Edisi 12-10-2016
Pedagang Pasar Ikan Keluhkan Fasilitas


SURABAYA – Puluhan pedagang ikan hias di pasar hobi Gunungsari, siang kemarin, wadul ke Komisi B DPRD Surabaya.

Mereka mengeluhkan fasilitas pasar yang dianggap terbatas, terutama mengenai ketersediaan listrik dan genset. Pedagang mengaku listrik di Pasar Ikan Gunungsari sering mati. Akibatnya, banyak ikan pedagang yang mati. Ini karena mesin pemasok oksigen yang menggunakan energi listrik tidak dapat difungsikan. Lebih kesal lagi, cadangan genset juga tidak berfungsi maksimal.

”Banyak ikan kami yang mati setiap lampu padam. Kondisi ini juga diperburuk dengan genset yang tidak berfungsi maksimal. Ini kanmerugikan kami makanya kami datang ke sini meminta fasilitas itu diperbaiki,” kata Irfansyah, salah seorang pedagang saat rapat dengar pendapat (hearing) dengan DPRD, kemarin. Irfansyah menganggap, fasilitas yang diberikan Pemkot Surabaya untuk pedagang Pasar Ikan Gunungsari belum maksimal.

Karena itu, mereka pun berharap kepada Pemkot Surabaya untuk mengevaluasi dan memperbaiki kinerja. “Kenerja UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) lamban sekali. Kalau listrik sering padam, mestinya mesin gensetnya ditambah. Sehingga, begitu listrik padam, langsung bisa tertangani dengan cepat. Jangan kok dibiarkan. Sebab, yang rugi pedagang,” katanya.

Keluhan tersebut direspon positif Komisi B DPRD Surabaya. Saat itu, para wakil rakyat ini meminta kepada Pemkot Surabaya untuk memfasilitasi para pedagang Pasar Ikan dengan baik. Meski begitu, mereka juga meminta komitmen para pedagang untuk mengikuti peraturan yang ditetapkan di Pasar Ikan selama ini. “Nanti biar dinas terkait memberikan fasilitas dan ruang untuk para pedagang, serta dinas juga berupaya melakukan pembinaan terkait usaha perikanan ini.

Tetapi bapak-bapak ini (pedagang ikan) juga harus mengikuti aturan yang ada,” tegas Ketua Komisi B DPRD Surabaya Mazlan Mansur kemarin. Selain itu, pihaknya juga memberikan masukan kepada Pemkot Surabaya untuk bekerja sama dengan instansi lain terkait permodalan dan koperasi. Mazlan Mansyur juga berpesan kepada para pedagang supaya menjalin komunikasi dengan baik kepada dinas terkait.

“Komunikasi itu harus dijalin dan dijaga supaya terciptanya sinergitas antara pedagang dengan Dinas Pemkot,” imbaunya. Anggota Komisi B Erwin Tjahyuadi juga meminta kepada para pedagang untuk berbenah. Misalnya dengan berpenampilan menarik dan menjaga kebersihan stan. Hal itu untuk menghindari kesan kumuh selama ini. “Banyak pembeli yang mengeluh pasar kumuh. Ini kan tidak bagus.

Maka jangan hanya menuntut Pemkot untuk memberi fasilitas bagus sementara pedagang sendiri tidak mau berbenah. Saya yakin, kalau pasar bersih dan pedagang ramah dan tampil menarik, pasar akan ramai,” tuturnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kota Surabaya Joestamadji mengatakan, selama ini pihaknya telah berusaha untuk memaksimalkan genset yang ada. Bila sering terjadi masalah lampu padam, hal itu merupakan wewenang dari PLN (Perusahaan Listrik Negara) dan bukan menjadi wewenang Pemkot Surabaya.

Dia juga menduga bahwa daya tampung genset yang tidak bisa mengatasi seluruh saluran listrik di Pasar Ikan karena daya yang ada melebihi kapasitas. Joestamadji menyampaikan, persoalan listrik padam sejatinya sudah terjadi sejak tahun lalu. Bahkan, pihaknya sudah menyiapkan genset untuk mengantisipasi problem tersebut.

Walaupun hanya satu, namun, jumlah tersebut menurutnya sudah sesuai dengan kapasitas yang ada. “Kalau ternyata masih tidak mampu, itu karena penggunaan yang berlebih,” kata Joestamadji balik menuding. Karena itu, ke depan, Pemkot Surabaya melalui Dinas Pertanian akan menerapkan token listrik. Harapannya untuk memonitor penggunaan listrik berlebih.

Selain itu, pemkot juga akan menerapkan sistem absen untuk para pedagang. “Ini penting untuk penataan. Sebab saat ini banyak kios di Pasar Ikan Gunungsari yang berpindah tangan. Dari jumlah 158 kios, hanya 23 kios yang ditempat sendiri.

Sementara sisanya sebanyak 75 kios telah dipindah tangankan. Ini kan tidak benar,” ungkapnya. Penataan ini, kata Joestamadji, penting untuk transparansi sehingga Pemkot Surabaya mengetahui mana kios yang masih digunakan sendiri oleh pemilik dan mana yang telah dipindahtangankan kepada orang lain.

ihya’ ulumuddin

Berita Lainnya...