Edisi 12-10-2016
Jepang Dijatah Proyek KA Cepat Jakarta-Surabaya


JAKARTA– Kereta Api (KA) cepat Jakarta- Surabaya segera dibangun. Pemerintah Indonesia akhirnya menggandeng Jepang untuk merealisasikan proyek USD3 miliar ini.

Sesuai rencana, studi kelayakan KA Jakarta-Surabaya mulai dilakukan pada awal 2017 mendatang. Rencana tersebut terungkap saat Menko Bidang Kemaritiman Luhut B Panjaitan melaporkan hasil kunjungannya ke Jepang sejak Kamis (6/10) kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara Jakarta kemarin.

Kunjungan untuk menindaklanjuti pertemuan Presiden Jokowi dengan PM Jepang Shinzo Abe sebelumnya, yang salah satunya membahas rencana KA cepat. Sejumlah kalangan merespons positif rencana pembangunan KA cepat Jakarta-Surabaya. Dalam pandangan selain jalur KA Jakarta-Surabaya lebih layak dibandingkan jalur Jakarta- Bandung yang konsesinya sudah dipegang China, kebutuhan transportasi antarkedua kota tersebut sangat besar.

“Dan, mereka (Jepang) juga mau melakukan joint survey antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Jepang. Kemudian juga dibicarakan kerja sama lain yang inginkan supaya itu bisa terlaksana dalam waktu dekat,” kata Luhut kemarin. Luhut mengungkapkan, pemerintah ingin segera melihat hasil survei mengenai kereta api cepat Jakarta-Surabaya karena ini punya dampak ekonomi yang luar biasa. Karena itu, dia berharap jika dimungkinkan tiga bulan pertama atau paling lambat pertengahan 2017 bisa dimulai.

“Nilainya cukup besar. Saya kira bisa berkisar hampir USD2,5 sampai USD3 miliar,” ungkapnya. Selain membawa dampak ekonomi, keberadaan KA cepat akan mempersingkat perjalanan Jakarta-Surabaya. Dengan kecepatan 180-200 km per jam, waktu tempuh kedua kota terbesar di Tanah Air tersebut bisa dipersingkat menjadi sekitar 3,5 jam.

Selama ini waktu tempuh KA dicapai delapan jam. “Jalurnya akan berupa rel ganda, yang memungkinkan untuk dimanfaatkan juga guna membantu operasi angkutan peti kemas dry port antara Jakarta-Semarang-Surabaya,” katanya. Menurut dia, jalur KA cepat akan tetap menggunakan jalur Jakarta-Surabaya yang ada sekarang.

Pembangunan diarahkan untuk memperkuat bantalan dan menata jalur lintasan sebidang demi keamanan masyarakat. “Kemudian penyeberangan itu kita buat dari bawah, sehingga dengan demikian tidak ada lagi berhenti palangpalang yang menimbulkan banyak korban. Itu ada 1.000 titik kurang lebih,” ungkap Plt Menteri ESDM ini.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pemerintah sedang menunggu proposal kereta semicepat Jakarta- Surabaya dari Jepang, sebelumdiambilkeputusanterkait pembangunan infrastruktur tersebut. Proposaldimaksudtermasuk time frame pembangunan, teknis penggunaan rel, ataupun jenis kereta yang digunakan. Budi mengharapkan apabila proposal tersebut telah selesai maka studi kelayakan proyek kereta semicepat Jakarta- Surabaya bisa segera dilakukan dan pembangunan dapat dimulai dalam empat tahun mendatang.

“Feasibility study (FS) paling dua atau tiga bulan maksimal. Bersamaan itu mungkin juga akan datang FS dari Jepang. Setelah FS, perencanaan, pembangunan bisa dilakukan paling tidak tiga-empat tahun,” ujarnya. Sebelumnya, Jepang sudah bersepakat dengan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menggarap KA cepat Jakarta-Bandung. Namun seiring dengan pergantian pemerintahan, posisi Jepang yang sudah menggarap studi kelayakan digeser oleh China. Kondisi tersebut sempat membuat pemerintah Negeri Matahari Terbit tersebut kecewa.

Lebih Tepat Dibandingkan Jakarta-Bandung

Sejumlah kalangan merespons positif rencana pembangunan KA cepat Jakarta-Bandung. Anggota DPR Komisi V yang membidangi sektor transportasi, Nusyirwan Soedjono, misalnya, mengatakan bahwa pembangunan KA cepat Jakarta- Surabaya bisa memenuhi kebutuhan transportasi di Pulau Jawa dibandingkan proyek KA cepat Jakarta-Bandung.

“Proyek ini akan mampu mengalihkan pengguna angkutan dari sektor udara ke kereta api. Tujuannya kan memang supaya ada alternatif. Diharapkan nantinya masyarakat yang memilih jalur kereta cepat Jakarta-Surabaya tidak lebih dari delapan jam perjalanan, tetapi cukup empat atau lima jam saja,” ujar dia kepada KORAN SINDO. Namun, dia berharap pemerintah memikirkan penggunaan teknologi.

Pasalnya, dengan rencana pemerintah memanfaatkan jalur kereta api eksisting Jakarta-Surabaya maka hambatan utama berupa perlintasan sebidang harus dihapuskan. “Mau tidak mau pemerintah harus memikirkan bagaimana teknologinya, apakah melayang atau bagaimana. Karena ini kereta cepat atau medium ya, lintasannya harus lurus dan tanpa ada perlintasan sebidang,” ujarnya.

Adapun masalah pembiayaan, kata Nusyirwan, bisa diatasi dengan memanfaatkan alternatif dana tax amnesty melalui repatriasi. “Saya kira banyak jalan untuk mencari pembiayaan. Salah satunya tax amnesty melalui repatriasi, ya bisa saja dialihkan ke infrastruktur transportasi publik,” katanya. Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, mengatakan pembangunan KA cepat Jakarta- Surabaya sudah ada kajiannya dari Japan International Cooperation Agency (JICA) sejak 2008 silam.

Secara studi kelayakan, rute Jakarta-Surabaya dinilai lebih layak dibandingkan rute Jakarta-Bandung. “Kereta cepat Jakarta-Surabaya dapat mengalihkan pengguna pesawat terbang sehingga mengurangi lalu lintas pesawat dan mengurangi ruang udara,” kata Djoko kepada KORAN SINDO di Jakarta kemarin.

Djoko yang juga menjabat sebagai wakil ketua bidang advokasi dan riset Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menambahkan, dengan adanya kereta cepat tersebut, waktu tempuh dari Jakarta-Surabaya dan sebaliknya menjadi lebih cepat. “Ini bisa hemat waktu, sedangkan jika menggunakan transportasi darat, biasanya pada saat musim mudik banyak tersendat di pintu tol arah ke Jakarta,” imbuhnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pembangunan infrastruktur transportasi tersebut dapat memberikan multiplier efek terhadap pembangunan ekonomi daerah yang dilaluinya. Wilayah yang dilalui kereta cepat tersebut di antaranya Jakarta-Cirebon-Semarang- Surabaya. “Wilayah tersebut akan berkembang jika didukung pemerintah daerah masing- masing wilayah. Saya yakin akan berkembang jika wali kotanya cerdas memanfaatkan momentum,” tegasnya.

Namun, dia berharap pembangunan kereta cepat juga harus terpisah dan tidak boleh ada satu pun perlintasan sebidang. Pasalnya, lebar rel yang juga berbeda dengan kereta yang ada saat ini. Untuk catatan, kereta cepat Jakarta-Surabaya rencananya mempunyai kecepatan hingga 200 km per jam. “Tapi itu juga rentan, sebab kondisi rel yang eksisting juga sudah ada yang melayang. Misalnya di dalam Kota Semarang. Kalau dibuat bertingkat jalur eksisting di bawah, kemudian jalur kereta cepat di atasnya, artinya tiangnya harus kuat, dan jalurnya tidak boleh ada yang berbelok,” kata dia.

ichsan Amin/rahmat sahid/heru febrianto

Berita Lainnya...