Edisi 12-10-2016
Malang Percontohan Konvensi Sampah


MALANG– Kabupaten Malang terpilih menjadi salah satu daerah untuk proyek percontohan konvensi sampah menjadi energi.

Proyek tersebut akan dibiayai Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (UNESCAP) dan United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC). Selain Malang, proyek yang sama juga akan diterapkan di Kota Jambi. Proyek ini akan dibangun di Pasar Mantung, Kecamatan Pujon. Programme Associate UCLG ASPAC, Galih Pramono mengatakan, sebelum menetapkan Kabupaten Malang dan Kota Jambi sebagai percontohan proyek sampah menjadi energi, pihaknya telah melakukan seleksi di seluruh Indonesia.

“Hasilnya Kabupaten Malang terpilih bersama Kota Jambi yang kami pakai untuk pelaksanaan proyek percontohan,” katanya di Pendopo Agung Malang kemarin. Pemilihan dua daerah ini berdasarkan sejumlah kriteria yang diseleksi secara ketat, antara lain kelayakan lokasi (proyek) dan dukungan serta komitmen dari pemerintah daerah. Bantuan yang akan disalurkan untuk menyukseskan proyek tersebut berupa instalasi pengolahan sampah organik yang akan dikonversi menjadi energi listrik dan pupuk organik.

Galih menjelaskan, instalasi ini akan menggunakan mesin biogas antara 5-10 kW. Rencananya, instalasi waste to energy (WTE) atau sampah jadi energi ini mampu mengolah 746 ton sampah per tahun. Rinciannya, 511 ton kotoran hewan dan 235 ton sampah pasar dan pertanian. Dalamproyekinibahanbakunya diambil dari tiga desa di Kecamatan Pujon masing-masing DesaNgroto, PujonLor, danDesa Pandesari. Ketiga desa ini diklaim bisa memproduksi 6 ton kotoran hewan setiap hari.

“Dengan kapasitas ini, kami yakin akan memenuhi kebutuhan per harinyahinggatigakali,” ujarnya. Hasilnya, instalasi ini mampu membuat kompos 0,75 ton per hari ini akan menghasilkan daya listrik diperkirakan mencapai2.555kWhperbulan. Jumlah tersebut lebih tinggi dari konsumsi listrik di pasar Mantung dan sekitarnya, yang diperkirakan 2.166 kWh per bulan.

Alternatif lainnya, biogas yang dihasilkan bisa dijadikan bahan bakar untuk memasak rumah tangga sekitarnya. Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Romdhoni mengatakan, PasarMantungdipilih karena setiap hari menghasilkan banyak sampah sisa sayur. Selain itu, Pasar Mantung juga dekat dengan lokasi peternakan sapi yang juga akan menjadi bahan baku, berdasarkan survei yang dilakukan 2015. “Proyek ini seluruhnya dibiayai UNESCAP dan UCLG ASPAC.

Sementara pemkab bertugas menyediakan lahan yang akan digunakan lokasi proyek,” ucapnya. Romdhoni mengaku proyek ini akan didirikan di atas lahan yang telah dibebaskan seluas 900 meter persegi untuk pembangunan instalasi, termasuk pengondisian masalah lingkungan. Menurutnya, survei lokasi dilakukan konsultan independen. Sebelumnya, pihaknya justru menawarkan lokasi di Ngantang. Penunjukan lokasi ini karena dekat dengan peternakan sapi perah.

Pemkab Malang sebenarnya telah memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Desa Mulyo Agung, Kecamatan Dau, TPA Talang Agung, dan pengolahan sampah di Ngantang. Proyek ini memiliki instalasi yang lebih lengkap. Karena selain mengolah sampah menjadi gas dan pupuk organik, juga menghasilkan energi listrik untuk warga di sekitarnya.

yosef naiobe








Berita Lainnya...