan penanganan keadaan darurat,” kata Bambang.

endah budi karyati










Berita Lainnya...