Edisi 12-10-2016
Penutupan PG Bisa Ancam Petani Tebu


JEMBER – Ketua Dewan Pembina Asosiasi petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum mensinyalir penutupan sepuluh Pabrik Gula (PG) oleh Kementerian BUMN untuk melegitimasi impor gula.

Selain itu, penutupan PG akan mematikan operasional petani tebu yang ujung-ujungnya produksi gula nasional menurun drastis. Hal itu disampaikan Arum sesudah menerima informasi penutupan sepuluh PG melalui pesan singkat. “Kami perlu mengklarifikasi hal ini kepada Kementerian BUMN. Sebab penutupan sepuluh PG ini akan mematikan petani tebu,” kata Arum.

Hal tersebut dikarenakan, biaya yang dikeluarkan petani semakin tinggi karena harus mencari PG di daerah lain. Akibatnya, petani enggan menanam tebu sehingga produksi gula nasional akan menurun drastis. Arum melanjutkan, alasan pemerintah menutup sepuluh PG karena dianggap tidak efisien sangat tidak masuk akal.

“Sebab, ada PG baru yang lahannya belum jelas dan randemennya juga tidak lebih bagus dari sepuluh PG yang akan ditutup justru didorong oleh pemerintah. Yang lebih mengherankan, pemerintah memberi izin impor raw sugar secara besar-besaran kepada PG baru itu,” katanya.

Sementara sepuluh PG yang bahan bakunya berasal dari tebu petani justru dimatikan. Arum menduga, pemerintah tengah berupaya mematikan produksi gula nasional untuk melegitimasi impor gula. “Jika penutupan sepuluh PG itu benar adanya, kami menegaskan APTRI akan melakukan penyikapan. Bukan hanya gerakan petani tebu melainkan juga karyawan sepuluh PG yang ditutup tersebut,” ucapnya.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, sepuluh PG yang akan ditutup itu di antaranya PG Panji, PG Olean, PG Wringin Anom, PG Rejosari, PG Purwodadi, PG, Toelangan, dan PG Watoetoelis. PTPN XI juga akan membenahi sejumlah pabrik. Ke depan, skala kapasitas PG dan efisiensi ditingkatkan. Konsekuensinya, jumlah PG berkurang. Tapi, kapasitasnya akan bertambah besar.

Jika skala kapasitas PG kecil, biaya investasi dan pemeliharaannya tidak jauh berbeda dengan PG berskala besar. Direncanakan, sampai 2019, jumlah PG di PTPN XI menjadi sembilan unit dari sekarang 16 unit. Salah satu rencana yakni peningkatan kapasitas PG Asembagus dan Jatiroto yang memakan dana PMN Rp650 miliar. Dana lebih dari setengah triliun rupiah itu nanti terbagi menjadi Rp250 miliar untuk PG Asembagus Situbondo dan Rp400 miliar untuk PG Jatiroto Lumajang.

p juliatmoko



Berita Lainnya...